Gereja-Gereja di Kanada Dibakar, Buntut Temuan 1.000 Kuburan Massal Anak-anak Pribumi di Bekas Sekolah Asrama Yang Dikeola Gereja

[PORTAL-ISLAM.ID] Gereja-gereja dibakar dan dirusak oleh para pemrotes di Kanada beberapa hari belakangan. 

Total sudah tujuh gereja di Kanada yang hangus terbakar dalam beberapa hari terakhir ini. Beberapa lainnya dirusak.

Kepolisian Kanada mengatakan 10 gereja dirusak pada Hari Kanada - 1 Juli 2021 - di Calgary, Alberta.

Pihak berwenang percaya aksi perusakan dan pembakaran gereja ini adalah buntut dari penemuan 1.148 kuburan massal anak-anak suku asli Kanada (pribumi) di tiga bekas sekolah asrama.

Gereja-gereja yang rusak itu dibangun seabad lalu, bertepatan dengan pembukaan sekolah asrama yang didirikan oleh pemerintah dan dijalankan oleh gereja Katolik untuk mengasimilasi masyarakat adat ke dalam arus utama.

Sistem sekolah tersebut dinilai secara paksa memisahkan anak-anak suku asli Kanada dari keluarga mereka. Sebuah penyelidikan selama enam tahun menganggap sistem sekolah tersebut merupakan "genosida budaya."

Lebih dari 4.000 meninggal diduga karena penyakit dan penelantaran di sekolah.

Sebuah laporan tersebut mendokumentasikan insiden pelecehan fisik yang mengerikan, pemerkosaan, kekurangan gizi, hingga kekejaman lainnya terhadap sekitar 150 siswa di tempat tersebut.

Paus Didesak Minta Maaf

Pemerintah Kanada meminta Paus Fransiskus untuk mengeluarkan pernyataan permintaan maaf resmi atas peran yang dimainkan gereja Katolik dalam sistem sekolah asrama di Kanada, pasca penemuan sisa jenazah anak-anak di tempat yang dulunya merupakan sekolah terbesar di negara itu.

Kamloops Indian Residential School adalah fasilitas pendidikan terbesar di Kanada dan dioperasikan oleh gereja Katolik Roma antara 1890 dan 1969 sebelum pemerintah federal mengambil alih sebagai sekolah harian sampai ditutupnya pada tahun 1978.

Saat itu, hampir tiga perempat dari 130 sekolah dijalankan oleh kongregasi misionaris Katolik.

Permintaan maaf kepausan adalah salah satu dari 94 rekomendasi yang dibuat oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang dibentuk sebagai bagian dari permintaan maaf pemerintah.

Menteri Hubungan Masyarakat Adat, Carolyn Bennett, menambahkan bahwa permintaan maaf oleh Paus akan membantu mengurangi derita para penyintas dan keluarga yang ditinggalkan.

“Mereka ingin mendengar Paus meminta maaf,” katanya.

Kanada menghadapi sejarah kelam pelecehan di sekolah-sekolah asrama.

Dari abad ke-19 hingga 1970-an, lebih dari 150.000 anak-anak pribumi diambil paksa untuk masuk ke sekolah-sekolah Kristen yang didanai negara sebagai bagian dari program untuk mengasimilasi mereka ke dalam masyarakat Kanada.

Mereka juga dipaksa masuk Kristen dan tidak diizinkan berbicara bahasa ibu mereka. Banyak yang dipukuli dan dicaci maki, dan hingga 6.000 orang dikatakan 'hilang' dan lainnya telah meninggal.

Pemerintah Kanada meminta maaf di parlemen pada tahun 2008 dan mengakui bahwa di masa lalu, kekerasan fisik dan seksual di sekolah-sekolah asrama merajalela. Banyak siswa yang dipukuli hanya karena berbicara bahasa mereka. Mereka juga kehilangan kontak dengan orang tua dan adat istiadat mereka.

Paus telah menghadapi kemarahan penduduk asli Kanada atas penolakannya untuk meminta maaf atas pelecehan di masa lalu.