LOUDSPEAKER MASJID

LOUDSPEAKER MASJID

Oleh: Harudi Mugiyo*

Saya sebetulnya aliran loudspeaker masjid untuk adzan saja. Pada penggunaan harian. Dan ditambah qiraah pada hari jumat. Agar umat bersiap-siap. Walaupun qiraah itu tidak lebih dari rekaman saja. Sesuatu yang jelas tidak ada pada zaman nabi. Tapi demikianlah yang terjadi. 

Sekarang di daerah jawa timur agak berbeda lagi. Walaupun mungkin tidak semua tempat, tetapi sebelum adzan diputar lagu syiiran. Yang dinyanyikan oleh seorang tokoh. Berbahasa Jawa. Setengah jam lebih sebelum adzan dikumandangkan.

Walaupun demikian saya tidak setuju dengan wacana peniadaan adzan dengan corong, yang beberapa tahun lalu sempat mengemuka. (Corong = Louspeaker outdoor yang ada horn nya)

Di bulan puasa seperti ini yang terasa bermasalah itu kan loudspeaker untuk tadarus. Karena tadarus itu waktunya lama. Tak terbatas. Sehingga ada yang mengusulkan bahwa perlu pembatasan speaker luar tidak boleh lebih dari jam 21.00. Sedangkan tadarusnya sendiri tidak ada pembatasan. Unlimited.
Kalau saya justru sangat terganggu jika yang tadarus bercorong luar itu adalah emak emak. Ibu ibu.
Kenapa? Karena suara ibu ibu tidak sebaiknya dicorongkan. Ada aturannya. 

Masalah lagi adalah saat "penggugahan sahur". Ini sering juga bermasalah. Setiap daerah punya kearifan lokal. Yang jelas tidak ada dalam tuntunan agama. Sekedar improvisasi saja. Ada yang pakai thethek. Ada yang pakai tabuhan yang lain. Bahkan ada yang pakai teriak sahur sahur di masjid. 

Di Maluku Utara malah terkenal dengan acara GENDANG SAHUR. Mereka sangat serius. Membawa truk besar untuk tempat sound sistem. Dengan biduanita serius di atas truk. Dan dengan lagu yang serius. Dan tak jarang pemilik rumah yang digendangsahuri juga ngasih tips yang juga serius.

Ini belum. Ada lagi kebiasaan yang sangat berbahaya. Yang sama sekali bertentangan dengan aturan agama. Yaitu budaya membunyikan petasan. Yang tentu sangat boros, berbahaya dan mengganggu ketertiban umum. Yang entah mulai kapan ikut nimbrung dalam meramaikan ramadhan. Yang mana sejak dulu ini menjadi tugas pak Polisi untuk berkeliling memastikan setiap wilayah aman dari mercon. Tetapi seperti sebuah kebanggaan anak jaman dulu jika berhasil mengecoh pak polisi yang berpatroli. Sementara bocah mbeler ini tetap dengan bangga membunyikan petasannya. Betapa nakalnya.

Di televisi acara sahur - dulu - biasanya diisi dengan kajian. Atau bahkan guyonan tidak jelas dari para artis. Saya sudah lama tidak nyetel tipi. Jadi tidak tahu sekarang. Dulu suka melihat para pencari Tuhan. Terutama saat dialog Azam ngegombal istrinya. Demikian puitis dan filosofis. Ingin ikut menirukan. Tapi sama istri malah diketawain. Dikirain lagi salah obat. Piye jal.

Pandangan dan perasaan saya terhadap segala keruwetan dan kebid'ahan loudspeaker ini tetiba sirna ketika saya tinggal di negeri jauh. Jangankan speaker masjid, wong kita ngorok terlalu keras saja bisa dilaporkan tetangga sebelah. Dilaporkan ke polisi gaes. Bukan kaleng-kaleng. 

Negeri yang menempatkan ketertiban sebagai agama mereka.

Betapa sunyi senyap tanpa ruh. Tanpa blekethiek Ramadhan. Tanpa suara tadarus yang kadang dibacakan seorang pemula yang blekak blekuk yang ternyata ngangeni ati (bikin rindu -red). Tanpa gendang sahur yang jika tidak dibukakakan pintu kadang dengan nakalnya mematikan meteran listrik. Tanpa teriakan sumbang dari masjid jam 3.00 dini hari membangunkan sahur.

Sungguh aku rindu.

Aturan loudspeaker masjid ini memang dilakukan oleh hampir semua negara islam. Mulai Arab, timur tengah, Afrika sampai ke Malaysia. Di tempat itu loudspeaker tentu tidak seganas di sini.

Tapi harus diingat juga, di negara-negara islam itu hajatan dan dangdutan juga tidak seganas di sini :)

*Sumber: fb penulis
**plus komen-komen tanggapan