Rencana Turki Mewujudkan Perjanjian Jalur Maritim dengan Palestina

[PORTAL-ISLAM.ID] Turki saat ini sedang mewujudkan perjanjian yuridiksi maritim dengan Palestina. Dialog ini sudah berlangsung antara pemerintah Turki dan Otoritas Palestina. Hamas juga sudah menyetujui dengan mengatakan perjanjian maritim Turki-Palestina adalah hal yang mungkin untuk diimplementasikan.

Jika terwujud, maka ini sangat membantu Palestina baik secara ekonomi dan keamanan. Sebagaimana yang sudah Turki lakukan dengan Libya. 

Dengan menandatangani perjanjian ini, rakyat Palestina akan memperoleh kendali atas zona maritim seluas 10.200 kilometer persegi, yang akan membuka jalan bagi mereka memanfaatkan semua sumber daya di laut.

Duta Besar Palestina untuk Turki Faed Mustafa menekankan bahwa negaranya tidak bisa mendapatkan keuntungan dari eksplorasi gas di Mediterania karena tekanan Israel.

Mustafa mengatakan Israel membatasi upaya warga Palestina untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan pengeboran gas di lepas pantai Gaza, yang ditemukan pada 1999, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari jalur pantai yang diblokade Zionis.

Ladang tersebut, yang diperkirakan mengandung satu triliun kaki kubik gas, tidak aktif selama hampir 20 tahun sejak penemuannya.

Namun tantangan dari ide ini setidaknya menurut saya ada tiga:

Pertama, bagaimana perjanjian yuridiksi ini disetujui pemerintah Cyprus Yunani dan Yunani yang juga memiliki perjanjian yuridiksi maritim dan pesaing Turki di kawasan. Pemerintah Siprus Yunani dan Yunani akan sangat menentang kesepakatan itu seperti yang mereka lakukan dengan perjanjian Libya. Apalagi perjanjian maritim Turki juga menyinggung jalur maritim Cyprus Yunani dan Yunani.

Kedua, memastikan Mesir menyutujui rencana itu sebagai negara yang memiliki pengaruh atas Palestina dan memiliki perjanjian maritim dengan Yunani. Untuk itu, diplomasi Turki kepada Mesir dalam isu Palestina dan isu maritim sudah berada di jalur yang tepat. Menlu Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan Turki dan Mesir bisa menandatangani perjanjian maritim jika negosiasi rampung. 

Ketiga, Israel akan menjadi tantangan utama. Negara zionis itu pasti tidak akan mengizinkan Otoritas Palestina untuk menegosiasikan demarkasi maritim. Keterlibatan Turki di Mediterania akan mengganggu eksistensi negara zionis itu di kawasan, apalagi Israel tidak mengakui Palestina sebagai negara.

Namun, situasi ini akan terus menarik untuk disimak. Upaya perjanjian ini juga memberikan pesan semakin kuatnya pengaruh Turki di kawasan. 

Setelah berhasil melakukan perjanjian maritim dengan Libya, menjadi aktor untuk meneken deal dengan Rusia di Suriah, dan berperan penting atas kemenangan Azerbaijan atas Armenia, kini Turki berupaya untuk memainkan diplomasi maritimnya di Palestina. 

Menurut saya, ini salah satu langkah ril untuk meningkatkan kedaulatan Palestina.

25/05/2021

(Oleh: Pizaro, jurnalis Anadolu)