Iris Tipis-Tipis GoTo... Perpaduan Bisnis dan Politik

GoTo Bukan Sekadar Murni Bisnis dan Ecommerce Semata, Ia Adalah Perpaduan Bisnis dan Politik

Gojek-Tokopedia (GoTo) lagi bersolek akhir-akhir ini. Wajar, namanya orang jualan jelang IPO*. Tapi semoga saja kita semua masih waras untuk menilai. Sebab, perbedaan antara jualan dan MENGEKSPLOITASI sisi SERAKAH manusia itu setipis benang jahit.

(*IPO atau Penawaran umum perdana adalah penjualan umum pertama saham sebuah perusahaan swasta kepada investor atau masyarakat umum untuk pertama kalinya.)

Mereka memakai tameng otoritas dan menyebarkannya lewat media massa. LPEM Universitas Indonesia berkata GoTo memberikan stimulus ekonomi sebesar Rp17 triliun sampai Rp35 triliun; Ekonom BCA berkata aksi IPO GoTo direspons positif investor; J.P Morgan merilis hasil riset GoTo berpotensi menjadi perusahaan berkapitalisasi pasar terbesar kedua di Indonesia.

Berita/opini negatif dibendung. 

Tapi coba cermati, apa yang tidak mereka ungkapkan. Jika kita bertanya kepada pengelola warteg saja, kita akan mendapat informasi tentang makanan/minuman yang dijual, berapa harganya, makanan/minuman apa saja yang paling laku, darimana dia dapat pasokan bahan baku, apa saja risiko waktu jualan yang berpotensi membuat rugi. Kita bisa dapat gambaran dari mana untung didapat.

Publikasi GoTo tidak! Dia cuma menceritakan APA KATA ORANG tentang warteg, bukan warteg itu sendiri! Dia tidak bercerita tentang hal yang justru penting bagi masyarakat (investor): MODEL BISNIS dan KREDIBILITAS PENGELOLANYA. Dia tak cerita bagaimana dan berapa untung diperoleh selama ini (apakah dari top up, iklan, komisi, bagi hasil…). Dia tidak meyakinkan untuk menjawab pertanyaan bagaimana mengembalikan investasi Rp6,4 triliun Telkomsel. 

Dia cuma cerita yang indah-indah saja. Bahwa nanti CAPITAL GAIN (selisih antara harga beli dan jual) saham GoTo akan menguntungkan. Sesuatu yang belum pasti.

Jadi saya setuju sindiran Lo Kheng Hong. Bisa jadi ini cuma dongeng, halusinasi!

Silakan saja berdebat tentang valuasi dan segala jenis angka (apalagi prospektus/laporan kondisi keuangannya belum ada). Saya tidak peduli. Saya peduli pada hal yang NYATA saja di depan mata. Saya peduli pada KREDIBILITAS orang. Sebab, bagi saya, bisnis adalah masalah KREDIBILITAS MANUSIANYA. Duit menyusul.

Jika pun terpaksa bicara angka, saya hanya berkata sebatas fakta modal disetor PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB)/GoTo bertambah dari Rp675,4 miliar (akta 23 Oktober 2019) menjadi Rp800,6 miliar (akta 29 Mei 2021)—setelah Telkomsel masuk. Selisih Rp125,2 miliar.

Jangan buru-buru termakan cerita valuasi triliunan. Fokus saja pada ORANG dan PERILAKU. Lihat KONSISTENSI antara pikiran, ucapan, dan tindakan.

Apa yang saya umbar belakangan ini tentang suntikan Telkomsel ke Gojek dan sengketa Rekind vs Panca Amara Utama setidaknya menunjukkan POLITIK adalah instrumen penting bisnis mereka. 

Saya kira tidak akan semulus sekarang Telkomsel memakan obligasi konversi tanpa bunga GoTo sebesar Rp6,4 triliun jika Menteri BUMN bukan Erick Thohir yang bertransaksi dengan GoTo—yang komisarisnya adalah Boy Thohir (sang kakak).

Saya pikir juga tidak sembarang orang mendapatkan perlakuan sama, yakni masalah hukum (termasuk pidana) diselesaikan lewat PERJANJIAN PENYELESAIAN jika Menteri BUMN bukan Erick Thohir dan Presiden Komisaris PAU/pemegang saham ESSA bukan Boy Thohir.

Saya pikir komposisi dan relasi jabatan politik bentukan Presiden Jokowi juga menggambarkan kecenderungan itu. Mendikbud Nadiem Makarim (Gojek), mantan Menparekraf Wishnutama (komisaris aktif Tokopedia ketika menjabat), Menparekraf Sandiaga Uno (ADARO)… Lihat juga keponakan Menko Maritim dan Investasi yang pernah menjadi pengurus Gojek. 

GoTo bukan sekadar murni bisnis ride-hailing dan ecommerce semata. Ia adalah perpaduan bisnis dan politik. Transaksinya bukan hanya uang melainkan TRANSAKSI KEKUASAAN. Makanya lahirlah potensi BENTURAN-BENTURAN KEPENTINGAN yang selama ini ditutupi lewat LOBI dan KEKUASAAN.

Selain potensi kejenuhan konsumen 5-10 tahun ke depan, potensi manipulasi keuangan, persaingan bisnis, GoTo bagi saya TIDAK MENARIK karena bobot lobi politik amat tinggi untuk menopang ketahanan bisnisnya. Jika pun panjang umur, ongkos DUKUNGAN POLITIK yang harus dibayar sangat mahal dan berpotensi menimbulkan perkara hukum di kemudian hari. Ia akan terus menerus berkepentingan terhadap pemilu untuk mengisi jabatan publik yang berhubungan dengan bisnisnya.

Soal benturan kepentingan jangan dianggap main-main. Itu salah satu indikator penting untuk menilai KREDIBILITAS orang. Pada 2005, US Securities and Exchange Commision merilis “Risky Business: Pre-IPO Investing” yang mengingatkan investor untuk waspada terhadap fraud yang terjadi Pra-IPO. Aspek latar belakang manusia pengelola amat penting dilihat. “Have any of them violated the law?”

Benturan kepentingan, korupsi, fraud, kelicikan… bisa terwujud dalam berbagai bentuk. Ingat waktu WeWork mau IPO dengan nama WeCompany dan memproklamirkan valuasi US$47 miliar yang akhirnya batal? Itu karena benturan kepentingan juga, karena Co-Founder dan CEO Adam Neumann terendus memiliki banyak properti sementara bisnis WeWork adalah penyewaan properti. 

Lihat juga Uber dan Lyft’s yang ketika sudah IPO diberlakukanlah perubahan aturan di California tentang pola kemitraan, yang berdampak negatif material pada operasional dan laba mereka. 

Saya tidak menolak orang berinvestasi termasuk investasi saham. Itu baik dan perlu. Tapi saya mendorong supaya politikus berkedok pebisnis atau siapa saja yang dicitrakan sebagai ‘orang baik’ tapi tindakan minus, bisa sesegera mungkin terendus masyarakat, supaya masyarakat melek dan bisa jernih memutuskan. 

Jangan terjebak pricing game (permainan harga) yang memanfaatkan mood dan momentum. Tengok kanan-kiri. Banyak agen kapitalis sedang berkolaborasi dengan pejabat dan itu mengancam kehidupan kita semua. 

Saya kutip pernyataan US Securities and Exchange Commision:

“We’ve seen over the years that the most successful frauds typically start out with plausible lies”

Fraud yang paling berhasil berawal dari KEBOHONGAN YANG MASUK AKAL.

Kira-kira begitu.

Salam.

(By Agustinus Edy Kristianto)