Taliban Deklarasikan Negara Baru Bernama 'Imarah Islam Afghanistan'

[PORTAL-ISLAM.ID]  KABUL - Taliban secara resmi mendeklarasikan nama negara baru untuk Afghanistan bernama "Imarah Islam Afghanistan" atau "Islamic Emirate of Afghanistan" (bahasa Pashto: د افغانستان اسلامي امارات, Da Afghanistan Islami Amarat) pada hari Kamis, 19 Agustus 2021.

Deklarasi ini bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Afghanistan.

Hari Kemerdekaan Afganistan dirayakan pada tanggal 19 Agustus untuk mengenang Perjanjian Inggris-Afganistan 1919 yang mengakhiri Perang Inggris-Afganistan Ketiga sekaligus mengakhiri status Afganistan sebagai protektorat Britania. Sebelumnya, Afganistan menjadi protektorat Britania setelah mengalami kekalahan dalam Perang Inggris-Afganistan Kedua. 

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mendeklarasikan Imarah Islam Afghanistan dalam sebuah tweet dengan foto logo negara tersebut.

"Deklarasi Imarah Islam Afghanistan pada kesempatan peringatan 102 tahun kemerdekaan negara ini dari kekuasaan Inggris," tulis Zabihullah Mujahid di akun Twitternya @Zabehulah_M33, Kamis (19/8/2021).

Imarah Islam Afghanistan sebenarnya nama negara yang sama saat Afghanistan berada di bawah kekuasaan Taliban antara tahun 1996 hingga 2001, sebelum kelompok itu digulingkan oleh pasukan sekutu NATO pimpinan AS setelah serangan 11 September 2001 atau serangan 9/11 di AS.

Zabihullah Mujahid, dalam tweet terpisah, mengatakan Imarah Islam Afghanistan menginginkan hubungan diplomatik dan perdagangan yang lebih baik dengan semua negara.

Taliban juga menepis rumor tentang hubungan dagang yang sudah terjalin dengan China atau negara lain.

"Imarah Islam menginginkan hubungan diplomatik dan perdagangan yang baik dengan semua negara. (Saat ini) Kami belum berbicara tentang melakukan perdagangan dengan negara mana pun. Kami menolak rumor yang tidak benar," kata Zabihullah Mujahid.

Taliban juga menegaskan tidak menolak negara manapun.

"Imarah Islam menginginkan hubungan diplomatik dan perdagangan yang lebih baik dengan semua negara. Kami belum mengatakan tidak tentang berdagang dengan negara mana pun. Desas-desus yang telah menyebar tentang ini tidak benar dan kami menolaknya," twit Zabihullah Mujahid.