Ternyata "TALIBAN" Pernah Berjuang Belawan Penjajahan di Indonesia

Ternyata "TALIBAN" Pernah Berjuang Belawan Penjajahan di Indonesia

Oleh: Azwar Siregar

Saya kurang paham masalah Taliban Afganisatan. Tapi saya yakin, para Pembenci Taliban di Negeri ini juga sama-sama tidak paham.

Para Buzzer Pendukung Rezim Pemerintah sekarang membenci Taliban hanya berdasarkan hasutan dan fitnahan.

Gosip Talibanisasi di KPK yang menghantam sekelompok Pegawai KPK yang justru terkenal sangat berintegritas ikut membuat nama Taliban begitu buruk dimata para Buzzer dan Pendukung Rezim Pak Jokowi.

Tapi saya kira bukan hanya Taliban. Semua Kelompok yang dianggap "agak kekanan" di Rezim Penguasa sekarang memang banyak yang diberangus.

Kalau kembali kepada teori air dan minyak, setiap unsur yang berbeda pasti tidak bisa menyatu. Jadi kalau misalnya Kelompok "agak kekanan" diberangus, bisa saja karena yang berkuasa sekarang adalah Kelompok "agak kekiri".

Sama misalnya ketika di masa Rezim Pak Harto. Diawal-awal beliau berkuasa, beliau adalah Nasionalis Kapitalis. Akibatnya kelompok "agak kekanan" dan kelompok "agak kekiri" habis beliau gilas.

Syukurnya, dimasa menjelang akhir beliau berkuasa, beliau mulai berubah arah jadi Nasionalis Religius. 

Kembali ke cerita Taliban. 

Apa iya benar "Taliban" pernah ikut berjuang di dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Saya jawab "pernah". Tapi tentu saja yang saya maksud bukan Taliban Afganistan yang banyak mirip-mirip Salman Khan. 

Talibannya adalah Taliban Lokal. Rata-rata berkulit sawo matang dan berhidung pesek (Kalau dibandingkan hidung Penjajah Belanda). 
Makanya saya gunakan tanda kutip.

Iya, Talibannya adalah Taliban Nusantara atau biasa kita sebut santri. Karena Pelajar Agama di Nusantara kita sebut santri (berasal dari kata cantrik = Bahasa Sanskerta yang artinya orang yang belajar Kitab Suci). 

Sedangkan di Afganistan mereka sebut Taliban. 
Baik bahasa Pastun maupun bahasa Arab artinya sama-sama Murid atau Pelajar.

Jadi di Jaman Perang Kemerdekaan, para santri dibawah pimpinan para Kyai juga mengangkat senjata melawan Penjajah. 

Sebut saja KH Hasyim Asyari, KH Zainal Mustafa dari Singaparna, KH Amin, Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah, dan masih banyak yang lainnya.

Alhamdulillah, tahun 1945 kita merdeka. Tapi Afganistan masih terus berjuang melawan penjajah asing di Negaranya (Uni Sovyet dan terakhir invasi Amerika dan Sekutunya).

Jadi kalau para Taliban atau Santri versi Afganistan berjuang melawan penjajah di Negara mereka sendiri, apa masalahnya?

Kenapa sekelompok orang di Negeri ini begitu membenci Pejuang Asing yang berjuang di Negerinya sendiri.

Stoplah kebodohan yang akut ini !

Ok. Dalam beberapa hal saya juga tidak sepakat dengan Taliban Afganistan. Sebut saja pengekangan mereka terhadap Perempuan di Negaranya.

Tapi inikan berkaitan juga dengan budaya. Karena budaya Indonesia pasti berbeda dengan budaya Afganistan.

Saya kasih sedikit pencerahan. 
Di Afganistan dan umumnya budaya Timur Tengah mereka sangat menghormati dan menghargai perempuan mereka dengan cara dan budaya mereka. Misalnya membuat wanita lebih banyak dirumah.

Bagi kita di Indonesia atau Eropa hal ini kelihatannya adalah semacam pelanggaran hak asasi perempuan. 

Tapi bagi mereka, justru kita yang melanggar kemuliaan Perempuan. 
Misalnya dengan dalih kebebasan dan persamaan hak, Perempuan juga dipaksa ikut mencari nafkah. Bahkan tidak jarang menjadi Pencari Nafkah Utama di Keluarga. Sampai-sampai banyak Perempuan kita yang terpaksa jadi TKW ke Negara asing.

Nah pertanyaannya, apakah pernah melihat Perempuan Afganistan jadi TKW di Malaysia, Taiwan atau di Saudi?

Tidak. Karena di Budaya Afganistan, Perempuan mereka adalah harga diri Keluarga. Tidak boleh jadi TKW ke Negeri asing karena nanti bisa saja dilecehkan.

Semua laki-laki di Afganistan bertanggung jawab terhadap nafkah saudari-saudari mereka. 
Kalau misalnya sudah menikah, maka semua laki-laki keluarga pihak suami juga ikut bertanggung jawab.

Coba bandingkan dengan budaya di Negara kita?

Jadi maksud saya, kita jangan sampai menuduh atau melabeli Bangsa Asing (Taliban Afganistan) jadi barbar berdasarkan sudut pandang budaya kita.

Apalagi sampai menggunakan hal tersebut untuk menakut-nakuti, mengancam, dan menebar ketakutan kepada rakyat kita sendiri.

Padahalkan masalah utamanya cuma perbedaan dukungan politik. Faktanya, sampai sekarang masalah terbesar di Negara kita adalah Korupsi. Tapi kenapa kita selalu dialihkan dengan ribut-ribut tentang gerakan  fundamentalis dan ektrimis. 

Ingat, jaman Perang Kemerdekaan, Belanda juga menjuluki para Santri dan Pejuang Kemerdekaan kita sebagai kelompok ekstrimis.

Atau jangan-jangan kalian keturunan Penjajah Belanda yang tidak diakui? 

Jualannya kok itu-itu aja!

(fb)