Mana Yang Dulu Sok Nyantri Bully Ustadz Tengku, Sekarang Gus Miftah Salah Fatal Baca Kitab Kuning Kok Pada Mingkem?

Oleh: Suhari Abu Fatih (Pengasuh PPM Alfatih Klaten)

Dulu ustadz Tengku Zulkarnain dibully habis-habisan (oleh anak-anak muda yang merasa pernah nyantri) saat salah men-tasrif: kaffara-yukaffiru-kufran karena yang seharusnya tanpa tasydid: kafara-yakfuru-kufran yang artinya kufur atau mengingkari. 

Sedangkan jika pakai tasydid: kaffara-yukaffiru, maka masdarnya; takfiiran yang maknanya; mengkafirkan atau menghapuskan, tergantung siyaqul kalam (konteks kalimat). 

Sekarang pada kemana orang-orang itu? Kemana orang-orang yang suka membully sesama muslim hanya karena beda ormas atau beda pilihan politik itu? 

Kemana mereka saat Gus Miftah salah baca kutipan Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah dalam video klarifikasinya tersebut? Sejak kapan na'ibul faa'il (نائب الفاعل) berlaku majrur (dibaca kasrah) bukan marfu'? Dan sejak kapan gereja dalam bahasa Arab jadi kanasiyah, bukan kanisah (الكنيسة)? 

Apakah karena Gus Miftah adalah bagian dari mereka lalu haram mem-bully-nya sedangkan karena Tengku Zulkarnain bukan bagian mereka terus hukum mem-bully-nya berubah menjadi halal? 

Ataukah kondisi mereka seperti sebuah syair dari Diwan Asy Syafi'i yang sangat populer itu;
 
وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ ** وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي المَسَاوِيَا

"Mata yang penuh kerelaan akan buta terhadapan kekurangan, akan tetapi mata yang penuh kebencian akan menampakkan keburukan."

Saya tidak dalam kapasitas ingin membela atau membully siapapun, tapi jangan sampai kebenaran itu didasarkan pada golongan. "Kalau golongan kita pasti benar, sedangkan golongan lain pasti salah", ini sikap fanatisme yang sangat dibenci oleh Islam. 

Jangan pula merasa paling pinter hanya karena pernah nyantri karena hal seperti ini adalah sebentuk arogansi atau kesombongan!

Ilmu itu cahaya. Cahaya itu menerangi jika ditangan orang yang tepat. Namun bisa menyilaukan bahkan mecelakakan jika berada di tangan orang yang salah. 

Dan kepada para mubaligh (yang belum bisa membaca kitab dan tidak menguasai ilmu alat) jangan berani mendebat ulama yang lebih alim dan jangan gegabah dalam mengeluarkan atau mengutip fatwa fiqih karena Allah swt justru akan menampakkan kejahilanmu.

Ceramah-ceramah yang ringan-ringan saja. Yang isinya motivasi kebaikan. Yang isinya fadho'il amal (keutamaan amal) saja. Itu levelnya para mubaligh dan motivator yang belum menguasai ilmu alat. Jangan tergoda untuk ikut membahas dalil atau persoalan fiqih! 

Dalam klarifikasi itu, semestinya Gus Miftah cukup meminta maaf saja dan berjanji tidak mengulangi tindakan seperti itu. Gak perlu sok-sokan ngutip dalil. Karena bagaimanapun sikap anda salah dan sangat berpotensi menimbulkan syubhat dan penyimpangan pemikiran terutama bagi orang awam yang mengidolakan anda. 

Jangan jadikan perbedaan pendapat di kalangan para ulama sebagai dalil (landasan beramal) apalagi kalau perbedaan itu antara haram dan makruh, bukan antara makruh dan mubah. Ini makin mempertegas kalau anda tidak faham dialektika para fuqoha. 

Makruh dalam istilah ulama salaf semisal Abu Hanifah itu sepadan dengan haram dalam pandangan ulama khalaf. 

Ini serupa dengan hukum rokok yang sering disalahpahami itu. Jangan karena ulama Syafi'iyah me-makruhkan-nya lalu anda anggap rokok itu mubah. Makruh itu bukan mubah. 

Sekelas tokoh yang menjadi panutan, jangankan hal-hal yang makruh, perkara-perkara yang halal namun berpotensi menimbulkan syubhat dan fitnah sebaiknya dihindari. 

Oleh karena itu sebagian ulama salaf berkata; "aku berusaha meninggalkan sebagian perkara yang halal dengan maksud agar aku tidak terjatuh ke dalam perkara yang haram". 

Ada juga kaidah yang diajarkan oleh Imam Asy Syafi'i bahwa: ترك الخلاف مستحب (menghindari wilayah khilafiyah sangat dianjurkan), apalagi kalau motivasinya hanya sebatas pujian dan sanjungan dari orang-orang kafir. 

Sebutan toleran atau moderat atau negarawan atau status yang lain, bagi saya gak penting sama sekali, apalagi kalau status-status seperti itu dari orang-orang kafir yang mensekutukan Allah swt. 

Wallahu a'lam...

[VIDEO Koreksi Atas Kesalahan Bacaan Kitab Kuning Gus Miftah]
Baca juga :