TERJAJAH DI RUMAH SENDIRI

TERJAJAH DI RUMAH SENDIRI

Ada yang pergi dan diantar oleh Lion Air ke China. Dan ada yang datang kembali membawa puluhan sampai ratusan WNA China ke Indonesia. 

Yang pergi adalah mereka yang telah habis masa kontraknya dan yang datang adalah mereka yang menggantikan rekannya yang telah menyelesaikan masa kerjanya. 

Sirkulasinya begitu, terus ada pergantian WNA dan gak akan berhenti sampai proyek yang mereka kerjakan selesai di negara ini. 

Dan semuanya ini memang difasilitasi oleh negara sebagai konsekuensi kerja sama Turn Key Project dengan China dalam pembangunan berbagai kepentingan yang "katanya" akan berguna bagi negara ini. 

Turn Key Project adalah sebuah sistim kerjasama pengadaan infrastruktur/pembangunan berbasis teknologi dimana pihak yang diberikan tugas membangun berhak menentukan sendiri siapa pekerjanya, material bangunannya sampai teknologi yang mereka gunakan. 

Masuknya TKA China beberapa waktu lalu yang  membuat kehebohan sebenarnya bukanlah yang pertama terjadi. Sebelumnya sudah pernah terjadi dan pernah dihebohkan juga. Namun kehebohan itu tidak pernah membuat pemerintah mengerti dan bertindak. 

Baik kedatangan atau kepulangan mereka adalah sebuah resiko kerjasama dimana negara ini telah menyetujui dan sepakat melaksanakan kegiatan bersama dengan syarat2 yang mereka mau. 

Baru-baru ini juga muncul pemberitaan bahwa China mulai menguasai negara2 di Afrika. Infratruktur dan perputaran ekonomi di beberapa negara Afrika sudah dikuasai China sehingga mereka seperti membuat negara sendiri di Afrika dimana China menguasai wilayah tertentu yang diisi oleh warganya sendiri berserta fasilitas2 teknologi nomor satu. 

Dan termasuk pangkalan militer dimana China berhak membangun kekuatan militernya di Afrika. 
Yang terjadi di negara kita adalah apa yang pernah terjadi di negara Afrika. Jika Afrika bisa dibuat boneka oleh China, negara kita pun akan bisa seperti Afrika, ketika berbagai kepentingan China mulai dibangun dengan alasan kerjasama. 

Sekuat apapun kita bersuara, sepertinya akan percuma. Kerjasama telah ditandatangi, hutang dan dana telah digelontorkan dengan jumlah yang besar. Jaminannya adalah aset negara ini. 

Kita protes atas kedatangan TKA dari China? Sepertinya itu hanya jadi pepesan kosong ketika pemerintah masih dipegang oleh mereka yang menandatangani perjanjiannya. Bagaimanapun pemerintah harus tunduk atas syarat2 yang telah disepakati. Sepahit apapun itu, ya harus diterima. 

Jika pemerintah memutus kerjasama, maka ada konsekuensi yang harus dibayar pemerintah atas terjadinya mangkir dari perjanjian. 

Yang kita bisa lakukan hanya menunggu pemerintah saat ini berakhir dan berganti dengan pemerintah yang mau merevisi perjanjian yang telah disepakati. Itupun akan sulit terjadi, karena ketika ada revisi, maka ada harga yang harus dibayar oleh negara ini karena investasi China yang telah ditanam sebelumnya. 

China tidak mau rugi. Kesepakatan international telah dibuat dan hukumnya sangat jelas. Saat ada yang mangkir atau lari dari kesepakatan, maka harus siap membayar kompensasi yang tinggi. 

Mau apa lagi..semuanya sudah terjadi. Ibarat nasi yang telah menjadi bubur. Enak gak enak ya harus dimakan. Dan kedatangan maupun kepulangan TKA China akan terus ada setiap tahun sampai kontrak selesai mereka jalankan. 

Jangan heran apabila kedatangan atau kepulangan mereka seperti lancar tanpa ada hambatan. Semua itu karena sebuah perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. 

Pemerintah saat ini seperti ingin membangun prasasti dari berbagai proyek kerjasamanya dengan China. 

Ibarat Sangkuriang dan Bandung Bondowoso yang ingin membangun bangunan megah bagi pujaan hati, tapi menggunakan kekuatan Ghaib untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam satu malam. 

Pemerintah pun melakukan hal itu. Nafsu membangun agar dikenal sebagai pemimpin yang berhasil, membuat mereka memakai cara singkat bekerja sama dengan negara lain. 

Jika Bandung Bondowoso menggunakan pasukan jin membantunya, maka pemerintah menggunakan Tenaga kerja asing imbas dari Turn Key Project. Bukan hanya TKA, material dan segala teknologi pun berasal dari luar. Saat semua telah selesai, baru negara ini membayar berapa nominal pembangunan tersebut. 

Membayar dengan uang jika mampu dan membayar dengan kekayaan alam jika tidak ada uang yang bisa diserahkan. Jangan heran apabila kedepannya akan banyak SDA kita yang dikeruk oleh perusahaan China, akibat kompensasi pembangunan yang mereka lakukan. 

Bagi pemerintah hasil jangka pendek untuk sebuah popularitas kepemimpinan yang dicari. Namun bagi kita sebagai rakyat, keberlangsungan yang kita lihat. Apa yang akan didapat anak cucu kita nantinya, jika semuanya telah tergadai pada pihak asing?

Mau diributkan seperti membelah air, akan sia-sia. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu penguasa berakhir dan berharap ada pemimpin yang berani mengubah apa yang telah disepakati. 

Hari ini Afrika, 10 tahun mendatang mungkin dalam berita sudah berganti bahwa Indonesia telah dikuasai China. 

(By Setiawan Budi)