Laptop Nadiem

Catatan Agustinus Edy Kristianto:

Mungkin, kesalahan mendasar kita adalah menilai terlalu tinggi mutu Mendikbud Nadiem Makarim. 

Harapan digantung di Pluto, kenyataan ambruk di Cipedak. Sangat biasa-biasa saja.

Saya sudah berpikir itu sejak detik pertama Mendikbud dilantik. Bisa lihat status saya pada saat itu. Jadi saya tidak heran ada program pembelian laptop saat ini.

Kritik terhadap pengadaan dan harga sudah banyak. Bisa Anda Googling. Namun saya mau konsisten dengan kritik saya terdahulu. Apa misi (niat mulia) pendidikan yang mau dicapai? Manusia utuh seperti apa yang mau dibentuk? Nilai peradaban apa yang bisa naik dengan pemanfaatan teknologi?

Menu yang disajikan ternyata slogan #MerdekaBelajar, bayar SPP lewat Gopay, dan pengadaan laptop. Untuk yang terakhir, menarik kita simak pendapat pemerhati pendidikan dari Vox Point Indonesia Indra Charismiadji (Kompas, 2 Agustus 2021): 

"Laptop bagian dari infrastruktur, bagaimana dengan infostruktur dan infokulturnya? Kalau tidak disiapkan bisa sama seperti kegagalan program negara lain, seperti Malaysia dan Thailand, yang lebih MEMENTINGKAN proyeknya daripada nilai manfaatnya."

Waktu ramai SPP Gopay, mari simak argumen Mendikbud yang juga berkilah ia telah melepas semua kewenangannya di Gojek/Gopay. "Itu murni inovasi perusahaan dalam memenuhi persaingan pasar."

Betul, Mendikbud bukan lagi pengurus perseroan (direksi dan komisaris). Tapi ia pemegang saham PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Akta 29 Mei 2021). Ia pegang Seri E (58.342 lembar), Seri I (64), dan Seri D (10). PT itu menjadi pengendali Gopay.

Kalau mau persaingan pasar dan inovasi murni, jangan jadi pejabat, bos!

Kembali ke laptop, terus mau apa? KPK selama Presidennya masih yang sekarang, berat untuk berani usut 'proyek negara' begini. Pengawasan dari lembaga lain seperti BPK, entahlah. Kita lihat saja nanti.

Mau debat soal harga Rp10 juta/unit yang kemahalan? Percuma. Pikiran Kemendibud begini: "... MISAL DIKASIH 100, yah nggak boleh lebih dari 100."

Artinya apa? Bujetnya sudah ada. Harus dihabiskan. Kalau kemahalan, ya nego ke vendor, naikkan speknya atau dibuat bagaimana lah bagusnya. 

Bayangkan, masa depan pendidikan anak-anak kita diserahkan sama orang-orang yang begitu pikirannya. 

Cara berpikir kita saja yang diubah. 

Mendirikan Gojek bukan berarti bisa memimpin perubahan teknologi yang sesungguhnya di dunia pendidikan. Orang pasar tetaplah orang pasar. Pikirannya pasar

Pejabat macam itu berpikir bagaimana jabatan dipakai untuk membentuk demand tertentu. Ada demand, ada supply. 

Kita bisa berspekulasi apapun tapi satu yang pasti PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX) mendapatkan tambahan pendapatan Rp700 miliar. Itu lebih besar 5 kali lipat dari ekuitas ZYRX (per 31 Maret 2021). Jika ikut hitungan komisi Prakerja yang 15% saja, ia sudah dapat marjin Rp105 miliar.

Yang jelas untung banyak adalah pengendali perusahaan (PT Binexcom Mandiri Buana dan Timothy Siddik, pemiliknya).

Itu berarti kampanye ZYRX #SiswaTOP (Satu Siswa Satu Laptop) yang diluncurkan tahun lalu sukses. Berarti dia 'menangkap' pikiran market Mendikbud sejak dilantik. Itu berarti menangkap dengan tepat pikiran Menko Marives yang katanya mau bendung impor laptop.

Kita saja yang keliru berpikir akan ada revolusi pendidikan berbasis IT di bawah kepemimpinan Mendikbud.

Nanti akan ada ekstensi jualan. Bisa cicil laptop pakai kartu kredit atau dompet digital, melobi perusahaan untuk CSR laptop. 

Gopay yang profit. Aplikasi Karya Anak Bangsa yang untung. Dapat poin kredit sebelum IPO.

Itu bisnis semua. Cuma yang keluar di masyarakat adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dengan sumber daya manusia unggul yang melek, cakap, bijak menyikapi teknologi. 

Ini macam menggaungkan aplikasi karya anak bangsa, tapi yang untung investor asing (hedge fund dkk) pemegang saham GoTo. 

Di bawah orang-orang semacam itu, pendidikan seolah merosot jadi urusan konsultan opini publik.

Ganti menteri-menteri yang pikirannya bisnis. Kalau tidak bisa, apa mungkin presidennya perlu diganti dulu? (Dengan cara konstitusional tentunya. Bukan makar). Sebab sepaket pikiran pasarnya. 

Bedanya, yang kedua terlihat seolah-olah baik dan 'merakyat'.

Itulah petakanya negara ini. 

Kita itu masih dalam tahap #BelajarMerdeka. Merdeka dari cengkeraman kapitalis-birokrat yang menguasai negara ini. 

Salam Laptop.

02/08/2021

(Agustinus Edy Kristianto)