Kebanyakan Makan Micin Istana? Faldo Logikanya Jadi Linglung!

KEBANYAKAN MAKAN MICIN ISTANA? FALDO LOGIKANYA JADI LINGLUNG!

Oleh: Ahmad Khozinudin (Advokat Muslim)

"Jadi, mural itu, ga salah. Kalau ada ijinnya. Kalau tidak, berarti melawan hukum, berarti sewenang-wenang". [Faldo Maldini, 13/8/2021]

Hihihihi, Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Bidang Komunikasi Faldo Maldini ikut baper mengomentari Mural Jokowi 402 not found. Dia menyatakan pembuatan mural harus mengantongi izin. Jika tidak, itu merupakan perbuatan yang melanggar hukum.

Bahkan, Faldo menyebut itu sebagai tindakan sewenang-wenang. MasyaAllah, keren sekali ujarannya. Biasanya, yang sewenang-wenang itu yang punya kewenangan. 

Misalnya, aparat tidak boleh sewenang-wenang meskipun punya kewenangan. Presiden tidak boleh sewenang-wenang meskipun punya kewenangan. Anggota DPR tidak boleh sewenang-wenang meskipun punya kewenangan. Dst.

Lah, kalau rakyat biasa, dimana letak sewenang-wenangnya? Kalau itu terkait Mural, andai mural itu tidak terkait Jokowi pasti tidak diapa-apain. Buktinya, yang ditutup cat hitam hanya yang terkait Jokowi, mural lainnya dibiarkan.

Harusnya, kalau masalahnya izin semuanya dihapus bukan hanya yang gambar Jokowi. Lagipula, tidak ada deklarasi itu gambar Jokowi, mirip saja.

Tak ada pula tulisan Jokowi. Jadi, mestinya Faldo tidak usah baper sampai menuding sewenang-wenang. Beda, kalau Mural itu bertuliskan "Jokowi 402 not found".

Tapi kalaupun iya, Faldo tak usah Baper. Yang not found, yang eror, itu bisa ditafsirkan sebagai kritik terhadap Jokowi dengan bahasa semiotik. Dulu Faldo sebelum masuk istana juga gemar mengkritik. Kenapa sekarang jadi baper dan anti kritik?

Apa mungkin Faldo kebanyakan makan micin istana yang lezat? sehingga, tidak peka dan tidak lagi merasakan penderitaan dan jeritan rakyat? atau Faldo jadi ikut ikutan error? sehingga 'Not Found', tidak ditemukan lagi bersama rakyat.

Itu ga ada pidananya, saya sudah ulas di tulisan lain. Itu hanya wujud kreativitas anak bangsa, jangan dibungkam.

Andaikan, mural itu tertulis 'Jokowi Oye' atau 'Jokowi Yess!' atau bahkan 'Jokowi tiga periode', apa mungkin masih ada narasi sewenang-wenang? 

Boleh jadi, istana malah ikut memoles narasi Mural dengan menyatakan itu suara nurani rakyat yang mencintai Jokowi sekaligus punya aspirasi ingin kembali dipimpin Jokowi. Bahkan, akan banyak pernyataan yang meminta segenap rakyat menghargai aspirasi dan perbedaan sebagai sesuatu yang dijamin konstitusi.
Orang konsisten itu terlihat dari omongan dan tindakannya. Jadi, kalau ada yang mengkritisi rezim hati-hati. Jangan-jangan cuma dijadikan sarana agar dapat mencicipi micin istana.

Kepada segenap rakyat, khususnya umat Islam, pilihlah pemimpin, rujukan, idola, yang benar-benar jujur memperjuangkan rakyat, bukan kritis demi jabatan. Gampang melihat karakteristik mereka yang pragmatis dan cari muka.

Cek Track Record, dialami pemikiran yang diusung. Siapapun akan dapat membedakan mana pejuang sejati, mana yang hanya cari materi.

Kepada Faldo Maldini, coba tolong minum air putih dulu. Sepertinya, anda sedang kebanyakan micin sehingga logika yang anda sampaikan seperti orang meracau.(*)