Rektor Ibnu Chaldun: Buzzer yang Nyerang Anies Dapat Perintah dari Kakak Pembina

[PORTAL-ISLAM.ID] Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Dr. Musni Umar mengatakan, tingginya kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta menjadikan amunisi untuk para buzzer dan haters menyerang Anies Baswedan.

“Isi serangan, Anies tidak bisa kerja, hanya tepat jadi jubir (juru bicara),” ujar Musni Umar, Ahad (4/7/2021).

Dia menilai, setidaknya ada 3 alasannya kenapa buzzer begitu agresif menyerang Anies. Yakin, atas perintah kakak pembina, cari simpati pemerintah dan untuk membuat citra Anies buruk.

“Untuk mendapatkan uang dari kakak pembina. Untuk mencari simpati agar diberi jabatan, misalnya sebagai bos BUMN. Untuk menjelekkan Anies dihadapan rakyat Indonesia dengan harapan peluangnya untuk maju sebagai Calon Presiden 2024 pupus,” kata Musni Umar.

Profesor Sosiologis ini mengatakan bahwa menjelekkan Anies Baswedan merupakan jalan untuk mencari simpati pemerintah untuk mendapat jabatan di BUMN.

“Menjelekkan Anies untuk mencari simpati ke istana agar ditunjuk menjadi komisaris BUMN belum mendapat perhatian karena secara akademik tidak layak–hanya tamat SLA yang tidak jelas dimana, dan tidak memiliki kepakaran apapun,” sindir Musni Umar.

Selain itu, untuk menghambat Anies maju ke pemilihan Presiden 2024. Faktanya, kata Musni Umar, semua hasil survei yang dilakukan berbagai lembaga, selalu menempatkan Anies pada posisi tiga besar. Bahkan tidak sedikit lembaga yang menempatkan Anies dengan elektabilitas tertinggi. 

Kasus Covid-19 di DKI Jakarta

Terkait tingginya kasus Covid-19 di DKI Jakarta, Musni Umar mengungkapkan secara sosiologis, setidaknya 5 penyebab: 

Pertama, Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi pintu gerbang pertama, warga negara asing (WNA) masuk ke Indonesia. Konsekuensinya Covid-19 dari negara lain seperti dari China, India masuk ke DKI Jakarta.

Kedua, DKI Jakarta sebagai ibu kota negara, tidak mungkin melarang kedatangan para pejabat dan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka yang datang ke DKI Jakarta tidak tertutup kemungkinan mereka menularkan wabah Covid-19 ke masyarakat DKI Jakarta.

ketiga, para pekerja di DKI Jakarta, sangat banyak yang tinggal di Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang. Mereka tiap hari pada umumnya menggunakan kendaraan umum, yang sangat berpotensi menjadi klaster penyebaran Covid-19.

Keempat, DKI Jakarta sebagai pusat bisnis, pusat pemerintahan, pusat pertarungan politik dan pusat segalanya, sangat tinggi kegiatan dan mobilitas masyarakat, sehingga mudah terjadi persinggungan dikalangan masyarakat, yang menyebabkan terjadi klaster baru Covid-19.

Kelima, di DKI Jakarta tertinggi di seluruh Indonesia dalam melakukan tracing (pelacakan) dan testing warga yang terindikasi Covid-19. Ini juga menjadi salah satu sebab tingginya jumlah warga yang terdeteksi Covid-19.(ArahJaya)