60% Orang Prancis Tidak Mau Divaksin

[PORTAL-ISLAM.ID] Data dari IMF menunjukan sekitar 10-20% orang di Inggris hingga 50% di Jepang dan 60% di Prancis enggan divaksin.

Padahal penelitian menunjukan vaksin Covid-19 mampu menyelamatkan nyawa.

Sudah tak ada keraguan lagi: vaksin Covid-19 menyelamatkan banyak nyawa. Mari kita lihat beberapa statistik dari Inggris baru-baru ini.

Dalam satu studi yang memantau kinerja vaksin di lebih dari 200.000 orang, hampir semua peserta mengembangkan antibodi melawan virus Covid-19 dalam dua pekan pertama setelah dosis kedua mereka.

Meskipun sempat ada kekhawatiran bahwa vaksin yang ada saat ini kurang efektif melawan varian Delta, analisis menunjukkan bahwa vaksin AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech mengurangi tingkat hospitalisasi sebanyak 92-96%.

Seperti yang sering dikatakan banyak praktisi kesehatan, risiko efek samping yang parah dari vaksin sangat kecil dibandingkan risiko penyakit itu sendiri.

Di balik banyak hasil penelitian yang dilakukan, ternyata masih ada cukup banyak orang yang enggan untuk disuntik .

Menurut laporan terbaru oleh Dana Moneter Internasional (IMF), jumlahnya berkisar 10-20% orang di Inggris hingga sekitar 50% di Jepang dan 60% di Prancis.

Keengganan itu telah memicu semacam perang budaya di media sosial, dengan banyak komentator di dunia maya mengeklaim bahwa orang-orang yang meragukan vaksin alias vaccine hesitant adalah bodoh atau egois.

Namun para psikolog kesehatan berpendapat pilihan ini seringkali merupakan akibat dari banyak faktor yang kompleks dan perlu ditanggapi secara sensitif, jika kita masih berharap untuk mencapai kekebalan yang menyeluruh.

Membuka dialog

Mohammad Razai dari Population Health Research Institute, St George's, University of London, menulis tentang berbagai faktor psikologi dan sosial yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan orang seputar vaksin.

Tidak ada solusi mudah, namun otoritas kesehatan dapat terus memberikan informasi yang akurat dan mudah dipahami yang menyentuh kekhawatiran di masyarakat.

Menurut laporan terbaru dari Institute of Global Health Innovation (IGHI) Imperial College London, dua kekhawatiran terbesar yang menghalangi pasien untuk menerima vaksin adalah terkait dengan efek samping dan rasa takut bahwa vaksin belum melalui proses uji yang memadai.

Bagi kelompok pertama, grafik yang menunjukkan risiko relatif dari vaksin dibandingkan dengan penyakit sebenarnya dapat memberikan konteks.

Bagi kelompok kedua, Razai berpendapat bahwa kita perlu lebih banyak mengedukasi tentang sejarah pengembangan vaksin.

Penggunaan vaksin mRNA telah dipelajari selama puluhan tahun, misalnya - dengan proses uji yang panjang untuk memastikan keamanannya. Ini berarti teknik ini dapat dengan cepat diadaptasi untuk pandemi Covid-19.

"Tidak ada teknologi berbahaya yang digunakan karena kami telah menggunakannya di area lain kesehatan dan penelitian," kata Razai.

Sarah Jones, peneliti yang turut memimpin laporan IGHI, berpendapat bahwa pendekatan spesifik yang menyasar kelompok tertentu diperlukan.

"Saya sarankan agar pemerintah berhenti berpikir bahwa mereka dapat menjangkau kelompok masyarakat yang berbeda-beda di luar sana dengan pesan yang sama, dan bekerja lebih kreatif dengan banyak mitra komunikasi yang efektif," ujarnya.

Langkah ini dapat meliputi kolaborasi yang lebih dekat dengan sosok berpengaruh yang menjadi panutan di setiap komunitas, ujarnya, yang dapat memberikan "informasi yang konsisten dan akurat" tentang risiko vaksin dan manfaatnya.

Cara apapun yang mereka pilih untuk menyampaikan informasi, layanan kesehatan perlu menunjukkan dengan jelas bahwa mereka siap berdialog, kata Razai - alih-alih menolak untuk mendengarkan mereka begitu saja.

"Kita harus mendengarkan kekhawatiran orang-orang, mengakuinya, dan memberi mereka informasi supaya mereka dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi."

Saleska setuju bahwa penting untuk menjalin percakapan dua arah - dan kita semua dapat belajar melakukannya ketika membicarakan isu ini dengan kawan-kawan dan keluarga.

"Tetap menghormati dan mengakui kekhawatiran mereka - saya pikir itu sebenarnya bisa lebih penting daripada sekadar mendikte fakta atau angka statistik," ungkapnya. "Seringkali, hubungan personal lebih penting daripada informasi yang sebenarnya Anda berikan."

(Sumber: BBC)