ALLAH ADA DI BALIK SETIAP PERTOLONGAN

Dalam Tarikh Baghdad (6/32) dikisahkan bahwa seseorang pernah mengadukan kesempitan ekonomi yang sedang dia alami kepada Ibrahim Al Harbi. 

Ibrahim Al Harbi lalu mengatakan, "Jangan merasa sempit hati, Allah ada di balik setiap pertolongan..."

Ibrahim Al Harbi kemudian bercerita..

"Aku pun pernah mengalami kesulitan ekonomi sampai tak bisa memberi makan keluarga. Istri sampai mengatakan, 

'Wahai suamiku, kita mungkin bisa bersabar menahan lapar.. bagaimana dengan anak-anak kita? Jual-lah buku²mu atau gadaikan...'

Aku pun merasa berat untuk menjual atau menggadaikan kitab-kitabku. Kukatakan kepada istriku,
'Istriku, carilah hutangan dulu atas namaku untuk makan anak kita. Biarkan malam ini aku pikirkan jalan keluar untuk kita..'

Dahulu aku memiliki sebuah ruangan yang terletak di lorong rumahku. Di sanalah aku meletakkan kitab-kitabku. Di sana pula tempatku menulis dan membaca.

Tiba-tiba di malam itu, seseorang mengetuk pintu rumahku. 

Aku pun bertanya, 'Siapa?'

Orang itu menjawab, 'Aku salah seorang tetanggamu'

Aku lalu mengatakan, 'Masuklah!'

Orang itu mengatakan, 'Matikanlah lampumu terlebih dahulu!'

Maka aku pun menutup lenteraku lalu mempersilakan orang tersebut untuk masuk.

Dia pun masuk, kemudian meninggalkan sesuatu di dekatku dan langsung pergi. Aku singkap kembali lenteraku, ternyata yang dia tinggalkan adalah sebuah serbet yang mahal. Di dalam bungkusan serbet itu terdapat banyak sekali makanan. Ada juga sekantung uang sejumlah 500 dirham!

Aku pun memanggil istriku, 'Istriku.. bangunkan anak-anak, ini ada makanan...'

Keesokan harinya, dengan dirham-dirham itu, aku segera melunasi hutang-hutangku. 

Pada saat yang sama, rombongan haji dari Khurosaan tiba. Saat aku duduk di pintu rumahku, ada seorang pengendara unta yang menggiring dua unta di belakangnya. Punggung dua unta ini dipenuhi oleh kantung-kantung berisi dirham. Pengendara unta ini bertanya-tanya di mana rumah Al Harbi. Lalu dia pun berhenti di depan rumahku.

'Aku Ibrahim Al Harbi,' kataku..

Si pengendara kemudian menurunkan kantong-kantong uang itu.

'Dua kantong uang ini, dikirimkan oleh seseorang dari Khurosan untukmu...'

Aku pun bertanya, 'Siapa dia?'

Si pengendara mengatakan, 'Dia telah memintaku bersumpah agar aku tidak menyebut siapa dia...'

*Diterjemahkan dari Al Jami' fi Ahkam wa Adaabish Shibyan - Kitabul Ilm, hlm 27-28.

(Oleh: Wira Bachrun)