Kritik Untuk PKS: Partai 'Hebat' Tanpa Kandidat

Partai 'Hebat' Tanpa Kandidat

Seorang kader PKS pernah berkata, "Kenapa kami tidak ada sosok yang diangkat atau dijadikan ikon partai? Karena kami tidak mengkultuskan seseorang dalam perjalanan politik. Kunci keberhasilan PKS adalah meniadakan ketokohan pada partainya". 

Terlihat keren dan bijaksana. Sekilas membaca dan mendengar perkataannya, maka bertaburan jempol dan tepuk tangan pada PKS. 

Sayangnya perkataan itu adalah kamuflase yang sejatinya justru PKS malah mencari tokoh untuk dijadikan dukungan partai. 

Dalam Munas PKS beberapa waktu lalu, amanat Munas adalah mencalonkan pemimpin dari internal sendiri. Ini amanat utama, diluar itu ada amanat tambahan bisa mencalonkan tokoh diluar internal mereka sendiri.

Amanat utama dikesampingkan, amanat tambahan yang dijadikan buruan. 

Sangat disayangkan Partai yang dianggap hebat dan klaim dekat dengan rakyat, tapi gak bisa memunculkan tokoh yang dijadikan perjuangan partainya. Mengikuti tokoh diluar internal itu bagus, namun gak bisa menjamin ia membawa tujuan partai yang selama ini dijalani. 

Terlebih PKS adalah oposisi yang seharusnya mempunyai harga yang tinggi karena keadaan saat ini membuat PKS dijadikan sandaran masyarakat yang banyak kecewa pada pemerintah dan partai pendukungnya. 

Dalam permainan, PKS seperti bingung mencari siapa teman.

Padahal ia memiliki banyak modal agar bisa didekati oleh beberapa teman. Modal pertama adalah partai oposisi yang mempunyai basis masa tersendiri. Muaknya masyarakat atas kebijakan pemerintah, membuat mereka mudah melabuhkan pilihan pada partai yang dianggap mampu berbicara lantang menolak kebijakan bar-bar penguasa. 

PKS dalam perjalanan, memang kerap menjual kepedulian dengan memainkan suara penolakan yang dilandasi suara rakyat. Secara dasar, masyarakat sangat menerima apa yang dilakukan PKS. 

Sayangnya PKS seperti "habis main", saat menentukan siapa tokoh yang harus dimunculkan dan dijual namanya agar bisa didukung rakyat oposisi. 

Alih-alih menaikkan tokoh internal, malah menyasar tokoh diluar dan milik partai lain. Jadi lucu apabila tokoh tersebut berasal dari koalisi partai pemerintah. 

Sebagai partai yang bisa dikatakan sudah dewasa, PKS seharusnya bisa lebih berani menjual perolehan 8% suara mereka pada partai lain (8,21%, 11.493.663 suara). Sebagai contoh, Demokrat yang hanya memiliki suara 7% saja mampu menjual nama AHY sebagai kandidat pemimpin The Next Indonesia. 

Demokrat mampu memerankan partai yang mempunyai nilai jual dengan berani sodorkan AHY sebagai pendamping capres unggulan. 

PKS bukan partai yang menjual ketokohan, itu benar jika melihat tidak adanya tokoh yang mereka naikkan. Namun PKS adalah partai yang menjual ketokohan, itu juga benar saat nama-nama tokoh mereka sebut sebagai jalan memberi dukungan. 

Bingungkan?

Jadi saat ada kader PKS berkata bahwa PKS bukan partai yang memuja ketokohan, tolong tepuk pundaknya 3x. Agar pengaruh hipnotisnya bisa hilang. Karena jelas kata-kata itu adalah sebuah kalimat yang ingin mencari pembenaran dari cara partai yang justru terbalik dilakukan. 

Saya pikir PKS bisa menjadi trend setter dengan memunculkan nama tokoh internal sedari dini, sebagai bentuk PKS mulai fight sebagai pemain utama. Tapi saya salah, ternyata partai ini masih senang berkubang menjadi partai hiburan, dengan menjadi follower dari partai yang sudah memiliki kandidat. 

Masih menjadi pemain figuran, padahal memiliki modal dan kemampuan menjadi bintang utama. 

"Tampang Nicolas Saputra, tapi peran hanya mau jadi Aziz Gagap"

Partai yang katanya hebat, tapi gagap dalam menentukan kandidat. 

(By Setiawan Budi)

*NB: Jangan baper kalau parpol dapat kritik dan masukan dari publik. Justru itu tanda kepedulian.