Tere Liye: Penjajahan adalah Penjajahan... Berhentilah Jadi Corong Membelanya

Siapa Sebenarnya Begundal?

Pagi buta, 9 Desember 1947, satu pasukan Belanda berjumlah tak kurang seratus orang merangsek sebuah desa bernama Rawagede (perbatasan Karawang Bekasi). Mereka bersenjata lengkap, siap tempur, dan mereka maju berjalan kaki, menyisir setiap jengkal lokasi. Itu operasi militer serius.

Apa misi pasukan Belanda ini? Mereka hendak menangkap Lukas Kustaryo. Apa dosa Lukas? Simpel: dia adalah ekstremis, teroris, begundal, dan sering merepotkan militer Belanda. Lukas ini memang mantan Komandan Regu PETA, jadi dia memang bisa melawan. Setelah Indonesia merdeka 1945, Lukas menjadi bagian tentara Indonesia.

Jepang kalah PD II, maka Belanda kembali datang ke Indonesia. Ribuan pasukannya datang dengan kapal2 laut. Demikianlah, tahun2 itu bagi sebagian besar penduduk Belanda, apalagi bagi pasukan Belanda, tanah Indonesia ini milik mereka. Misi mereka adalah Gold, Glory, Gospel. Mereka tidak pernah mikir sedikit pun jika siapa sebenarnya yg tinggal dan menetap Indonesia ini. Bagi mereka, Indonesia adalah tanah yang dijanjikan utk kesejahteraan bangsanya.

Pagi itu, seratus lebih pasukan Belanda tersebut menyerbu Rawagede, mereka membagi pasukan jadi tiga. Tentu penduduk lokal melawan, masa' pasrah. Apa kata pasukan Belanda, 'Begundal menyerang misi mereka. Mencegah mereka menangkap Lukas.'. Maka dimulailah pertempuran. Pasukan Belanda yg membawa sten gun, mortir, jelas lebih tinggi teknologinya dibanding penduduk. 

Pertempuran meletus, penduduk kalah. Pasukan Belanda akhirnya bisa masuk Rawagede. Tapi dimana Lukas? Tidak ada. Seharusnya selesai dong, Lukas tidak ditemukan, teroris itu tidak ada, kamu orang pasukan Belanda balik ke markasnya baik2. Ternyata tidak.

Apa yang dilakukan kemudian oleh pasukan Belanda ini keji sekali. Mereka menyuruh penduduk laki2 berbaris. Termasuk remaja (anak2). Kemudian mereka melepas tembakan, dor! dor! dor! Diberondong habis2an. 

Tidak kurang dari 431 penduduk Rawagede mampus hari itu. Kepalanya ditembus peluru. Itu versi saksi mata penduduk setempat. Menurut versi Belanda, itu lebih kecil jumlahnya, HANYA 31 orang. Hanya loh ya, 31 itu keciiil sekali, namanya perang. Mereka santai kembali ke markas mereka setelah eksekusi tsb. 

Nah, pertanyaannya: di mana LUKAS? Tidak ada. Di mana inlander ekstremis itu? Tidak jelas. Boleh jadi itu cuma bualan pasukan Belanda saja. Bahwa Lukas berlindung dibalik rakyat. Bahwa Lukas bersembunyi dibalik anak2 dan wanita. Belanda berhak dong membela diri. Markas Belanda tiap hari dilempari batu, bambu runcing, dan anak panah. Konon katanya, nyaris 10 juta bambu runcing dilempar ke markas mereka oleh begundal Lukas dkk. Kalau saja markas mereka tdk punya teknologi tinggi, bisa mati semua sampai Belanda sana. Jadi Yes! Pembantaian Rawagede punya argumennya. Itu hak Belanda membela diri. ITU JUSTERU MENCEGAH TEROR DARI PENDUDUK LOKAL!

Bacalah sejarah ini. Atau jangan2 kamu tidak tahu?

Wah, kacau ini. Teriak NKRI tiap hari, teriak Pancasila tiap hari, sejarah bangsa sendiri tidak tahu? Dul, Indonesia itu merdeka setelah mati2an berjuang. Bukan karena hadiah. Kita itu dijajah ratusan tahun. Itu fakta, bukan hoax, bukan halu. Sejak 1600-an kita sudah dikangkangi oleh penjajah.

Apakah pembantaian Rawagede hoax? Pengadilan Belanda telah mengakui peristiwa ini, dan memerintahkan membayar 240 juta ke setiap korban. Sungguh itu lucu sekali! Membuat terpingkal. Nyawa rakyat Indonesia hanya dihargai 240 juta. Setelah 70 tahun berlalu, nilai uang ini sejatinya seperti upil saja. Tapi baiklah, setidaknya mereka telah mengakui itu pembantaian. 

Karena hari ini, masih banyak yg tdk mau menerima bahwa begitu banyak pembantaian telah dilakukan di muka bumi. Dan pembantai malah dianggap pahlawannya, paling bermoral. Sementara yg dibantai adalah penjahatnya. Hari ini, orang2 siap sedia membela habis2an pembantai--bahkan saat dia jelas2 tidak satu agama, tidak satu bangsa, tidak satu bahasa. Dia TETAP memilih membela sang pembantai. Tidak tersisa lagi sisi kemanusiaannya, yg ada hanyalah: kebencian.

Maka semoga kalian bisa lebih baik menilai. Ketahuilah, mau apapun kejadiannya, dimanapun, masa lalu, masa depan, dll, dsbgnya, penjajahan adalah penjajahan. Pembantaian adalah pembantaian. Berhentilah jadi corong membelanya. Kita bela habis2an, kita cuma dianggap penduduk kasta rendah saja oleh mereka.

Tabik.

(By Tere Liye)