JOE BIDEN, JAKARTA TENGGELAM

TENGGELAM

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

America sneezes the world catches flu. Amerika Serikat bersin, dunia demam. 

Begitu adagium terkenal yang menggambarkana digdayanya Amerika.

Biasanya, adagium itu dikaitkan dengan masalah eknonomi dunia. Setiap kali ada perubahan kebijakan ekonomi di Amerika, seluruh dunia akan merasakan dampaknya.

Setiap saat Federal Reserve, bank sentral Amerika membuat kebijakan baru, seluruh dunia pasti deg-degan mengantisipasi.

Setiap kali Federal Reserve akan menurunkan atau menaikkan suku bunga, seantero dunia pada H2C (harap-harap cemas) menghadapi risikonya.

Kali ini Amerika bukan bersin, tetapi batuk-batuk keras. Namun, kali ini batuknya cuma diarahkan kepada Indonesia.

Presiden Joe Biden, beberapa hari yang lalu, memprediski bahwa Jakarta akan tenggelam dalam sepuluh tahun ke depan.

Kalau Biden mengatakan bahwa sepuluh tahun ke depan ekonomi dunia akan kolaps, tentu seluruh dunia bakal panik.

Pasar saham di seluruh jagat, mulai dari New York, Tokyo, Hong Kong, Jakarta, pasti akan kalang kabut, karena pernyataan seperti itu memang selalu membawa dampak yang sangat kuat.

Karena itu seorang presiden Amerika tidak pernah, atau tidak boleh bicara sembarangan, karena pengaruhnya bisa bikin dunia tunggang langgang.

Namun, karena kali ini Biden hanya bicara tentang Indonesia, maka di level internasional dampaknya biasa-biasa saja.

Respons pemerintah Indonesia pun terkesan biasa-biasa saja. Yang banyak bereaksi hanya di level politisi DKI Jakarta. Media juga lumayan mengekspose kasus ini, tetapi yang muncul hanya pernyataan pro dan kontra saja.

Belum ada komentar dari politisi nasional, atau dari pimpinan nasional mengenai kasus ini. Politisi nasional yang sudah berkomentar adalah Megawati Soekarnoputri.

Dia mengatakan bahwa semasa dia menjadi wapres dia sudah bicara mengenai isu ini, tapi tidak ada respons memadai.

Prediksi Biden ini tidak bisa dianggap remeh. Prediksi ini tentu didukung dengan data dan fakta yang sudah dipersiapkan dengan teliti. Terlepas bahwa Biden sering salah omong dan kadang terserang pikun ringan, pernyataan ini tidak boleh dianggap sebagai angin lalu.

Prediksi Biden ini juga diperkuat dengan pernyataan Badan Antariksa Amerika, NASA, yang juga sudah terlebih dahulu mengajukan prediksi serupa.

Eksploitasi air tanah yang berlebihan, naiknya permukaan air laut, beban infrastruktur yang makin berat, dan kenaikan jumlah penduduk ibu kota yang berlipat ganda, menjadi faktor utama yang membuat Jakarta akan tenggelam.

Biden menyatakan bahwa karena itu ibu kota harus dipindahkan ke tempat baru. Seolah-olah dengan pindah ke ibu kota baru persoalan akan selesai.

Pernyataan inilah yang memunculkan tanda tanya mengenai konsistensi pernyataan Biden. Memindahkan ibu kota tidak serta merta menyelesaikan masalah, karena ada jutaan orang yang tetap tenggelam kalau dibiarkan tertinggal di Jakarta.

Isu lingkungan memang tidak menjadi isu mainstream dalam politik Indonesia. Para politisi lebih sibuk berdebat soal isu-isu jangka pendek, seperti suksesi 2024.

Poltisi pada sibuk memasang baliho dan billboard untuk meningkatkan popularitas, daripada berbicara mengenai isu strategis jangka panjang.

Perdebatan wacana yang berkualitas hampir tidak pernah muncul di ruang publik, baik di media mainstream maupun di media sosial.

