KPK, RIWAYATMU KINI

KPK, RIWAYATMU KINI

Anda nyimak kegaduhan seputar KPK mulai kemarin? Tentang kabar akan dipecatnya sekitar 75 penyidik senior dan pegawai yang selama ini dikenal integritasnya dalam kerja pemberantasan korupsi. Yang akan dipecat itu antara lain Novel Baswedan.

Memang banyak "keajaiban KPK" era kepemimpinan Firli. Seperti hilangnya truk berisi penuh barbuk. Bocornya penggeledahan. Juga skandal suap memalukan yang melibatkan penyidik dalam kasus Tanjung Balai. Dan yang legendaris: raibnya Harun Masiku. 

Saya termasuk yang agak-agak patah hati setelah KPK UU-nya direvisi. Percaya, sesudah itu akan dimulai proses pelemahan lembaga anti rasuah ini. Independensi KPK tentu saja terganggu dengan keharusan pegawainya menjadi ASN. Juga kehadiran Dewas, ikut pula "mengganjal" gerak laju KPK.

Orang dalam KPK pun gerah. Sang jubir misalnya, Febri Diansyah yang mantan aktivis ICW, memilih mundur. Yang memilih bertahan syukurlah tetap komit dan menjaga integritasnya sesuai visi misi KPK sejak awal lembaga itu berdiri.

Terbukti, para penyidik senior yang dikenal integritas dan keberaniannya, tetap mampu membongkar skandal korupsi besar. Seperti kasus korupsi bansos yang melibatkan Mensos  Juliari. Sebuah skandal luar biasa yang menyeret nama "anak pak lurah" dan "Madam Bansos" dalam pemberitaan media.

Apa yang terjadi kemudian?

Sepanjang hari kemarin, media mainstream dan medsos riuh oleh berita ancaman pemecatan terhadap 75 penyidik dan pegawai KPK. Mereka yang selama ini sudah terbukti keahliannya, teruji integritasnya dalam membongkar mega skandal korupsi. Terancam dipecat, padahal mereka sedang menangani kasus-kasus korupsi besar. 

Lantaran apa?

Tak lulus seleksi ASN dalam ujian "Wawasan Kebangsaan". Itulah kabar yang ramai tersiar kemarin.
Ajaib! Penyidik dan pegawai yang sudah terbukti keahliannya, teruji integritasnya, tidak "diluluskan" dalam tes  "Wawasan Kebangsaan". Bahwa mereka memburu koruptor dengan keahliannya untuk menyelamatkan uang negara, itu saja sudah mencerminkan wawasan kebangsaan. 

Aroma anyir lantas saja tercium melihat pertanyaan aneh-aneh dalam tes Wawasan Kebangsaan. Seperti bagaimana sikap mereka terhadap FPI, Harish, penista agama, China, hingga yang paling aneh, apakah sholat subuhnya dengan qunut atau tak. 

Aktivis anti korupsi dan tokoh-tokoh bangsa yang concern pada pemberantasan korupsi terhenyak. ICW misalnya, terang-terangan menilai bahwa penyingkiran 70 lebih penyidik dan pegawai berintegritas itu sudah direncanakan sejak UU KPK yang baru itu diberlakukan. 

Senada yang diungkapkan Novel Baswedan. Upaya penyingkiran itu sudah lama. Dimunculkan misalnya, isu Taliban. Cuma dulu upaya itu dilakukan pihak luar KPK. Kali ini justru datang dari pimpinan KPK melalui akal-akalan tes "Wawasan Kebangsaan". 

Seperti biasanya, para buzzeRp bersorak-sorai merayakan. Geng Taliban, kelompok radikal, kata mereka, dibersihkan dari KPK. Padahal sebagian dari 75 orang yang akan dipecat itu non Muslim. Kesamaannya dengan yang Muslim: punya keahlian memburu koruptor dan  integritasnya teruji. 

Namun komplotan buzzeRp dan kaki tangannya tetap memaksakan isu radikal.
Memang komplotan buzzeRp itu juga yang dulu bersorak-sorai saat revisi UU KPK disahkan. Antara lain mereka mainkan isu Taliban. Isu aneh di luar nalar. Cuma karena terus-menerus digelontorkan, diramaikan menjadi ujaran, disokong pula oleh media, kalangan yang lemah akal pun percaya. 

Begitulah. Akhirnya, saya ingin mengucapkan, selamat jalan KPK, semoga diterima "di sisinya". 

Salam

(Banda Bening)