1,5 Tahun Pandemi telah Membuka Fakta bahwa Lord Jokowi Bukan Sosok Pemimpin yang Istimewa

SEBAGIAN BESAR masyarakat tidak ada pilihan lagi selain patuh PPKM Darurat. Khawatir tertular, cemas akan ketidakpastian situasi, fakta badai ekonomi keluarga, fasilitas kesehatan yang kurang, virus yang mulai memburu anak-anak dsb akan (sudah) kita hadapi. Kiranya Tuhan sedang berbicara selembut-lembutnya pada manusia lewat kesulitan ini. Sebaiknya kita tunduk dan mendengarkan.

Apa yang di luar kontrol kita, hadapi dengan iman. Kita fokus pada apa yang bisa kita kontrol.

1,5 tahun pandemi telah membuka fakta bahwa Lord Jokowi bukan sosok pemimpin yang istimewa. Pikiran dan tindakannya yang sering meremehkan sesuatu berimbas pada kehidupan kita semua sekarang. Mulai urusan e-government yang konon cuma urusan IT 2 minggu selesai, sampai virus Corona yang mematikan ini, dia remehkan.

Mohon maaf, Anda seperti bekas pemain Arsenal Nicklas Bendtner alias Lord Bendtner yang berujung hancur kariernya dilumat rasa percaya diri yang terlalu berlebihan. Ia merasa seluruh dunia menyerangnya dan ia membangun benteng pembenaran dan kesombongan.

Awal Covid-19 (Maret 2020), rakyat gemetar takut. Tapi para pejabat cekakak-cekikik menantang peneliti Harvard untuk datang dan membuktikan ada-tidak Covid-19 di Indonesia (Menkes Terawan); meledek Corona sudah lama pergi sama seperti nama merek sedan (Menko Marves Luhut Panjaitan); corona tidak bisa masuk karena izin berbelit (Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menko Polhukam Mahfud MD); kebal corona karena kita makan nasi kucing (Menhub Budi Karya Sumadi).

Itu menyakitkan. Tanpa ada satu pun dari mereka yang minta maaf atas pikiran, perbuatan, atau kelalaian itu. Sekarang, mereka berubah jubah menjadi seolah paling peduli bahaya Covid-19.

Sama menyakitkannya dengan hari ini kita baca berita Direktur Marketing PT Harsen Laboratories Riyo Kristian Utomo menentang sidak BPOM di gudang Ivermectin mereka dengan berkata, “Mengapa BPOM justru seperti mensabot perintah presiden? Apakah kurang jelas pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir dan Kepala KSP Moeldoko yang menginginkan agar Ivermectine dapat segera dipakai oleh rakyat melawan Covid?”

Sejak dipromosikan menteri, demand Ivermectin tinggi, harga melambung. Sementara BPOM menemukan produksi ilegal dan berbahaya di pabrik itu.

Antara lembaga negara dan pejabat berkelahi begini? Dalam situasi pandemi? Jangan-jangan ada bisnis di situ?

Rasanya manajemen kepemimpinan warung nasi uduk masih jauh lebih baik dalam merespons krisis dibandingkan dengan mereka.

Lord Jokowi tidak istimewa karena ia gagal membangun harapan, solidaritas, dan persatuan untuk menghadapi krisis. Ia justru tutup kuping dan makin mendekap bantal ketika diteriaki suara/masukan berbeda. Ia bingung sendiri bagai suara tokek: ekonomi-kesehatan, kesehatan-ekonomi...

Pemerintah maupun rakyat sama-sama menjalani kalender yang sama. Tahu fakta bahwa bansos sembako ditilep Rp10 ribu/paket oleh mensos kader partai berkuasa; anggaran Prakerja ‘bocor’ Rp40 miliar untuk komisi platform digital dan membayar mahal video pelatihan hampir Rp1 miliar per paket; realisasi belanja penanganan Covid-19 sebesar Rp9 triliun belum diyakini kewajarannya (audit SPI BPK 2020).

Tahu pula bahwa di balik celotehan digital dan unikorn ada bisnis venture capital yang tengah membidik net worth via bursa. Itu menjadi trend sekarang. Tak peduli usaha riil menyerap tenaga kerja atau tidak, untung atau tidak, yang penting saham digoreng. Cara begitu cuma menguntungkan segelintir bandar—-yang sering saya singgung dalam status sebelumnya.

Visi Lord Jokowi berantakan. Dukungan pemerintah banyak tertuju pada segelintir pihak yang sanggup melobi Istana. Rakyat dibuat tidak berdaya. Cukup diberi roti (bansos). Padahal orang tak cuma butuh roti tapi juga martabat dan keadilan. 

Kita akui masih ada masyarakat yang belum patuh standar prokes internasional, ngeyel, dan sebagainya. Tapi tugas pemerintah jugalah untuk merangkul mereka, bukan malah memobilisasi buzzer untuk mengolok-olok. 

Olok-olok berupa kritik pedas lebih layak tertuju kepada pemerintah. Mereka yang berkuasa, mereka yang pegang anggaran, mereka yang membuat peraturan.

Tantangan ke depan akan makin berat. Seleksi alam akan terjadi. Di AS dan Kanada sudah muncul ancaman baru bagi bumi yaitu gelombang panas ekstrem yang terjadi sepekan terakhir. Itu gelombang panas paling ekstrem yang pernah terjadi di bumi (Kompas, 2 Juli 2021).

Bukan tidak mungkin sebentar lagi kita juga mengalami ganasnya perubahan iklim itu.

Ya, kita perlu pemimpin yang istimewa dalam kualitas moral, kecakapan, kejujuran, dan keberanian yang bisa mempersatukan kita.

Mohon maaf, yang sekarang bisa dijadikan pelajaran pahit.

Salam PPKM. Salam Disiplin. Salam Persatuan.

(By Agustinus Edy Kristianto)