Statuta Persilatan

Sehat di negara yang sehat itu mudah.

Sehat di negara yang sakit itu mewah.

Mari kita nikmati kemewahan ini.


PENDEKAR Sastrajendra dan Pendekar Bra dua-duanya sehat. Mereka dalam pertarungan. Mereka hanya terkapar penuh luka. Sastra dengan luka-luka yang cemerlang oleh kilau mentari telentang di bawah akasia. Namun, pendekar bangkotan itu tak mengerang. Wajahnya hanya tampak menahan sakit. Itu membuatnya malah tampak muda.

Bra. Biasanya anak muda ini menggelung rambutnya di atas. Sekarang ia menggerainya. Rambut terurainya berpilin-pilin basah oleh darah. Kuyup dan memerah. Angin dari pantai tak kuasa meriap-riapkannya bagai bendera dan menambah gagahnya. Ia pun telentang. Sama, walau tak di bawah akasia. Telentangnya di atas batuan besar berlumut.

Di kancah pertarungan itu tenda-tenda dari dedaunan, kulit pohon, dan binatang kosong melompong. Orang-orang pada menebar di luar. Selama hampir 40 hari 40 malam mereka menonton pertarungan antarpendekar ini. Jangan salah, di antara mereka ada tokoh-tokoh penting seperti Keledai Parthai, anak Pendekar Pasti Pas, Pendekar Pedang Meleleh… Masih banyak lagi. Pendekar Elang Langlang Jagad yang sedianya hadir belum tiba.

Katakanlah sekarang ini sedang rehat, namun mereka tak berteduh dulu di tenda. Mereka tak sabar menunggu kelanjutannya. Tak mau kecolongan menonton awal lanjutan pertarungan kalau-kalau salah satu pendekar tiba-tiba bangkit mengawali serangan.

***

Di bawah akasia yang rindang, Tingting Jahe mengalun dalam tarikan napas Sastrajendra yang kadang tersengal-sengal. Tingting Jahe mengalun di hatinya. Perempuan yang dicintai Sastra sejak lama, sejak ia belum tahu namanya dan cuma menyebutnya Perawan Tingting Bakul Kedai, itu seperti beralun-alun di benaknya seiring keluar-masuk napasnya.

Di atas batuan besar berlumut bagai beludru, Tingting Bocah mengalir dalam helaan napas Bra yang kadang tersendat-sendat. Tingting Bocah mengalir di hatinya. Perempuan yang dicintai Bra sejak lama, sebenarnya sejak ia masih memadu kasih dengan Tingting Jahe yang sudah seperti bulek Tingting Bocah sendiri, itu seperti membesar dan mengecil di relung hati Bra seiring mengembung dan mengempisnya pernapasan diafragma.

Seorang pendekar. Ia duduk di sebelah keledai keemasan berambut pelangi, Keledai Parthai, mengendus gelagat kurang elok. Cucu Sang Pembentur Agung ini beberapa kali mencoel Keledai Parthai agar mengawasi Batari Rektoruwi, pendekar perempuan dari persekutuan utara.

”Rektoruwi kelihatannya ingin mengobati Pendekar Bra,” bisik Cucu Sang Pembentur Agung.

”Mana mungkin?” keledai yang akrab dipanggil Thai itu menukas. ”Aturan pertempuran sudah jelas dituangkan dalam statuta. Siapa pun dilarang memberi pertolongan pada pendekar yang sedang bertarung.”

”Tapi, Batari Rektoruwi ini dikenal punya jaringan luas di kalangan oligarki persekutuan utara dan persekutuan selatan. Jarang-jarang ada tokoh bisa merangkul dua persekutuan. Batari Rektoruwi ini bisa saja berjalan ke batu besar berlumut itu, mengobati Bra.”

”Mana mungkin? Bisa dipancung dia. Melanggar statuta.”

”Tidak, Thai! Statutanya akan diubah oleh yang Mbaurekso kawasan Cadas Pantai ini. Nantinya Batari Rektoruwi tidak melanggar statuta yang sudah direvisi itu.”

”Mana mungkin? Waktu rehat ini pendek. Tidak akan sampai berhari-hari… Mana mungkin penguasa kawasan bisa merevisi statuta secepat ini?”

”Mungkin! Penguasa akan ditekan oleh Batari Rektoruwi. Andil Rektoruwi dan jaringannya ini luar biaswa besar saat dulu menjadikan orang itu sebagai penguasa kawasan ini, Thai.”

Thai yang mengajar Sastrajendra Jurus Berlian Muaaaatamu mengheningkan cipta, menerawang masa depan. Tampak seorang rektor mundur dari jabatan rangkapnya walau statuta revisian sudah tak lagi melarang perangkapan. Mulut keledai itu berkomat-kamit. Sudah. Sekarang, siapa pun yang akan mendekati Bra di seputar batu berlumut itu begitu mendekat akan berjalan mundur bagai seorang rektor dari jabatan rangkapnya, menjauh, berkat mantra Thai.

Sebenarnya, cucu Sang Pembentur Agung itu punya alasan untuk lebih condong membela Bra. Toh dia pula di pulau bau mayat yang tak langsung membantu Bra untuk mencuri Kitab Mas Elon, kitab yang kandungan jurus-jurusnya lebih unggul ketimbang Jurus Berlian Muaaatamu. Mungkin karena selama hampir 40 hari 40 malam ini ia diam-diam melihat Tingting Bocah dan Tingting Jahe lebih menaruh perhatian kepada Pendekar Bra.

***

Pendekar Elang Langlang Jagad, induk kandung Tingting Bocah, baru saja menginjakkan kakinya ke kawasan tarung ini ketika pertarungan sudah selesai. Sampyuh. Pendekar Bra dan Pendekar Sastrajendra sama-sama gugurnya. ”Mereka seperti ular piton bergumul dengan ular kobra. Satunya mati kena bisa, satunya mati kena lilitan,” Keledai Parthai menunduk mendengar ungkapan spontan pendekar muda bercaping entah dari mana.

Debur ombak mengempas karang yang berulang-ulang di kejauhan seakan menjadi rekuiem untuk kedua jenazah.

”Bocah!” Pendengar Elang Langlang Jagad memanggil putri kandungnya. Saat Bocah menghampirinya, ia tersenyum dan mengelus perut Bocah. ”Jaga dan besarkan anak Pendekar Bra itu, Anakku! Dia bersama anak Sastra dari rahim Jahe ini akan mengawali babak baru dunia persilatan yang sehat, di negara yang sedang sakit.” (*)

SUJIWO TEJO
Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers