PARA PENYULUT API KEBENCIAN ADALAH SAMPAH!

PARA PENYULUT API KEBENCIAN ADALAH SAMPAH!

Tuduhan-tuduhan yang diberikan kepada Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam dalam aktivitas penggalangan dana untuk masyarakat palestina itu tak bisa dibenarkan. Tuduhan itu jelas-jelas didorong oleh motif rasa benci.

Saya yakin para pelaku fitnah tahu persis posisi UAH dalam penggalangan dana untuk Palestina. Bahwa peran UAH dalam penggalangan dana itu hanyalah sebatas sebagai influencer, sebagai individu yang mengajak ummat muslim Indonesa untuk menunjukan solidaritas kemanusiaan terhadap masyarakat Palestina. Saya yakin para pelaku fitnah juga tahu bahwa UAH tidaklah penampung uang dari masyarakat dengan menggunakan rekening pribadi.

Nyatanya memang donasi dari masyarakat masuk ke rekening organisasi Ma'had Islam Rafiatul Akhyar (MIRA). Bukan ke rekening pribadi UAH.

Oleh karena itu tuduhan penggelapan dana oleh UAH itu adalah sebuah tuduhan yang tak logis, dan teramat picik.🙂 

Jika para penuduh itu dilatari oleh niat baik untuk membangun transparansi di negeri ini, mestinya yang dikritisi terlebih dahulu adalah lembaga yang menampung dana itu. Bukan UAH secara pribadi. 

Jika para penuduh memang mencurigai telah terjadi penggelapan, tinggal dilaporkan saja lembaganya. Nanti pasti akan ketahuan siapa penanggungjawabnya. Serahkan kepada para penegak hukum untuk menyelidikinya. 

Namun, yang dilakukan oleh para penuduh tidaklah demikian. Mereka langsung mendiskriditkan UAH secara personal. Mereka membangun persepsi publik, bahwa penggalangan dana itu dilakukan oleh UAH secara pribadi dan masuk ke rekening atas nama pribadi. 

Bangunan persepsi seperti itu  jelas-jelas bertujuan untuk menjatuhkan kredibilitas UAH.  

Namun targetnya bukan sekedar UAH secara pribadi. Ada yang lebih besar dari pada UAH.

Para penuduh itu dalam 5 tahun terakhir sedang bekerja keras untuk menyulut api kebencian terhadap sesama anak bangsa, yang dimulai dengan merusak kredibilitas tokoh-tokoh muslim nusantara. Mereka tak senang jika ada intelektual muslim yang ucapannya diikuti oleh rakyat Indonesia.

Jika mengamati diskursus wacana dalam 5 tahun terakhir, tampak dengan jelas bahwa saat ini masyarakat nusantara sedang digiring ke dalam jurang perpecahan. Dalam 5 tahun terakhir semakin banyak intelektual yang aktif menyulut api kebencian antar kelompok anak bangsa.  

Para penyulut api kebencian itu adalah para intelektual sampah. Mereka kritis, tapi daya kritisnya hanya ditujukan kepada kelompok tertentu saja. Mereka cerdas, namun kecerdasannya hanya digunakan untuk memproduksi narasai-narasi emosional belaka. Mereka sangat produktif, tapi keproduktifan mereka disetir oleh kepentingan untuk memperoleh uang recehan belaka.

Bahkan ada diantara orang-orang itu yang mengaku mantan aktivis mahasiswa. Mantan aktivis kok mengkritisi rakyat! Mana ada aktivis yang suka mengkritisi rakyat. Di mana-mana aktivitas utama seorang aktivis itu mengkritisi penguasa! 

Mantan aktivis kok pekok!

Sampah. Sampah! 
Sam-pah!!!

(By Beni Sulastiyo, Pontianak)