Wartawan Senior Menyesal Menulis Buku tentang SBY

[PORTAL-ISLAM.ID]  Wartawan senior Saefudin Simon menyesal menulis buku “SBY Bapak Pemberantasan Korupsi”. Buku itu ditulis saat kampanye pilpres periode kedua SBY.

Berikut penjelasan Saefudin Simon dalam tulisan berjudul Menyesal Menulis Buku tentang SBY.

Tahun 1996-an aku pertama mengenal SBY di Cilangkap. Saat itu, ada pidato SBY tentang peran ABRI menyongsong Abad 21. Yang bicara SBY. Wah, aku kagum luar biasa. Gaya bicaranya tertata, orangnya ganteng, tinggi, dan terlihat sopan.

Mas Purwadi Tjitrawiyata (almarhum), wartawan senior Republika, yang bareng ke Cilangkap, bilang: Simon, dia rising star di ABRI. Mas Pur memprediksi, Pak Soesilo akan jadi presiden.

Prediksi Mas Pur benar. Saat Pilpres aku pilih SBY. Sampai aku bikin buku “SBY Bapak Pemberantasan Korupsi” saat kampanye Pilpres SBY untuk periode kedua. Yang cari dana penerbitan buku, Sutan Bhatoegana (SB). Saat itu, SB Ketua Komisi VII ( Bidang Energi) DPRRI. Uangnya dari BP Migas, 100 juta.

Ada hal menarik. Saat buku “SBY Bapak Pemberantasan Korupsi’ diluncurkan di ballroom Hotel Sultan, Jakarta ( dulu Hilton Hotel), dan SBY menyambutnya, yang maju ke depan bukan aku sebagai penulisnya. Tapi Sutan Bhatoegana. Bahkan orang-orang yang dapat buku, minta tanda tangannya pada Sutan.

Yo wis, aku diam aja. Mungkin Sutan sedang cari panggung. Aku memaklumi saja tingkah politisi.

Rupanya buku itu, dikira oleh orang-orang Demokrat, SB-lah penggagasnya. Simon hanya menuliskannya. Jadinya semua hal ihwal tentang buku itu diambil alih oleh SB. Bahkan saat SBY kampanye di Gedung PRJ Kemayoran, bendera bergambar cover buku tersebut berkibar di sepanjang jalan, dari Cempaka Putih sampai Kemayoran. Aku, tak digubris, apalagi dipertemukan dengan SBY oleh SB.

Suatu ketika SB memanggilku. Simon, kata SB, SBY senang dengan buku itu. Ia minta dicetak lagi 1 juta eksemplar untuk kampanye. Kalau kamu dapat royalti, nanti aku minta 50 persen ya. Kan aku yang membawa buku itu ke SBY, ujarnya.

Aku iyain aja. Bayanganku, andai dicetak 1 juta eksrmplar, dan aku dapat royalti 2000 perak perbuku, aku dapat uang 2 M. Tak apa jika SB minta 50 persen. Aku masih dapat 1 M. Wah, jadi milyarder nih, batinku.

Tunggu punya tunggu, ternyata, sepengetahuanku, cetak ulang itu gagal. Yang jelas aku tak tahu, jadi nggak dicetak 1 juta eksemplar itu. Gak ada kabar. Wallahu a’lam. Aku sih nyantai aja, toh uda dapat kelebihan 40-an juta dari cetak buku 3000 eksmplar saat itu. Bersyukur aja, jerih payahku terbayar meski urung jadi milyarder.

Setelah SBY jadi presiden dan Anas Urbaningrum jadi Ketum PD, Demokrat mulai ramai. Aku waktu itu berharap besar pada AU, mantan Ketua PB HMI, untuk meneruskan estafet SBY. Ya, AU harus jadi presiden. Teman-teman HMI sering rapat di Jakarta, membahas bagaimana cara mengusung AU jadi RI-1. Prof. Ahmad Mubarok waktu itu jadi bintang. Ia wakil Ketum PD. Diam-diam Prof. Ahmad Mubarok, berharap AU jadi RI-1 paska SBY. Dialah tangan kanan SBY sekaligus tangan kanan AU.

Tetiba, Demokrat terseok. Gegara Nazarudin (NZ) Bendum Demokrat, terciduk KPK. NZ tak mau dipenjara sendirian. AU pun diseret. Juga Ibas. AU hanyut. Ibas tidak. Padahal, logikanya, jika Bendum terseret, AU terseret, Ibas sebagai Sekjen pasti terseret. SBY tampaknya melindungi Ibas.

Apakah AU sedemikian serakah? No. Menurut orang dekat AU, ia sebetulnya pribadi yang sederhana. Ketika jadi Ketum PD, rumah Anas sederhana sekali. Padahal tamunya orang-orang besar. Seorang pengusaha punya inisiatif untuk membangun rumah Anas agar sesuai jabatannya, Ketum PD, partai berkuasa. AU menolak berkali-kali. Tapi kemudian, atas saran teman2 dekat AU, pengusaha itu membuat rumah untuk AU. Rumah itulah yang kemudian dituding KPK dibangun dari uang korupsi AU. Menurut teman2 dekat AU seperti Saan Mustofa dan I Gede Pasek Suardika, AU tidak makan uang korupsi. Tuduhan AU korupsi hanya rekayasa SBY. Ini karena, jika AU jadi presiden, fam SBY akan tersingkir. Makanya, jangan heran sampai detik ini, AU selalu menyatakan, dirinya adalah korban rekayasa SBY.

Kembali ke buku “SBY Bapak Pemberantasan Korupsi”. Ternyata, hanya berselang dua tahun buku itu terbit, yang terjadi adalah sebaliknya. SBY bukan lagi bapak pemberantasan korupsi. Tapi bapak yang lingkaran dekatnya penuh korupsi. Apakah SBY sendiri koruptor? Wallahu a’lam. Yang jelas, aku menyesal telah menulis buku SBY Bapak Pemberantasan Korupsi

Maafkan hamba ya Allah. Hamba tidak tahu, kalau begini kejadiannya. Tapi hamba yakin, Engkau punya cara untuk menegakkan keadilan sejati. Wallahu khairul maakirin. Engkaulah Perekayasa Terbaik! [suaranasional]