Agustinus: Saat Pandemi Orang Kaya Bertambah Kaya, Sementara Presiden Cukup Lempar Sembako Untuk Orang Miskin

[Catatan Agustinus Edy Kristianto]

Selama pandemi, saya fokus mengamati dua hal: angka kematian dan apa yang dilakukan High-Net-Worth Individual (HNWI)/kalangan tajir. Itu jendela saya melihat kenyataan tentang kematian dan kehidupan.

Beberapa fakta cukup menarik. 

Jumlah penduduk dengan kekayaan bersih di atas US$1 juta (Rp14 miliar) di Indonesia sebanyak 171.740, naik 61,69% dari 2019 (Credit Suisse).

Pemesanan jet pribadi melonjak selama pandemi. Menurut Direktur PT Indojet Sarana Aviasi Stefanus Gandi, kenaikannya 25% selama PPKM. Sebelumnya rata-rata 4-6 kali penerbangan/bulan, kini melonjak 7-8 kali (CNBC, 22 Juli 2021).

Simpanan deposito di bank besar makin gemuk. Bank besar menguasai pasar simpanan maupun pinjaman. Kelompok bank BUKU 4 menguasai 50% deposito perbankan dengan total Rp1.389,16 triliun per Agustus 2020 (Kontan, 15 November 2020).

Saham Bank Jago (ARTO) naik 300% lebih dari awal tahun (3.575-14.425 penutupan hari ini). Kapitalisasi pasarnya Rp210 triliun. Aset Rp10,1 triliun. Dengan Gojek menjadi investor strategis pada Desember 2020. Di mana Gojek sendiri mendapat suntikan Rp6,4 triliun dari Telkomsel (bahan public expose 8 September 2021).

Saham DCII (Anthoni Salim) naik 8.000% lebih sejak meluncur perdana 6 Januari 2021 (525) hingga hari ini (ditutup 42.825). 

Saham MARI/Mahaka Radio, emitennya Menteri BUMN Erick Thohir, bangun tidur dari jalur gocap pada 8 Desember 2020 dan hari ini sudah naik 900% lebih, ditutup 565. Ramai berita, Northstar Group (Patrick Walujo, investor Gojek) akan masuk menjadi investor. Hati-hati, sell on news!

Statista memprediksi pada 2020 jumlah ultra HNWI di Indonesia 630 orang (kekayaan bersih di atas US$30 juta/Rp420 miliar) akan naik menjadi 1.130 orang pada 2025. Pada tahun itu juga setidaknya akan ada 21 ribu miliuner di Indonesia. 

The Conversation dalam "Why Indonesia should raise the income tax of the ultra-rich individuals" (11 Mei 2021) mendorong kenaikan pajak bagi orang kaya dan superkaya sebagai langkah mengatasi growing wealth vs inequality. Pajak, katanya, adalah alat ampuh untuk mengurangi ketidakadilan dan meredistribusi sumber daya dari yang kaya kepada yang miskin.

Di China, belakangan ini marak istilah dorongan terhadap "common prosperity". Bloomberg (6 September 2021) menulis itu bukan cuma memajaki orang kaya/superkaya tapi mengarahkan langsung distribusi sumber daya ke pedesaan dan kelompok berpenghasilan lemah. Ini diungkapkan Li Shi, profesor ekonomi di Zhejiang University yang dijuluki "Mr. Chinese income distribution". Dia melihat 5 tahun terakhir kesenjangan pendapatan melebar yang salah satunya dipicu kuat oleh kenaikan kekayaan dari spekulasi sektor teknologi dan finansial, dan ternyata pajak saja gagal mengatasi ketimpangan.

Anda bisa simpulkan tren pandemi ini: orang kaya bertambah kaya. Sumber daya ekonomi tetap berputar di lingkaran kecil kalangan tertentu. Pertumbuhan kekayaan ditopang sektor non-riil yang bertumpu pada spekulasi pasar. 

Kekuasaan/jabatan politik dan silsilah tetap mempengaruhi lebarnya ketimpangan ekonomi (siapa berkuasa dan keturunan kaya tetap akan berkuasa dan kaya). Soal silsilah tak bisa dipungkiri. Di Amerika juga begitu (Generational Wealth), 10% populasi memegang 76% kekayaan negara, dengan 50% terbawah hanya menguasai 1%. Alasan utama kenapa begitu adalah kesenjangan transfer kekayaan dari generasi ke generasi. Di India, anda bisa tonton kisah Harshad Mehta dalam serial Scam 1992. Silsilah sangat mempengaruhi perputaran kapital. 

Saya bukan aliran yang serampangan berpandangan killing the rich. Saya pernah berbicara dengan seorang eksekutif grup konglomerat di Indonesia soal ini. Dia akui bahwa di masa lalu ada yang salah dalam cara pandang tentang bisnis, keadilan, dan kemiskinan. Tapi saat ini grupnya itu mulai berubah pandangan untuk memikirkan soal BERBAGI. Untuk berbagi harus ada yang dibagi. Kalau dapat Rp1.000, kita berbagi Rp200. It's ok!
Kepada Presiden, pejabat, politisi dan sejenisnya, kita sulit berharap banyak untuk pemecahan masalah ini. Sudah digaji negara, mereka pun masih ngobyek dalam pusaran permainan itu untuk memenuhi ongkos politik dan lifestyle. 

Ekonomi kita dibuat begitu tergantung pada skema lingkaran setan itu. Presiden begitu sempit berpikir semua selesai dengan bansos dan infrastruktur. Dia seolah tidak peduli pada akar ketidakadilan itu. Saya duga, kekuasaan yang diperolehnya saat ini juga tidak terlepas dari kontribusi para pelaku skema ketidakadilan itu. 

Yang paling menjengkelkan adalah upaya menutupi akar masalah dengan publikasi dan gerakan buzzer. Kita disuguhi hal-hal permukaan. Kita dialihkan pada perseteruan-perseteruan tidak penting di antara sesama anak bangsa (macam cebong-kampret dsb), padahal di balik itu ada yang sedang bermain mengakumulasi kekayaan. Memutar dana perbankan, dana asuransi sosial, dana BUMN, dana pensiun, dana penyertaan modal negara untuk kepentingan profit kelompok tertentu. 

Kita tidak memerlukan seluruh Indonesia menyadari hal ini. Tapi beberapa orang terbangun dari ilusi saja sudah cukup bagus. 

Jika akar ketidakadilan tidak diatasi dan penguasa/pejabat malah makin rajin korupsi dan berselingkuh dengan kekuasaan modal, tidak lama lagi sesuatu yang buruk akan terjadi terhadap bangsa ini. 

Kehancuran yang sesungguhnya. 

Tak hanya depresi ekonomi tapi depresi moral. 

Salam.