Singapura Surga Koruptor? Buruk Muka, Cermin Yang Elu Pecahkan!

Singapura surga koruptor?

Wah, sebentar, dek, sebentar sayang. Tuduhan keji ini sengaja elu lontarkan karena elu nggak becus? Atau memang begitu realitasnya?

Kita itu selalu menyalahkan Singapura soal buronan koruptor. Tahu tidak, Indonesia-Singapura telah punya perjanjian ekstradisi, 27 April 2007, bersamaan dgn DCA (Defense Cooperation Agreement). 

Tapi perjanjian ini baru sah menjadi peraturan negara jika DPR menyetujuinya, istilah kerennya ratifikasi. 

Sekarang, coba elu tanya ke DPR, 14 tahun berlalu, pernah mereka serius membahasnya? Pernah mereka benar2 mau menyetujuinya? Pernah pemerintah serius maksa agar itu segera jadi, kayak UU Cilaka dulu? Semangat sekali. Pandemi, demo, tetap maksa selesai. Coba kalau ratifikasi ini juga begitu semangatnya. Pernah? Selalu ada alasan bagi mereka buat ngeles.

Singapura itu ranking 3 dari negara-negara terbersih di dunia, dari skor Corruption Perceptions Index (CPI). Ranking 3, Kawan. CPI itu bukan main-main, itu skor serius. Indonesia ranking 102. Ampun dah, ada anak, bandel sekali di kelas, ranking 102 paling bandel, terus bilang ke Emaknya, 'Mak, itu si Susi yg nakal!' Lucu.

Singapura tidak tertarik melindungi koruptor. Buat apa? Agar koruptor bisa nanam uang di sana? Duuh, uang koruptor Indonesia itu ditotalkan paling cuma 5-10 milyar dollar. Cuma ingus buat Singapura. Apalagi Harun Masiku, berapa sih uangnya? Ini orang kalau masih hidup, entah tinggal berapa tabungannya.

Jadi jangan dibalik logika ini. Indonesia lah yang tidak pernah mau meratifikasi perjanjian yg telah disetujui 2007 tsb. Coba tanya Singapura, mereka sih nunggu kita. Mereka terbuka saja jika kita mau ekstradisi. Tapi hello, kalau elu belum jadikan peraturan di negeri sendiri, elu mau ekstradisi apanya? 

Buruk muka, cermin elu pecahkan. Berhentilah 'tipu2' kemana2. Lagian kalau elu memang NIAT mau nangkepin itu koruptor, bahkan tdk ada perjanjian ekstradisi, itu koruptor bisa dibawa. Kan bisa dibicarakan baik2. Di setiap negara yg masih waras, koruptor itu musuh bersama. Mereka juga tidak mau negaranya jadi tempat koruptor. Saya terus-terang, soal buronan koruptor ini, lebih percaya omongan pejabat dgn CPI ranking 3 dibanding pejabat dgn CPI ranking 102.

Jadi, buruan itu diratifikasi. Nggak usah ngeles argumen bawa2 DCA segala. Kalau itu DCA bermasalah, ayo dong, elu bahas lagi. Revisi soal lokasi latihan militer, dll. Ajak Singapura diskusi lagi. Niat gitu loh. Biar Harun Masiku, jika betulan kabur ke Singapura, bisa elu tangkap bawa pulang. Dan tidak ada lagi nyalahin Singapura.

Haruuun, kamu dimanaaa? 'Teman2' elu di senayan tolong ditanyain dooong, kapan mau menyetujui ratifikasi ekstradisi tsb.

(By Tere Liye)

*fb