Tes Wawasan Kebangsaan KPK, Felix Siauw: Intinya Islamophobia

Reaksi Atas Tes Wawasan Kebangsaan KPK

Membaca berita-berita tes wawasan kebangsaan yang diberikan ke pegawai KPK, membuat saya bingung. Terlalu banyak yang harus dibahas dan terlalu banyak keburukan yang ditampakkan dalam tes-tes itu. Tapi saya coba menggarisbawahi yang paling bermasalah.

Islamophobia, itu intinya.

Dari list pertanyaan yang bisa kita baca di pemberitaan online, kentara sekali bahwa yang memberikan tes itu seolah mengaitkan antara pemahaman Islam dengan radikalisme, seolah-olah ingin membuktikan, bahwa semakin seseorang peduli dengan Islam, maka semakin radikal dia.

Kok bisa jilbab dikaitkan dengan wawasan kebangsaan? Bila tak bersedia melepas jilbab berarti tidak mementingkan bangsa negara? Apa hubungannya performa anti-korupsi dengan mau nggak menjadi istri kedua saya? Pertanyaannya tidak hanya tendensius, tapi juga penghinaan bagi intelektualitas.

Negeri ini seolah diarahkan perang melawan hantu. Merekayasa musuh dalam bayangan, memerangi hal yang tak ada, membiayai hal yang tak esensial, dan akhirnya mengabaikan permasalahan-permasalahan yang sudah jelas, seperti korupsi itu sendiri, atau mental busuk para pejabat.

Seolah-olah andai seseorang itu tidak Islami, semua masalah beres. Jika dia tidak Islami, maka pasti dia toleransi, maka pasti dia tidak radikal, maka pasti dia tidak ekstrim, maka pasti dia tidak masalah. Begitulah Islamophobia digunakan untuk menjadi topeng banyak masalah di negeri ini.

Terlalu jauh memang bila kita mengatakan pemerintah itu anti-Islam. Lebih tepatnya anti-kritik, anti pandangan yang berbeda, anti kebenaran, takut kekuasaannya hilang. Maka siapapun yang berbeda, pasti akan bermasalah, Islam atau bukan. Kebetulan kaum Muslim yang lebih banyak melakukannya.

Tapi itulah sejatinya Islam, naturalnya Islam. Islam pasti akan berdiri tegak di depan tiap kedzaliman, sebab itu adalah bagian dari ajaran Islam, menegakkan keadilan. Sebagaimana dulu kaum Muslim adalah mayoritas yang melawan penjajahan. Kaum Muslim sampai kapanpun pasti amar ma'ruf nahi munkar.

Bila sekarang kita lihat pemerintah mengarahkan radikalisme, ekstrimisme, hate-speech, intoleransi, seolah-olah hanya pada Muslim, itu bukan berarti mereka anti-Islam. Mungkin mereka hanya anti-kritik, ingin leluasa berbuat tanpa diawasi. Tapi efeknya sama: Islamophobia.

Semua ini menguatkan, negeri ini dipimpin amatiran, yang tak ingin keburukannya diungkap, salah satunya mungkin dengan melemahkan KPK. Allahummaghfirlana...

26 Ramadhan 1442

(Felix Siauw)

[Video]