HARMOKO

HARMOKO

Pada zamannya, Pak Harto pernah punya dua orang "juru bicara" pemerintah dengan karakter penampilan publik yang saling bertolak belakang. Pertama, adalah Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono, yang saat bicara mewakili pemerintah serta presiden sangat berhati-hati, pelan, sehingga tak sedikit yang menyalahpahaminya sebagai, maaf, orang bodoh. Kesan negatif itu tentu saja keliru. 

Sebab, gaya bicara sebenarnya Pak Moer sebenarnya adalah blak-blakan dan penuh canda. Ia hanya bicara pelan dan sangat hati-hati ketika menyampaikan pernyataan-pernyataan resmi pemerintah saja. 

Kedua, tentu saja Menteri Penerangan, Harmoko, yang gaya bicaranya sangat ekspresif dengan nada penuh tekanan. Tak perlu diragukan lagi ia adalah seorang orator yang artikulatif. Ketika SMP, saya pernah menyaksikannya berpidato secara langsung di masjid kampung kami saat ia melakukan safari. Sebagai mantan jurnalis, gayanya memang sangat ekspresif.

Lepas dari soal kontroversi mengenai pribadinya, Harmoko adalah salah satu simbol penting tokoh sipil di panggung kekuasaan Orde Baru yang didominasi oleh militer itu. Kemenangannya dalam perebutan kursi Ketua Umum Golkar tahun 1993, menandai berakhirnya rezim militer di tubuh Golkar. 

Kemenangan Harmoko ketika itu juga menandai kekalahan politik kelompok Benny Moerdani, yang sebelumnya telah berhasil "memaksa" Pak Harto menerima Try Soetrisno sebagai Wakil Presiden. 

Dalam buku "Managing Indonesia's Transformation" (2013), Ginandjar Kartasasmita dengan jelas menyampaikan kalau Pak Try bukanlah sosok yang dikehendaki oleh Pak Harto untuk mendampinginya pada 1993. Namun, Pak Harto tak mau memperbesar konflik yang telah berlangsung sejak 1988 itu.

Gerakan "sipilisasi" Golkar sebenarnya telah dimulai sejak era Soedharmono. Pak Dhar, seorang pensiunan militer yang juga berseteru dengan Benny, telah memulai upaya reformasi penting ketika dirinya menjadi Ketua Umum Golkar pada 1983. Ia meminta agar para perwira yang ingin menjadi pimpinan Golkar, baik di pusat, provinsi, maupun kabupaten, pensiun dari dinas kemiliteran terlebih dahulu. Upaya itu sebenarnya ditujukan untuk memutus rantai pengaruh Benny di tubuh Golkar. 

Jadi, naiknya orang sipil seperti Harmoko ke kursi ketua umum Golkar, secara simbolik punya arti penting dalam menandai pergeseran aktor-aktor politik di ujung kekuasaan Orde Baru. Pak Harto kian memberi kepercayaan yang besar pada tokoh-tokoh sipil di sekitarnya. Selain Habibie, Harmoko adalah salah satunya.

Selamat jalan Pak Harmoko...

(By Tarli Nugroho)