Habib Rizieq Ungkap "GERAKAN LIAR INTELIJEN HITAM" Yang Menghalangi Rekonsiliasi Dirinya dengan Pemerintah

[PORTAL-ISLAM.ID]  Pada sidang lanjutan kasus Tes Swab RS Ummi, Kamis (17/6/2021), saat menyampaikan duplik Imam Besar Habib Rizieq Shihab menyampaikan kembali pertemuannya dengan Kepala BIN (Budi Gunawan/BG) dan Kapolri saat itu Tito Karnavian saat masih di Arab Saudi.

Habib Rizieq menyampaikan pertemuan itu adalah upaya bagus untuk rekonsiliasi dirinya dengan rezim penguasa. Dan sudah dicapai kesepakatan tertulis. Namun sayangnya ada GERAKAN LIAR INTELIJEN HITAM yang tidak suka negeri ini damai, sehingga mereka melakukan berbagai upaya untuk menggagalkan upaya rekonsiliasi ini. Dan hasilnya seperti sekarang ini.

Dalam sidang itu Habib Rizieq menyampaikan CATATAN TAMBAHAN DUPLIK (video dibawah):

1. Halaman 16 Nomor 6 tentang Dialog dan Rekonsiliasi:

a. Bahwa Dialog antara saya dkk dengan Pemerintah RI sudah dibangun sebelum ada pertemuan dengan BG dan TITO di Saudi, lalu berlanjut semakin baik setelah ada pertemuan tersebut.

b. Tanggal 25 Juni 2017 saya selaku Pembina GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI), ketika itu saya berada di Kota Tarim - Yaman, mengirim Delegasi GNPF MUI yang dipimpin oleh Ustadz Bakhtiar Nasir, ke Istana Negara di Jakarta bertemu Presiden Jokowi untuk berdialog. GNPF MUI saat ini bernama GNPF Ulama dipimpin oleh Syeikh Yusuf Martak.

c. Tanggal 22 April 2018 saya yang juga Pembina PA 212 (Persaudaraan Alumni 212), saat itu saya berada di Kota Suci Mekkah, mengirim Delegasi PA 212 dipimpin oleh Ustadz Slamet Maarif yang juga didampingi Pimpinan GNPF Syeikh Yusuf Martak, ke Istana Bogor bertemu Presiden Jokowi juga untuk Dialog. 

d. Hasil Dialog GNPF maupun PA 212 dengan Presiden Jokowi sangat bagus, namun lagi-lagi tidak terealisasi karena ada GERAKAN LIAR INTELIJEN HITAM yang tidak suka ada Dialog Rekonsiliasi antara Ulama dan Umara.

Jadi, sekali lagi saya ingatkan JPU jangan Su'u Zhonn (berburuk sangka) kalau saya ceritakan peristiwa ini dalam Pledoi maupun Duplik. Justru mestinya JPU ikut bersyukur adanya upaya Dialog Rekonsiliasi antara Ulama dan Umara, bukan malah menuduh saya CARI PANGGUNG.

Alhamdulillaah, saya sebagai Da'i dan Muballigh selama puluhan tahun, sudah punya puluhan ribu panggung Da'wah, sehingga tidak perlu CARI PANGGUNG lagi.

[VIDEO[