Ditawari Anggur, Tengku Zulkarnain: "Saya, Jus Jeruk Saja.."

"Saya, Jus Jeruk Saja.."

Oleh: Tengku Nazariah (adik kandung Ustadz Tengku Zulkarnain)

Saat itu, Abang masih menjadi penyanyi di Kota Medan. Selain menempuh pendidikan, abang juga menjadi penyanyi tetap di sebuah hotel ternama di Medan--hotel paling top masa itu.

Tiap kali Abang menyanyi di sana, maka papi akan menjadi pengawal khusus abang. Papi dan abang akan pergi berboncengan naik sepeda motor.

Suatu kali, saat Abang sedang menyanyi di hadapan para pengusaha kota Medan. Ada salah seorang pengusaha besar yang memanggil Abang agar ikut duduk bersama mereka.

Abang turun menuju ke tempat mereka dan mendatangi para pengusaha tersebut. Seperti biasa abang akan menyalami mereka yang lebih tua dengan salam santun sebagai putera Melayu, yaitu mencium tangan hingga kening. Walau terjadi sedikit kericuhan dan ejekan tapi abang tetap saja melakukan hal tersebut. 

Sesaat kemudian abang diminta duduk di sebelah pengusaha yang merupakan ketua mereka atau yang dituakan. Seorang pengusaha muslim.

Pengusaha tersebut memanggil pelayan dan meminta segelas minuman. Saat minuman tersebut diletakkan di meja, dia memberikan minuman tersebut pada Abang. 

"Ini untuk Zul ... spesial untuk Zul."

Abang memandang minuman dalam gelas kecil dan berwarna merah tersebut. Tercium bau harum dari gelas itu.

"Maaf, om ... saya jus jeruk saja."

Pengusaha itu terkejut. Matanya menyipit memandang abang dengan tatapan melecehkan.

"Heh! Biar kau tahu ya. Ini minuman mahal. satu sloki ini harganya lebih mahal dari gajimu 3 bulan nyanyi di sini."

"Iya, Om. Maaf, tapi saya jus jeruk saja. Saya tidak minum anggur.'

"Alah, Zul ... tak usah sok alim kalilah. Ini minuman tidak bau alkohol. Bahkan kalau kau minum ini, kent*t-mu pun akan berbau harum."

Abang semakin menahan amarah. Merasa agama sudah dibawa-bawa.

"Om, saya lebih memilih kent*t saya bau, dari pada harus meminum yang diharamkan agama. Maaf, saya kembali ke tempat saya."

Abang segera berdiri dan meminta pamit kembali ke tempatnya bernyanyi.

Di tempat mereka duduk masih terdengar gerutuan mereka yang mengejek abang dan profesinya sebagai penyanyi.

"Zul, apa bedanya kau menyanyi di sana, walau tidak minum alkohol tapi kau hibur kami yang minum di sini."

Abang terdiam. Ada pikir yang tiba-tiba hadir dan semakin menguatkan keinginan yang sudah tersimpan di hati Abang. Malam itu, sepulang dari menyanyi di hotel itu, abang berbicara dengan mami dan papi.

"Mi, awak kayaknya harus keluar dari Tiara."

Mami dan papi memandang Abang. Berbagai pikiran berkecamuk. 

"Kalau Naen, berhenti nyanyi di sana, bagaimana dengan biaya sekolah Naen dan adek-adekmu?"

Saat itu yang bekerja baru Kak Yul yang sulung, Kak Ranti masih pendidikan di Secaba Polri di Ciputat, sementara kami masih ada lima orang yang masih sekolah. Kondisi papi juga kurang sehat karena jantung dan darah tinggi yang diidap, hingga bisa tiba-tiba anfal, dan itu sudah sering terjadi.

"Mi, awak ditawari ngajar ibtidaiyah di Muhammadiyah. Memang gajinya kecil hanya Rp. 2500, tetapi Insyaa Allah akan ada rezeki lain yang datang."

"Dua ribu limaratus? Di Tiara, Naen dapat ratusan kali lipat, Nak. Sudah jangan pikirkan apa kata orang-orang tadi." Suara papi terdengar masih geram mengingat semua perkataan dan ejekan para tamu hotel saat itu.

"Pi, ini bukan karena mereka saja. Sebenarnya Naen sudah risau sejak awal menyanyi di sana. Hampir tiga bulan ini, awak tersiksa. Melihat mereka minum alkohol yang jelas haram ... malah awak hibur," suara abang tercekat, matanya berkaca-kaca menahan tangis, "Papi tahu? Saat membayangkan mereka yang minum satu sloki lalu nambah jadi dua sloki dan bisa lebih karena hiburan lagu yang awak berikan? Naen sangat takut azab Allah jatuh ... maaf, Naen harus berhenti. Malam ini terakhir Naen nyanyi di sana ...."

*****

Sejak itu, Abang berhenti nyanyi di Tiara. Beberapa kali manajemen hotel tersebut ke rumah menawarkan gaji berlipat dari biasanya agar abang mau kembali menyanyi di sana, tetapi Abang sudah bertekad berhenti dan tidak mau lagi dibujuk.

Satu saat kami bercerita tentang masa-masa abang bernyanyi di sana. Kata abang, terlalu banyak orang munafik di sana dan itu membuatnya muak. Tiga bulan saja di sana sudah membuat mata abang terbuka akan tipu daya kehidupan.

Pernah satu kali ada seorang tokoh, pengurus parpol Islam yang tiap hari bercerita tentang halal haram tetapi saat itu membawa perempuan ke hotel dan minum-minuman keras bahkan tanpa malu berc**man di depan umum. Saat itu Abang turun dari pentas dan mendatangi tokoh tersebut lalu menegurnya.

"Begini kelakuan anda? Astaghfirullah!"

Setelah itu Abang pergi meninggalkan tokoh itu yang mukanya merah padam, entah marah atau malu.

Selama tiga bulan Abang menyanyi di sana, ada gelar yang disampirkan para pemusik dan penyanyi lainnya yaitu "orang mesjid" karena sikap abang yang istiqamah menjaga salat dan menjauhi makanan dan minuman yang dilarang. Abang selalu senyum menyambut sebutan yang bernada mengejek di awalnya itu. Namun akhirnya, semua pemusik, penyanyi bahkan manajemen lainnya menjadi sayang pada Abang karena sikap santun dan istiqamahnya.

Setelah keluar dari hotel tersebut dan Abang mulai mengajar di ibtidaiyah Muhammadiyah, Abang semakin menguatkan ilmu agamanya dengan semakin gigih berguru agama pada beberapa ulama di Medan, bahkan Abang berguru hingga ke belahan dunia lain, hingga akhir hayatnya.

Medan, 19 Juni 2021

#TengkuZulkarnain_Kenangan

[fb]