Kita Tidak Akan Mampu Seperti Prabowo, Cukup Prabowo Yang Jadi Prabowo

[PORTAL-ISLAM.ID] Saya kira Pak Prabowo pastilah banyak kekurangannya. Namanya juga manusia biasa. Apalagi kalau diambil dari sisi relijius, kemungkinan sahabat saya, Ngabalin jauh lebih fasih untuk mengutip dan melontarkan ayat-ayat suci.

Namun sisi Pemaaf dan Ketulusan Hati sahabat kita yang satu ini benar-benar menawan hati saya. Tentu saja selain sisi Patriotik yang tidak perlu diragukan lagi. Dia adalah Mantan Danjen Kopassus. Sekaligus Pebisnis Sukses.

Ketika Pak Harto dijatuhkan. Beliau digencet dari sana-sini. Keluarga Besar Pak Harto menganggap beliau Pengkhianat karena sebagai Pangkostrad, beliau tidak mau "berjuang" mempertahankan kekuasaan sang Mertua. Malah menyarankan mertua turun dari Kursi Kekuasaan.

Di sisi lain, beliau juga "dihabisi" mantan para sahabat yang dulu jadi penjilat ketika Pak Harto masih berkuasa. Bukan rahasia lagi, Jenderal Anu misalnya memohon Pak Prabowo untuk menyerahkan surat atau berharap dibisikkan namanya ke telinga sang Mertua. Sayangnya ketika angin kekuasaan berubah. Pak Prabowo dijadikan tumbal saling merebut kekuasaan.

Beliau akhirnya memilih menyepi sementara ke Jordania. 

"Saat saya disingkirkan ABRI, oleh elite politik di Indonesia, negeri ini (Yordania) menerima saya dengan baik," kata Prabowo.

Raja Jordania sekarang, ketika itu masih Pangeran Abdullah adalah sahabat baik beliau. Makanya ketika Pak Prabowo disingkirkan oleh para Sahabat bermental Penjilat, Raja Jordania langsung menelpon "What can I do? You're my friend," ujar Pangeran Abdullah.

Kedatangan Pak Prabowo ke Yordania pun disambut upacara militer. Dia bahkan diminta menginspeksi pasukan. Sementera di ujung barisan, Pangeran Abdullah menunggu dan kemudian memeluknya. "Di sini, Anda tetap Jenderal," ujar Pangeran Abdullah kepada Pak Prabowo seperti yang dikutip dari buku "Prabowo Titisan Soeharto?".

Selama di Jordania, Pak Prabowo juga ditawari untuk tinggal di salah satu istana kerajaan. Namun Pak Prabowo menolak. Dia lebih memilih tinggal di apartemen biasa.

Andai saja saya yang menjadi Pak Prabowo, mungkin saya lebih memilih menikmati hidup jadi sahabat Raja. Hidup mevvah. Halah...saya malah ikutan menulis gaya anak tiktok jaman sekarang.

Tapi beliau adalah Prabowo Subianto. Berkali-kali dikhianati oleh sahabat, tapi tetap membuka Pintu Maaf. Termasuk kepada Ridwan Kamil yang dulu jadi Walikota karena diusung oleh Gerindra. 

Tentu saja kata-kata RK juga harusnya jadi bahan intropeksi. 

"Dari dulu (Pak Prabowo) juga sangat baik. Hanya dulu terlalu banyak Pintu yang harus saya lewati. Tadi saya izin ke Pak Prabowo, kalau boleh Komunikasi bisa lebih langsung," tutur Ridwan Kamil saat bertemu Prabowo di kantor Kemenhan kemarin, Senin (21/6/2021).

Ya. Sepakat. Tolong jangan tempatkan Pak Prabowo di Istana Kaca. Terlihat tapi tidak tersentuh. Masyarakat kita membutuhkan Pemimpin yang mau membaur. Berada di tengah-tengah mereka.

Tapi ya tidak perlu juga mesti keluar masuk got. Atau pura-pura nyapu di jalanan. Jadi Tukang Tambal Ban. Dan berbagai model pencitraan yang memuakkan itu!

"Bang, saya juga merasa dikhianati Pak Prabowo. Hatiku rapuh bang. Menjerit dan Pilu...."

"Sabar, setelah Pilpres 2024, kamu akan paham dan memahami Pengorbanan harga diri yang beliau lakukan. Karena kita tidak akan mampu seperti Prabowo. Cukup Prabowo yang jadi Prabowo".

(By Azwar Siregar)