Kenapa Petugas Pemerintah Masih Menyemprotkan Disinfektan di Jalanan? Ternyata Jawabannya Terkait Sila Kelima

Anda sering melihat petugas pemerintah menyemprotkan disinfektan di jalanan kampung?

Kita yang awam urusan pandemi, tapi rajin menyimak para ahli, minimal paham bahwa jalanan kampung itu bukan tempat penularan COVID-19. Siapa coba yang bakal mendekatkan muka ke permukaan jalan? Kalau lantai masjid/musalla, itu memang potensial jadi sarana penularan, kalau orang sujud langsung ke lantai itu tanpa menggunakan sajadah pribadi.

Pertanyaannya: mengapa jalanan kampung masih juga disemprot? Menurut saya jawabannya sama seperti mengapa di pertigaan/perempatan kampung sering ada tugu, yang kadang malah mengganggu lalu-lintas. 

Mengapa? Jawabannya: tugu dan semprotan disinfektan di jalanan kampung itu adalah cara membelanjakan uang yang paling adil dan merata bagi semua kalangan.

Sekarang bayangkan Anda adalah kepala kampung, atau kepala dusun atau kepala desa, atau camat. Dengan anggaran yang terbatas, apa yang akan Anda lakukan untuk warga?

Jika Anda membangun kandang bersama, Anda hanya menguntungkan para peternak. Bagaimana para pedagang? Jika Anda membangun kios bersama, Anda hanya menguntungkan para pedagang. Bagaimana para petani? Jika Anda membangun saluran irigasi, Anda hanya menguntungkan petani. Bagaimana yang PNS? 

Pusing? Makanya Anda bangun tugu saja. Adil. Sama-sama tak bermanfaat bagi peternak, pedagang, petani atau PNS. 

Begitu juga jika Anda punya anggaran terbatas untuk melakukan sanitasi wilayah. Mau mensanitasi rumah mereka yang sedang isoman, Anda bingung bagaimana caranya. Mau mensanitasi rumah mereka yang tak terjangkit, jumlahnya banyak. Mau mansanitasi masjid, sensitip cak. Nanti Anda dianggap menuduh masjid sebagai tempat penularan.

Makanya Anda semprot saja jalan raya. Adil. Sama-sama tak bermanfaat bagi yang isoman maupun yang tak terjangkit.

Itulah cara Anda menerapkan sila kelima tentang keadilan sosial. Gitu kok masih ada yang menuduh Anda tidak Pancasilais.

Gimana sih...

(Abdul Gaffar Karim)