Haedar Nashir: Berpihak ke Israel Sama dengan Melupakan Sejarah Perjuangan Bangsa Sendiri, Nista Sekali

[PORTAL-ISLAM.ID]  YOGYAKARTA – Bagi warga Indonesia, mendukung Palestina bukanlah sebatas mengamalkan konstitusi, tetapi juga ingatan sejarah tentang pahitnya mengalami penjajahan beserta watak jahat penjajah.

Kehadiran kerajaan Portugis, Inggris dan Belanda selama ratusan tahun di Nusantara membawa perpecahan, pembelahan bangsa dan eksploitasi. Poin inilah yang diingatkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir sebagai alasan mendukung Palestina.

“Bangsa Indonesia lama memang dijajah dan penderitaannya sangat luar biasa, dan kita merasakan bekasnya sampai sekarang,” ujarnya dalam Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah, Jumat (11/6/2021).

Penjajah juga memiliki watak yang jahat yakni berupaya keras menghalangi bangsa jajahan untuk meraih kemerdekaan sebagaimana yang dialami oleh Indonesia menghadapi Agresi Militer I dan II.

“Itu luarbiasa dan Muhammadiyah ikut dalam perang gerilya bahkan mendirikan Askar Perang Sabil di Jawa Tengah dan DIY, dan korbannya juga luar biasa. Artinya apa? Penjajah itu memang rakus dan tidak pernah berhenti,” terang Haedar.

“Jadi nista sekali. Setelah kita bebas saja masih mau menjajah dan setelah kita merdeka masih juga menghalangi kita di PBB kan? Coba, dan saat itu tahukah kita bangsa Indonesia bahwa yang mengakui itu adalah negara-negara Arab, Mesir, Yaman, Siria, Saudi Arabia, dari kawasan lain India dan Australia. Lain-lain masih menghalangi,” imbuhnya.

Konteks pahitnya mengalami penjajahan beserta watak jahat penjajah inilah yang menurut Haedar membuat para pendiri bangsa meletakkan perhatian menentang segala bentuk penjajahan di dalam konstitusi.

“Ini sebenarnya kan karena seluruh pendiri bangsa kita seluruhnya menghayati betul betapa pahitnya kita dijajah, menderitanya kita dijajah,” ungkap Haedar.

“Di situlah maka, secara politik dan ideologis sesungguhnya ketika bangsa Indonesia termasuk warga Muhammadiyah melakukan pemihakan terhadap Palestina itu di samping memang ada konteks historis dan sejarah Al Aqsha, itu secara khusus dan mendalam karena ada pemihakan terhadap rasa yang bukan hanya terusik, tapi rasa terampas sebagai bangsa di mana Palestina yang dulu menjadi bangsa yang bebas lalu menjadi bangsa yang sekarang terjajah setelah negara Israel hadir bukan hanya terjadi kedamaian, justru Israel kan dengan rakusnya memperluas kawasan dan wilayah itu,” tutup Haedar.

(Sumber: Muhammadiyah)