Saya Bingung, tak Mengerti

Saya Bingung, tak Mengerti

Saya di atas bukan saya penulis, melainkan pakar politik Salim Said. Beliau mengatakan saya bingung, saya tak mengerti, saat diminta tanggapan dalam acara Kabar Indonesia Malam, tvOne, semalam, soal Partai Demokrat.

Menurut saya beliaulah pakar politik, pengamat politik yang paling pas, berimbang, sekaligus tajam, menanggapi persoalan Partai Demokrat saat ini. Kisruh tak menentu, berputar-putar, hingga terpilihnya Moeldoko di KLB, kemarin.

KLB ini sendiri ditanggapi SBY, AHY, dan sejumlah elit Partai Demokrat, sebagai KLB ilegal, KLB abal-abal, KLB icak-icak, KLB bodong, dan sebagainya. SBY menegaskan Indonesia berkabung, demokrasi sudah mati.

Tapi, di atas banyak tanggapan, pendapat, komentar, dari banyak pakar, pengamat, netizen, Salim Said punya pendapat sendiri yang jauh lebih pas, berimbang, tapi tajam. Bukan ecek-ecek dan jelas terlihat tak berpihak.

Beliau mengaku bingung tak mengerti, tapi sebetulnya sangat sadar dan sangat mengerti. Beliau bingung kenapa SBY mewariskan Demokrat kepada AHY. Kharisma itu tak bisa diwariskan, bahkan pada anak sendiri, katanya.

Barangkali maksud beliau, kesalahan SBY terlalu buru-buru mewariskan Demokrat kepada AHY, di saat bahkan partai sekelas Gerindra dan PDIP pun, belum melakukan itu dan sangat hati-hati. Terlalu cepat elit lama tersingkir.

Beliau juga menyorot orang-orang di sekitar AHY. Entah apa nasihat-nasihat politik yang diberikan? Memang, terlihat orang-orang muda dan masih baru. Barangkali itulah kenapa situasinya cepat matang dan akhirnya begini.

Beliau juga bingung dan tak mengerti dengan Moeldoko. Partai Demokrat saat ini bukanlah Partai Demokrat yang berjaya pada masanya. Kok sebegitunya? Apa tak ada cara lain? Pergeseran sudah terjadi. Kok tak melihat?

Inilah yang membuat Salim Said bingung dan tak mengerti dengan situasi saat ini. Mungkin menurut beliau, semua ini sebetulnya tak perlu terjadi, kalau masing-masing pihak sadar dan mengerti. Tapi, toh, semuanya sudah bingung dan tak mengerti seperti dirinya. Mau apa lagi?

(Oleh: Erizal)