Kans Anies Baswedan, Kandidat Kuat dari Kubu Non-Pemerintah

Kandidat Kuat dari Kubu Non-Pemerintah

- Anies Baswedan dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi calon presiden 2024.
- Sejumlah survei menempatkan Anies Baswedan dalam posisi atas elektabilitas calon presiden. 
- Pakar politik menilai Anies Baswedan memiliki modal sosial dan politik yang cukup untuk pemilihan presiden 2024.

Peluang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi calon presiden 2024 terbuka lebar. Sejumlah ahli politik mengatakan Anies memiliki modal sosial dan politik yang cukup untuk bertarung dalam pemilihan presiden. Mereka juga menilai posisi Anies yang berseberangan dengan pemerintah memberikan keuntungan.

Pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai Anies adalah tokoh teratas yang sepadan dengan figur dari koalisi pendukung pemerintah. “Anies berpeluang besar diunggulkan menjadi calon presiden bukan karena kinerja, tapi dia satu-satunya pemimpin yang berseberangan dengan pemerintah,” kata dia kepada Tempo, kemarin.

Selain modal sosial, Anies memiliki modal politik karena jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dia juga ambil bagian dalam kampanye Joko Widodo-Jusuf Kalla saat pemilihan presiden 2014. Selanjutnya Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam pemerintahan Jokowi-Kalla, dan belakangan dicopot dari jabatan di kabinet itu.

Adi memprediksi Anies dipinang oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga mendukungnya dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017. Partai lain yang mungkin bergabung adalah Partai Demokrat. Demokrat selama ini selalu menyatakan bukan partai pemerintah dan bukan bagian dari oposisi, meski perilaku politiknya oposisi. Demokrat pun memiliki figur menonjol, yaitu Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono, yang diprediksi berpasangan dengan Anies.

Anies juga ditaksir menjadi magnet bagi partai-partai Islam, seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Adi mengatakan, ada juga peluang Partai Golkar dan Partai NasDem mendukung Anies menjadi calon presiden.

Analisis Adi seputar modal sosial Anies berbanding lurus dengan survei yang digelar Indikator Politik Indonesia, Maret lalu. Anies mengantongi tingkat elektabilitas 15,2 persen dari 1.200 responden anak muda berusia 17-21 tahun. Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, mengemukakan bahwa sebagian besar pemilih Anies adalah pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam pemilihan presiden 2019. "Basis suara Prabowo-Sandi banyak yang diambil Mas Anies," kata Burhanuddin.

Dalam berbagai survei, nama Anies juga selalu masuk daftar tiga besar sebagai tokoh yang memiliki elektabilitas moncer. Pekan lalu, lembaga riset Puspoll Indonesia mencatat nama Anies berada di urutan kedua sebagai calon presiden dengan angka keterpilihan 15,4 persen. Di posisi pertama adalah Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dengan torehan elektabilitas sebesar 20 persen. Sedangkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berada di posisi ketiga dengan elektabilitas 13,8 persen.

Selain pada tataran survei, dukungan kepada Anies bermunculan dari pelbagai kelompok. Di Makassar, sejumlah warga membentuk Komunitas Mileanies untuk mendorong pemimpin Ibu Kota itu berkompetisi dalam pemilihan presiden.

Di Solo, posko dukungan Anies didirikan oleh pengusaha beras asal Sragen, Billy Haryanto, pada akhir April lalu. Sebelumnya, Billy merupakan pendukung Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2014 dan 2019.

Billy mengaku blak-blakan mendukung Anies melaju sebagai calon presiden 2024 lantaran mempunyai firasat bahwa Gubernur DKI Jakarta itu memiliki kesempatan besar untuk memenangi pilpres 2024. “Nah, kalau dulu tempat saya ini pernah menjadi posko pemenangan dan turut mengantar Pak Jokowi dua kali menang pemilihan presiden, sekarang feeling saya lebih ke Anies yang punya kans besar di 2024. Makanya joglo saya dijadikan posko kemenangan Anies,” kata Billy.

Anies pun bertemu dengan sejumlah petinggi partai sejak 2019. Beberapa bulan setelah pemilu, dia menyambangi kantor Partai NasDem dan menemui Ketua Umum Surya Paloh. Anies pun diundang dalam kongres NasDem dan sempat memberikan sambutan.

Pada Februari lalu, Anies juga bertemu dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Sang Gubernur turut bersamuh dengan pemimpin partai lain, yaitu Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono di Balai Kota dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan.

Safari Anies turut menjangkau luar DKI Jakarta. Akhir April lalu, dia mendatangi sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan dalih menyepakati kerja sama pangan antardaerah. Di sela-sela kunjungannya, dia menemui Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Madiun dan mampir ke rumah dinas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang.

Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Aditya Perdana, mengatakan safari Anies sebagai salah satu keuntungan kepala daerah atau pejabat publik dalam konteks persiapan pemilihan presiden. Aditya mengatakan Anies punya seribu alasan untuk keliling daerah atas nama apa yang mereka lakukan. “Tugas yang paling utama ya sosialisasi. Test the water,” kata dia.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah, menganggap Anies memiliki dua keuntungan. Pertama adalah jabatannya sebagai Gubernur DKI. Ia mengatakan pemimpin Ibu Kota memiliki banyak kesempatan membangun popularitas sekaligus elektabilitas.

Anies, kata dia, juga dicitrakan sebagai tokoh yang berseberangan dengan pemerintah. Kesan itu sudah terbentuk ketika mengikuti pemilihan gubernur melawan inkumben Basuki Tjahaja Purnama pada 2017. Saat itu, Basuki didukung oleh banyak partai pendukung pemerintah, kecuali Gerindra.

Menurut Dedi, Anies berpeluang untuk didukung partai-partai menengah, seperti NasDem, PKS, dan PPP. Demokrat juga berpotensi mendukung Anies, sehingga dapat menciptakan poros baru di luar PDIP dan Gerindra yang tengah santer dibicarakan.

Sementara itu, Golkar masih menginginkan pemimpinnya, Airlangga Hartarto, sebagai calon presiden. "Di situlah satu poros koalisi baru di luar PDIP, Gerindra, dan Golkar terbentuk," kata Dedi.

Tempo berupaya menghubungi Anies untuk meminta tanggapan. Namun, hingga berita ini ditulis, Anies belum merespons. Tempo juga mengontak Geisz Chalifah, pendukung loyal Anies yang juga Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol, yang mayoritas sahamnya dimiliki pemerintah DKI Jakarta. Tapi Gheiz menolak menjawab seputar persiapan Anies menuju pemilihan presiden 2024. “Enggak sesuai dengan posisi saya sebagai Komisaris Ancol,” kata dia.

Pada 11 Mei lalu, Geisz berkicau di akun Twitter miliknya, @GeiszChalifah, perihal hasil survei yang menunjukkan Anies memiliki elektabilitas tinggi sebagai calon presiden. Ia menyatakan banyak ditanya wartawan perihal hasil survei ini. Dalam cuitannya, Geisz mengklaim selalu memberikan jawaban yang sama atas pertanyaan semacam itu.

Dalam cuitannya, Geisz mengatakan pemilihan presiden masih lama, tapi hasil survei sudah berkali-kali dirilis yang menempatkan Anies pada posisi di atas. “Teman wartawan bertanya tentang hasil survei. Jawaban gue selalu sama: Tolong jangan bikin para buzzerRp sakit jantung, saya bukan kasihan pada mereka tapi pada tenaga medis yang lagi sibuk ngurus pasien Corona," begitu isi cuitan Geisz.

👉SELENGKAPNYA BACA DI KORAN TEMPO (29/5/2021).