Taliban Nan Spartan

Taliban Nan Spartan

Oleh: Dr. Nandang Burhanudin 

(1) Kaum sendal jepit, terbelakang, anti modernitas, skripturalis, pengayom terorisme global, begitulah Taliban dijuluki. Namun kini dunia harus menelan pil pahit, gerakan Taliban yang hanya 60.000 an prajurit, mampu menghentikan agresi USA, bertahan dalam perang 20 tahun. 

(2) Bush Jr, di awal invasi terhadap Afghanistan beralasan, AS terpanggil untuk melumat Taliban yang dituduh memberi perlindungan terhadap Ben Laden dan Al-Qaida. Tentu setelah tragede WTC 2001, yang kemudian diakui tak lebih dari trik AS menginvasi Afghanistan. 

(3) 2.5 Trillion dollar, ribuan prajurit AS terbunuh, namun Taliban tetap spartan. 90 Milyar dollar, dana yang digelontorkan AS untuk membangun militer Afghanistan dan memberlakukan Demokrasi, sama sekali tidak membuahkan hasil. 

(4) AS hanya bisa menyelenggarakan Pemilu. Tapi rezim yang dipilih tak lebih dari boneka yang telah terpatri spirit McD, Coca Cola, Statbucks. Mereka orang Afghan, tapi sudah memiliki dwi kewarganegaraan. Lazimnya WN dari dunia ketiga, yang diserap dari AS bukan kemajuan hightech, demokrasi berkeadilan-berkesejahteraan, supremasi hukum, tapi hanya sekedar gaya "koboi", hedon, dan selebritas. 

(5) Michael Stenger, seorang kolumnis AS, menyebutkan sebab kemenangan Taliban adalah, karena mereka terbebas dari tontonan Hollywood. Tidak menonton Rambo, Superman, Wonder Woman, The Magnificant Seven. Keluguan inilah yang membuat mentalitas Taliban terpelihara. Mereka tidak menjadi korban propaganda dan hoax di Facebook, Twitter, atau Whatsapp. Natural, orisinil, dan tidak tersentuh westernisasi. 

(6) Taliban hanya mengulang sejarah, bahwa Afghanistan adalah kuburan bagi seluruh imperium lalim. Mongol gagal menginvasi. Inggris Raya hanya bertahan tiga tahun. Uni Soviet bubar usai, 11 tahun ringkih di Afghanistan dan AS pun hanya 20 tahun saja. Mengapa bisa demikian? 

(7) Taliban dibackup suku Fustun, suku utama dan mayoritas Afghanistan. Jadilah Taliban yang konon 20 tahun lalu akan dilumat, sejak era Trump diajak menjabat tangan. Lalu tak lama kemudian, AS menyerahkan mandat.

(8) AS sadar, tak ada manfaat lagi jika harus bertempur 4-10 tahun ke depan. Lebih baik menjadi SATPAM bagi rezim-rezim Teluk nan kaya dan manja. Lalu berhadapan dengan rakyat Arab yang semakin hedon, borju, flamboyan dan kurang nalar. (*)

Baca juga :