Mengapa Sudah Ada Vaksin untuk Covid, Tapi Belum Ada untuk TBC?

Mengapa sudah ada vaksin untuk Covid, tapi belum ada untuk TBC?

Oleh: dr. Rahadi Widodo

Just info ya, satu tahun sejak Juli 2020 hingga hari ini saya sudah merawat ratusan pasien Covid 19, dan faktanya, saya belum pernah bertemu pasien yang sama yang harus saya rawat lagi karena terkena Covid yang kedua kalinya. 

Ini berbeda dengan pasien TBC. Saya punya pasien yang pernah dua kali, bahkan ada yang tiga kali saya rawat lagi, karena TBC-nya kambuh lagi setelah dinyatakan sembuh. 

Padahal jumlah seluruh pasien TBC saya selama 7 tahun jadi Dokter Paru tidak sebanyak pasien Covid 19 yang saya rawat selama 1 tahun terakhir saja. 

Jadi beda, ya. Maka ada hipotesis bahwa setelah sembuh dari Covid 19 akan timbul kekebalan terhadap penyakit ini. Inilah salah satunya yang mendasari pemberian Terapi Plasma Konvalesen. Yaitu memberikan plasma penyintas Covid yang sudah mengandung kekebalan kepada pasien Covid berat yang sedang sakit. 

Ini juga yang memicu penelitian untuk membuat vaksin Covid. Banyak lembaga di berbagai negara maju melakukannya, sehingga saat ini ada beberapa merk vaksin Covid 19 yang sudah diproduksi massal. 

Dulu sekali, nenek moyang kita yang mengalami masa-masa kelam pandemi cacar juga memperhatikan, bahwa orang yang terjangkit penyakit cacar tapi beruntung selamat, ternyata tidak ada yang terkena cacar untuk kedua kalinya. Tapi sayangnya, selain mereka yang beruntung ini banyak juga yang tidak beruntung, mati sebagai korban wabah cacar. Maka harus dicari cara agar bisa timbul kekebalan tanpa melewati proses seleksi alamiah penyakit yang mematikan ini.

Dan juga, nenek moyang kita memperhatikan, orang yang tertular cacar sapi (jenis cacar yang lebih ringan) ternyata juga menjadi kebal terhadap penyakit cacar yang berat. Ini umum terjadi pada pekerja pemerah susu yang tertular cacar dari sapi-sapi di peternakannya. Sangat jarang pemerah susu sapi yang meninggal karena cacar.

Dari sinilah kemudian muncul ide untuk menorehkan nanah dari cacar sapi kepada manusia untuk membuatnya jadi kebal terhadap penyakit cacar yang lebih berat. Hanya karena keterbatasan teknologi pada masa itu, perlu waktu panjang sebelum akhirnya Edward Jenner menemukan metode vaksinasi cacar yang lebih aman dan efektif di tahun 1840. 

Generasi sekarang perlu berterimakasih kepada para ilmuwan dan relawan yang bersedia divaksin di awal-awal percobaan masa itu. Berkat ketekunan dan keberanian mereka, kita tidak perlu lagi mengalami wabah penyakit mengerikan. Dunia sudah dinyatakan bebas cacar sejak tahun 1979. 

Kini, teknologi kedokteran dan biologi molekular sudah jauh berkembang lebih maju dibanding masa-masa Edward Jenner. Maka ketika terjadi pandemi penyakit baru, Covid 19, para ilmuwan sudah lebih siap untuk membuat vaksinnya. 

Kalau kita pasrah pada proses seleksi alamiah dari penyakit Covid ini, memang banyak yang sembuh, tapi yang mati juga akan banyak. 

Dan nyawa manusia tidak sekedar angka. Tiap-tiap nyawa berharga, maka harus dicari cara untuk memberikan kekebalan pada umat manusia tanpa melalui proses alami penyakit. Caranya? Vaksinasi.

Memang tidak semua penyakit bisa diatasi melalui teori kekebalan dengan cara memberikan vaksin. Contohnya TBC, ini penyakit yang sudah tercatat dari jaman Mesir kuno hingga sekarang belum berhasil dimusnahkan dari muka bumi. Orang yang sudah pernah kena TBC tidak menjadi kebal, bahkan bisa kambuh lagi. Bisa kena lagi. 

Walaupun vaksinnya belum berhasil dikembangkan, di sisi lain pengobatan untuk penyakit TBC terus berkembang. Ada temuan-temuan baru OAT (Obat Anti Tuberculosis) yang sekarang digunakan. Uniknya, semakin maju pengobatan, semakin banyak juga ditemukan kuman TBC yang resisten (tidak mempan) terhadap pengobatan, sehingga perlu terus dikembangkan obat-obat baru. 

Demikianlah, melawan Covid 19 dan melawan TBC adalah medan perang yang berbeda, tapi sensasinya sama. Di Covid 19 kita berperang bersenjatakan vaksin, tapi varian virus baru terus bermunculan karena terjadi mutasi. 

Di TBC kita berperang bersenjatakan OAT, tapi varian kuman baru yang kebal obat juga terus muncul. 

Sebagaimana mengobati TBC kita tidak bisa menunggu obat baru yang sempurna 100% (belum tahu kapan ditemukan), sekarang kita obati TBC dengan obat-obat yang ada sesuai standar terapi terkini yang dibuat para ahli, dan para ahli terus melakukan review berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah terbaru. 

Demikian juga melawan Covid 19, kita tidak bisa menunggu obat dan vaksin yang sempurna 100%. Bisa terlanjur banyak korban berjatuhan. Sekarang kita vaksinasi orang yang sehat, dan kita obati orang yang sakit, berdasarkan standar terapi terkini yang dibuat oleh para ahli. Dan para ahli terus melakukan review berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah terbaru. 

Tidak usah heran kalau ada obat yang awalnya tercantum dalam standar terapi, kemudian tidak tercantum lagi. Itu tidak ngawur. Semua ada penjelasan ilmiahnya. 

Btw, bagi yang sudah pernah sembuh dari Covid 19, jangan dulu merasa punya "ilmu kebal" ya. Ini penyakit baru, studinya belum cukup untuk menggali segala misterinya. Seberapa tingkat kekebalannya, belum sepenuhnya jelas. Jadi tetap, lindungi diri dengan masker, jaga jarak, dan hindari kerumunan, walaupun sudah berstatus penyintas dan sudah mendapat vaksinasi.

Nyatanya ada orang yang bisa 2x kena positif Covid. Contohnya Bu Gubernur. Juga Atta Halilintar. Sudah pernah positif, eh positif lagi.

Atta Halilintar siapa sih? 

Ya Ndak Tahu... Kok Tanya Saya?!  

[fb]