PEREMPUAN DARI PLANET VENUS

PEREMPUAN DARI PLANET VENUS

Perempuan meletup-letup. Makin banyak masalah, makin banyak bicara. Sementara pria saat ada masalah akan “masuk gua” dan tidak mau diganggu.

Mengapa begitu?

Karena perempuan berasal dari Planet Venus sedang pria berasal dari Planet Mars. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Mereka berjumpa, menikah dan mengalami amnesia saat mendarat di Bumi.

Perumpamaan yang dibuat menggelikan itu digunakan untuk menggambarkan betapa berbedanya perempuan dan laki-laki dalam buku legendaris “Men Are From Mars, Women are From Venus” karya John Gray, Ph.D.
Mengapa perempuan cenderung banyak bicara saat masalah mendera? Karena perempuan mempunyai kebutuhan untuk bicara sebanyak 20.000 kata dalam sehari, sedang pria hanya butuh berkata-kata 7.000 saja! 

Sekalipun bicara hampir 3 kali lipat dari pria, namun saat menceritakan masalahnya, perempuan tidak membutuhkan solusi. Ia hanya perlu didengarkan. 

Jadi, jangan heran kalau pria menanggapi curhat perempuan dengan berbagai macam argumen, justru akan memancing letupan-letupan yang lebih dahsyat lagi.

Dalam buku itu juga disebutkan kalau emosi perempuan ibarat gelombang. Kadang tenang menghanyutkan, kadang disertai amukan badai. Sedang pria diibaratkan karet gelang, tarik ulur di tempat yang sama.

Menarik!

Prof DR Yunahar Ilyas, Lc, MA., dalam disertasinya yang kemudian dibukukan dengan judul “Kesetaraan Gender dalam Alqur’an: Studi Pemikiran Para Mufasir” menjelaskan dengan sangat menarik fenomena perempuan dan laki-laki.

Manusia tanpa membedakan jenis kelamin dan warna kulit serta perbedaan yang bersifat given lainnya mempunyai status yang sama di sisi Allah. Mulia atau tidaknya seseorang ditentukan oleh ketakwaan, yaitu sebuah prestasi yang bisa diusahakan. Sebagaimana yang tercantum dalam QS Al Hujurat:13.

Sekalipun demikian, dalam melaksanakan perannya di bumi ada pembagian tugas untuk saling melengkapi. 

Menghandle perempuan sering diibaratkan seperti memperlakukan tulang rusuk yang bengkok. Kalau terlalu ditekan akan patah, sebaliknya kalau dibiarkan akan bertambah bengkok. 

Lalu, bagaimana menghadapi lerupan-letupan itu? Rasulullah SAW memberikan banyak contoh dalam keseharian.

Seperti yang diriwayatkan dalam satu perjalanannya Ibunda Shafiyah menunggangi unta yang lemah dengan barang bawan yang berat. Sementara Ibunda Aisyah menunggangi unta yang kuat dengan bawaan ringan.

Rasulullah SAW perintahkan untuk menukar beban unta keduanya supaya perjalanan bisa lebih cepat.

Spontan Ibunda Aisyah berseru, "Wahai hamba Allah, bagaimana bisa Rasulullah SAW mengesampingkan kita dan mendahulukan Yahudi ini." 

Rasulullah SAW menjawab, "Wahai Ummu Abdillah, barang bawaanmu ringan, sementara barang bawaan Shafiyah berat, maka kami pindahkan barang-barangnya ke untamu dan barang-barangmu ke untanya."

Aisyah berkata, "Bukanlah engkau Rasulullah SAW? Namun, mengapa engkau tidak adil?"

Mendengar percakapan itu Abu Bakar naik pitam dan hendak menampar putrinya yang danggap tidak sopan pada Rasulullah SAW. Namun, Rasulullah menahannya, "Sabar, Abu Bakar."

"Wahai Rasulullah, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakannya?" Rasulullah SAW menjawab, "Wanita yang sedang cemburu itu tidak bisa melihat bawah lembah dari atasnya." [HR Ibnu Hibban]. 

Jadi, paham ya bagaimana menghadapi letupan-letupan perempuan? Sebagaimana yang ditulis Imam Al Ghazali, “Sabar atas kemarahan istri adalah termasuk ujian bagi para wali.” [Ihya Ulumuddin 3/38].

Jakarta, 11/6/2021

(By Uttiek)