Kecintaan Kepada Nabi

Kecintaan Kepada Nabi

Oleh: Muhammad Nuruddin

Kalau Anda masih percaya dengan keberadaan Allah, beriman dengan kenabian Nabi Muhammad, tegas memercayai al-Quran sebagai wahyu Tuhan, bersyukurlah. Karena ternyata di luar sana banyak orang-orang yang kesulitan mengimani semua itu. Yang sudah beriman pun seringkali tergoyahkan dengan pikiran-pikiran para Orientalis dan paparan orang-orang Ateis. Yang sudah beriman, dan mantap dengan keimanannya, juga sering terganggu dengan pikiran orang-orang Islam sendiri, yang kerap menyuguhkan pikiran-pikiran menyimpang tentang agamanya. 

Sebelum berangkat ke Kairo, ayah saya pernah berpesan, untuk tidak jadi teroris. Atau terbuai dengan pandangan-pandangan keagamaan yang menabur benih-benih terorisme. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah, ketika sampai di Mesir, saya dipertemukan dengan ulama-ulama Sunni yang moderat. Yang akidahnya Asy'ari, pengamal tasawuf, dan pengikut salah satu mazhab fikih yang mu'tabar. Dan hati saya dibuat nyaman dengan pemaparan-pemaparan mereka itu. Lebih bersyukur lagi dipertemukan dengan Syekh Yusri. 

Berkat ajaran keislaman yang saya terima dari beliau, Alhamdulillah, tidak pernah terbesit keraguan sedikitpun tentang pilar-pilar penting dalam agama yang saya anut. Baik yang menyangkut Tuhan, nabi maupun kitab suci. Beliau selalu mengajarkan, bahwa kunci keselamatan itu hanya ada pada Rasulullah Saw. Kalau orang punya kedekatan emosional yang kental dengan Rasulullah Saw, dia akan aman. Sedahsyat apapun godaan, ujian dan pikiran yang meragukan itu. Agama itu adalah nabi. Selesai. Mau tahu Islam? Lihat nabi. Ingin punya keimanan yang kokoh tentang ajaran Islam? Dekatlah dengan nabi. 

Nabi itu semacam imun, yang kalau sudah tertancap kuat di dalam hati dan nalar kita, pikiran-pikiran yang menyimpang itu akan mental dengan sendirinya. Kita suka mendengar orang yang hafal qur'an, pernah lama nyantri, tapi keluar dari Islam, dan meninggalkan keimanannya. Bahasa agamanya murtad. Kenapa bisa begitu? Kata beliau, karena dalam hatinya tidak ada kecintaan kepada nabi. Nabi belum masuk ke dalam hatinya. Jangankan masuk dalam hati, masuk akalnya pun tidak. Kecuali sebatas informasi biasa. Mau selamat dunia akherat, jawabannya adalah Rasulullah Saw. Itu ajaran yang saya terima dari beliau, dan benar-benar saya rasakan kebenarannya. 

Selebihnya, apa yang saya pelajari di kampus, hanya sebagai penguat saja. Saya merasa lebih terselamatkan lagi ketika mendalami ilmu-ilmu rasional. Alhamdulillah, selama menjadi mahasiswa, belum ada satu buku pun yang benar-benar mampu menghentak keimanan saya. Kalaupun ada, saya merasa bahwa apa yang diajarkan oleh para ulama jauh lebih mendalam, lebih memuaskan, dan lebih rasional ketimbang pandangan-pandangan keagamaan yang dimunculkan oleh para orientalis dan anak-anak ideologisnya itu. Rahasianya mungkin itu tadi. Ada imun spiritualitas sekaligus intelektualitas. Imun pertama disuntikkan oleh Syekh Yusri, imun kedua dari kampus, dan ilmu-ilmu rasional yang saya pelajari. 

Melihat orang-orang yang terbuai dengan paparan para orientalis, apalagi yang terjebak dalam pikiran orang-orang Ateis, belum lagi dengan orang-orang yang terhanyut ke dalam doktrin wahabisme, liberalisme, dan isme-isme semacamnya, kadang saya merasa prihatin. Mau-maunya mereka terjebak dalam pikiran-pikiran dangkal semacam itu. Tapi mau gimana lagi. Itu sudah menjadi pilihan hidup mereka. 

Pada titik itulah saya selalu tersadar, bahwa keimanan itu adalah nikmat yang besar. Sekian banyak orang yang terhalangi dari kenikmatan itu. Jika Anda merasakan keteguhan iman yang sama, bersyukurlah. Apabila Anda merasa keimanan itu sudah mulai merapuh, saran saya, pelajarilah ilmu-ilmu rasional dengan baik. Niscaya Anda tidak akan mudah terjebak dalam kedangkalan isme isme yang beraneka ragam itu.

28/6/2021

[fb]