JERUSALEM POST: Walaupun Israel Memenangkan Pertempuran, Tapi Hamas lah Yang Memenangkan Peperangan

[THE JERUSALEM POST]
Israel Memenangkan Pertempuran, Hamas Memenangkan Perang

“But in this round, no matter how many terrorists or facilities are hit in Gaza, Hamas appeared for the first six days to have the upper hand, sparking chaos on all fronts. It managed to shift the battlefield from the areas within its rocket range to the entire country, with riots shaking all corners of Israel.” -The Jerusalem Post-

[Tapi dalam perang kali ini, tidak peduli berapa banyak teroris atau fasilitas yang diserang Israel di Gaza, Hamas tampaknya selama enam hari pertama berada di atas angin, memicu kekacauan di semua lini. Itu berhasil menggeser medan perang dari daerah-daerah dalam jangkauan roketnya ke seluruh negeri, dengan kerusuhan mengguncang seluruh penjuru Israel.]

***
Jalan juang yang ditempuh Hamas sudah benar, on the right track

Itulah kenapa sekarang ini bermunculan "yahudi2 pesek" untuk merusak opini Umat.

Sejak perjanjian Oslo, Zionis Israel tidaklah merampas tanah Palestina kecuali dari tangan mereka yang berdamai dengannya. Pemukiman Yahudi di Tepi Barat bertambah tiga kali lipat sejak 1993. Padahal, Israel berjanji untuk meninggalkan Tepi Barat (dan Gaza) sesuai perjanjian Oslo. 

Memerdekakan tanah Palestina 'hanya' bisa dilakukan dengan perlawanan (baik sipil maupun militer) seperti intifadhah Al-Aqsha tahun 2000 yang mampu memaksa Israel keluar dari Gaza tahun 2005. Perdamaian dan normalisasi dengan zionis hanya menjadikan mereka yang berdamai sebagai lelucon (dan boneka) bagi para pejabat Israel. 

Perlu dicatat bahwa agresi militer Issael terhadap Gaza seperti yang terjadi mulai dari tahun 2008, 2012 dan 2014 juga tidak mampu menaklukkan perlawanan para Pejuang Palestina. Dan insya Allah agresi kali inipun tidak akan mampu mengalahkan para pejuang Palestina. Bahkan, andaikan mereka mampu menjajah Gaza lagi, sebagaimana mereka pernah menjajahnya Hampir 40 tahun (sejak perang 6 hari tahun 1967 sampai tahun 2005) perlawanan akan kembali tumbuh sebagaimana Hamas justru tumbuh di Gaza dan menguasainya secara de facto tahun 2007. 

Orang bilang, Yang kuat dianggap kalah jika tidak memenangkan peperangan dan yang lemah dianggap menang jika tidak dikalahkan secara total. Apa yang hari ini terjadi di Palestina dengan jelas menggambarkan kekalahan zionis Israel. Jangan lupa, bahwa setengah dari mereka yang hari ini mendiami tanah Palestina bukanlah orang Yahudi, mereka adalah bangsa Arab Palestina asli baik yang menetap di Gaza, Tepi Barat, Al-Quds atau wilayah-wilayah Israel lainnya (Palestina terjajah). 

Jika pada hari ini rakyat Palestina bersatu untuk menentang zionis baik dengan tulisan-tulisan di tembok, demonstrasi, mogok massal, pembangkangan sipil hingga bentrokan bersenjata, itu artinya pemerintahan rasis ini sedang hidup dan mengelola sebuah negara yang setengah lebih dari penduduknya adalah para pembangkang. 

Saat ini, Pemerintahan Zionis berada dalam kekacauan dan pemerintahan bisa lumpuh jika agresi terhadap Gaza tak segera dihentikan. Belum lagi jika kita melihat sekte-sekte Yahudi moderat yang menentang zionis. 

Karenanya tidak berlebihan jika The Jerusalem Post memuat sebuah analisa bahwa Isreel memang memenangkan pertempuran, tapi Hamaslah yang memenangkan peperangan. 

IDF memang berhasil membunuh rakyat Palestina, tapi dari dalam, bangunan Pemerintahan mulai roboh. 

Roket Hamas yang sudah mampu menjangkau semua wilayah Israel (Palestina terjajah) menjadikan negara rasis ini bukan lagi tanah impian yang aman untuk ditempati. Banyak kaum Yahudi yang hari ini lebih memilih tinggal di Amerika dan Eropa. 

Selain itu, dukungan dan solidaritas dari masyarakat sipil Palestina di Tepi Barat, Al-Quds dan Wilayah-wilayah Palestina terjajah lainnya terhadap kelompok perlawanan bersenjata di Gaza juga mengindikasikan bahwa rakyat Palestina di Tepi Barat dan lainnya sejatinya menolak sikap berdamai dengan Israel, yang berdamai hanyalah 'otoritas Palestina' dan para pegawainya, bukan rakyat. 

Dukungan dari rakyat Palestina diluar Gaza terhadap kelompok perlawanan juga mengisyaratkan bahwa hanya kelompok perlawanan bersenjatalah yang mewakili perjuangan rakyat Palestina. 

Pada akhirnya, kemerdekaan Palestina adalah hal yang 'sangat mungkin' bahkan pasti secara syari'at meskipun itu membutuhkan kesabaran yang tak terbatas terutama saat bangunan-bangunan dihancurkan dan darah-darah ditumpahkan. Pengkhianatan (baik sesama rakyat Palestina ataupun oleh negara-negara Arab) dan perpecahanlah yang menunda pembebasan. Dan tentunya kedekatan dengan Allah SWT adalah faktor paling penting sebuah kemenangan.

(Taufik M Jusuf)