Kalau Jokowi selip lidah mengenai bipang ambawang, atau bingung membedakan muazin dan bilal, media sosial dan media mainstream akan riuh rendah berdebat berhari-hari, saling hujat saling caci maki.

Namun, giliran ada isu strategis, perdebatan yang muncul tidak memberi perspektif dan tidak mencerahkan.

Isu-isu strategis lingkungan seperti banjir, akan menjadi perdebatan ingar bingar, tetapi sebatas saling serang dan saling menjatuhkan. Biasanya, isu banjir akan dipakai untuk menyerang Anies Baswedan sebagai penguasa ibu kota.

Perdebatan yang berkembang lebih banyak debat kusir daripada perdebatan yang mencerahkan dan melibatkan adu wacana yang konstruktif.

Proyek pindah ibu kota ke Kalimantan diperdebatkan bukan karena isu lingkungan, tetapi lebih banyak dikaitkan dengan isu nepotisme politik dan politik pencitraan.

Proyek pemindahan ibu kota itu lebih dianggap sebagai proyek mercusuar, ketimbang proyek jangka panjang dengan wawasan lingkungan yang jelas.

Tentu saja para pemimpin bangsa sekarang tengah fokus sepenuhnya memikirkan penyelesaian pandemi, yang belum kunjung menampakkan tanda-tanda mereda.

Namun, isu lingkungan tetap tidak bisa dianggap sebagai catatan kaki yang bisa diselesaikan belakangan sambil jalan.

Pendiri Microsoft Bill Gates memperingatkan bahwa setelah pandemi Covid-19, bencana berikutnya yang akan menyerang umat manusia akan terkait dengan perubahan iklim dan bio-terorisme.

Dalam video yang diunggah Februari 2021, Gates ditanya mengenai pernyataannya pada 2015 yang memprediksi kedatangan pandemi global seperti sekarang.

Gates ditanya mengapa tidak cukup banyak yang dilakukan untuk bersiap menghadapi sesuatu yang mematikan seperti pandemi, padahal ia sudah memperingatkan jauh-jauh hari.

Gates menjawab, ada gempa bumi kecil sepanjang waktu, kebakaran, dan angin topan, tetapi pandemi ini datang secara tidak teratur dan tiba-tiba, sehingga orang terbuai dalam rasa aman. 

Hal ini, kata dia, hampir seolah-olah tidak akan datang dalam beberapa tahun ke depan sehingga orang-orang tak merasa perlu bersiaga untuk antisipasi.

Pada 2015 Gates menjelaskan, jika ada yang membunuh lebih dari sepuluh juta orang dalam beberapa dekade mendatang, kemungkinan besar itu adalah virus yang sangat menular, bukan perang.

Saat itu, dia mengatakan bahwa dunia tidak siap untuk menghadapi epidemi berikutnya.

Kegagalan mempersiapkan diri, dapat membuat epidemi berikutnya secara dramatis lebih menghancurkan daripada Ebola. Itu prediksi Gates enam tahun yang lalu.

Bill Gates ditanya, jika tidak ada pandemi lagi selama 100 tahun ke depan, apa bencana besar berikutnya yang umat manusia sekarang belum melakukan antisipasi. Gates menyebutkan perubahan iklim dan bio-terorisme.

Ketika sekarang prediksi Gates menjadi kenyataan, dia dituduh sebagai perekayasa pandemi. Alih-alih prediksinya didengarkan, dia malah dituduh menciptakan virus untuk menangguk untung dengan menyiapkan vaksin dan memperdagangkannya.

Sekarang, dia memprediksi bahwa bencana besar berikutnya adalah bencana lingkungan karena perubahan iklim. Dia tidak berbicara spesifik mengenai Jakarta, tetapi peringatannya sangat perlu didengar karena sudah terbukti akurasinya.

Prediksi Biden soal Jakarta yang tenggelam dalam sepuluh tahun, harus dilihat dalam konteks yang sama dengan prediksi Bill Gates. Harus segera diambil langkah serius sebelum segalanya terlambat. (*)

*Sumber: JPNN