Rachland Nashidik Sindir Moeldoko, Dengarkanlah Ini Nasehat Tata Krama dari Sang Pembegal Partai

[PORTAL-ISLAM.ID]  Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik menanggapi pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang meminta agar kritik kepada pemerintah disampaikan dengan cara yang lebih beradab.

Rachland membagikan tautan berita Tempo.co berjudul “Mural 404: Not Found Dihapus, Moeldoko: Jangan Sembarangan Menggambar”.

“Dengarkan ini. Nasehat tata krama dari begal partai. Orang yang tak malu mengaku sebagai Ketua Partai, meski gagal bikin kongres abal-abal dan klaimnya ditolak pemerintah,” kata Rachland, dikutip dari akun Twitter pribadinya, @rachlannashidik, Kamis (19/8).

Moeldoko mendapat kecaman dari sejumlah kalangan setelah dia melaksanakan Kongres Partai Luar Biasa (KLB) Demokrat beberapa waktu lalu.

Dalam kingres yang dilaksanakan Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) itu, Moeldoko dipilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Gara-gara kongres tersebut, Moeldoko dianggap mengkhiatani Susilo Bambang Yudhono (SBY) yang pernah mengangkatnya sebagai Panglima TNI.

“Orang yang mengkhianati seniornya sendiri yang memberinya bintang dan mengangkat karirnya ke puncak,” cetus Rachland.

Sebelumnya, Moeldoko mengatakan kritik merupakan hal lumrah dalam suatu pemerintahan, termasuk di antaranya menggunakan mural.

Meski begitu, Moeldoko meminta kritik disampaikan dengan cara yang lebih beradab.

“Karena apa pun, Presiden adalah orang tua kita, yang perlu sekali dan sangat perlu untuk kita hormati. Jangan sembarangan berbicara, jangan sembarangan menyatakan sesuatu dalam bentuk kalimat atau dalam bentuk gambar,” kata Moeldoko Rabu (18/8).

Moeldoko menyebut Presiden Joko Widodo sangat terbuka dan tak pernah pusing dengan kritik.

Namun Jokowi juga selalu mengingatkan sebagai orang Timur, Indonesia memiliki adat. Ia mengatakan tata krama dan ukuran-ukuran budaya supaya di kedepankan.

Moeldoko juga mengatakan saat ini kritik dengan fitnah seringkali tak bisa dibedakan pemerintah. Apalagi, kata dia, banyak tokoh yang justru hanya memperkeruh situasi.

“Saya sering mengatakan setelah itu minta maaf. Ini apa bangsa ini? Berbuat sesuatu, ada tindakan, minta maaf. Ini sungguh sangat tidak baik. Mestinya bangsa yang pandai adalah bangsa yang berpikir dulu sebelum bertindak sesuatu,” kata Moeldoko.

Ia pun meminta masyarakat tak serta merta menganggap pemanggilan polisi terhadap orang yang membuat kritik sebagai tindakan represif.

Menurutnya bisa saja penangkapan itu hanya sebatas untuk membina mereka.

“Jadi jangan dijustifikasi represif dan seterusnya. Ini kan sekarang kita melihat hanya kulitnya, bukan dalamnya,” tandas Moeldoko.[pojoksatu]