Bu Mega, Ini Ada Usul dari Penulis Ternama Tere Liye, Lomba Menulis BPIP Temanya "Dimana Harun Masiku", Oke Banget Kan?

[PORTAL-ISLAM.ID]  Penulis ternama Tere Liye turut menyoroti lomba menulis yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Badan yang Dewan Pengarahnya diketuai oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri itu kembali mendapat sorotan luas karena tema lomba menulis dalam rangka peringatan Hari Santri itu dinilai membentur-bentukan antara Islam dan Pancasila.

Tema Lomba Menulis BPIP inilah yang dikritik oleh Tere Liye.

"Ayolah, masa' lomba menulis Hari Santri temanya: 'Hormat Bendera Menurut Hukum Islam'. 'Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam'. Itu sudah clear sekali, apalagi yang harus ditulis?" kata Tere Liye di akun facebooknya, Sabtu (14/8/2021).

"Seharusnya sih, untuk level BPIP, yang adalah lembaga negara, tema lomba menulis itu bisa dibuat lebih oke dan menarik. Lebih 'kebangsaan' gitu loh. Lebih 'strhatehis', lebih 'imphorthan', lebih 'uhrjhen', gitu loh, nendang," lanjut penulis novel Negeri Para Bedebah itu.

Tere Liye pun tidak cuma bisa mengkritik doang, tapi juga langsung memberi solusi tema lomba menulis yang lebih menarik dan penting.

"Nah, apa tema lomba yang menarik? Saya kasih beberapa ide," kata Tere Liye.

Ada 7 tema lomba menulis yang diusulkan Tere Liye:

1. Strategi santri melawan korupsi
2. Kenapa Kementerian Agama itu dikenal sebagai salah-satu kementerian paling korup?
3. Kemana Harun Masiku?
4. Bagaimana partai itu selalu lepas tangan saat kadernya korupsi
5. Cara agar bansos itu tidak dikorupsi oleh kader parpol
6. Cara mengatasi BLT tidak salah sasaran
7. Cara bertahan hidup bagi UKM saat pandemi dll, dsbgnya

"Lebih seru toh? Dan jelas lebih bermanfaat. Peserta lombanya juga akan tertantang sekali menulisnya," ujar Tere Liye.

"Karena bukan apa-apa, BPIP ini kan menggunakan anggaran negara, lomba ini juga pakai uang negara, masa' lomba se-elit begini, topiknya receh sekali. Apa lagi yang harus dianalisis dari hormat bendera dalam hukum Islam? Hukumnya boleh. Selesai," ungkapnya.

"Nah, jika soal strategi melawan korupsi, itu baru seru dianalisis. Apalagi jika betulan temanya: Harun Masiku ada di mana? Wah, seru-seru ini analisisnya. Jangan keliru, Harun masiku itu juga relevan bagi santri. Karena santri ini jelas benci koruptor, tukang suap, dkk. Itu urusan santri juga," tegas Tere Liye.

NAH.. Gimana Bu Mega, usul Tere Liye ini oke banget kan?