Di tengah krisis pandemi COVID-19, kita tak punya pemimpin yang kuat

[PORTAL-ISLAM.ID] Di tengah musibah dan sengkarut penanganan pandemi COVID-19, kita tak punya pemimpin yang kuat. Yang digugu sikap tindak dan isi bicaranya. Jika pun ada, ia hanya sebatas pemimpin daerah. Yang tak kuasa apa-apa terhadap kebijakan berskala nasional. 

Diujung PPKM Darurat (sekarang pakai level 1-4), angka korban COVID-19 menembus angka tiga juta lebih, korban per hari hampir 50.000 orang, dan kematiannya diatas 1.600 orang. Jadi ikhtiar melalui PPKM Darurat bisa dianggap gagal. 

Rakyat bertambah sengsara. Ekonomi tak bergerak di angka 4%. Diperpanjang lagi, akan tambah besar masalahnya. Hutang pun menumpuk bergunung-gunung. 

Di media massa dan media sosial, kritik berhamburan. Dibalasnya oleh buzzeRp yang kadangkala menyebalkan, karena memakai kata tak senonoh. Jauh dari sopan santun yang dimiliki oleh masyarakat negeri ini. 

Coba simak gaya Duterte menangani pandemi COVID-19 di Filipina, atau gaya Erdogan di Turki. Mereka pun tadinya kewalahan. Apalagi di Filipina yang serba terbatas fasilitas kesehatannya. Tapi rakyat di negeri Jiran itu angkat jempol dengan Duterte. 

Sang Presiden turun langsung ke lapangan. Tidak mendelegasikan kekuasaannya kepada menteri senior. Semua ucapan presiden digugu rakyatnya. Kebijakan Duterte menolak warga asing singgah ke negerinya, membuat pandemi COVID-19 di Filipina tidak melonjak drastis seperti di negeri kita. 

Sultan Brunei pun patut dicontoh ketegasannya. Beragam beleid kerajaan dilaksanakan rakyatnya dengan sukacita. Tak ada ambulans yang mengaung-ngaung, tak ada pula toa masjid yang mengabarkan meninggalnya warga Brunei Darussalam karena COVID-19. 
Sultan mengajak rakyatnya mengaji setiap malam di masjid dan surau, seraya berdoa agar pandemi COVID-19 segera berakhir. Apakah kita seperti ini? Tentu tidak. Kita memang tak punya pemimpin yang bijak bestari. Ah sudahlah!!! 

Yg begini itu adalah Dosa.

(By Asep Rachmat)

*fb