Prof. Dr. Muhammad Imaroh, Dari Marxis Menjadi Pembela Islam

Dari Marxis Menjadi Pembela Islam

Prof. Dr. Muhammad Imaroh dulunya adalah seorang marxis. 

Dia dikenal dengan status itu. Bahkan dia bukan sekadar penganut ideologi itu tetapi menyandang predikat sebagai ahli teorisasi filsafat marxisme. 

Allah Ta'ala sebagai Penguasa hati manusia dan Yang membolak-balikkannya dari sebuah keadaan kepada keadaan lain memberikan hidayah padanya. 

Muhammad Imaroh mulai berkenalan dengan pemikiran Islam. Pemikiran muktazilah adalah awal perjumpaannya dengan pemikiran Islam.

Latar belakangnya sebagai ahli filsafat menemukan kecocokan dengan pemikiran muktazilah. Filsafat basisnya adalah akal. Pun, teologi muktazilah juga didominasi akal. 

Pada fase itu Dr. Muhammad Imaroh memuji pemikiran muktazilah dan memandangnya sebagai puncak rasionalitas pemikiran Islam.

Tapi perjalanan pemikirannya tak berhenti di situ. Imaroh mulai mengkaji secara dalam pemikiran teologi asy'ariyyah. Pemikiran teolog-teolog asy'ariyyah dikaji dan ditelitinya. Terutama pemikiran Imam Abu Hamid Al-Ghozali rohomahullah. 

Jadilah Dr. Muhammad Imaroh menguasai dua aliran teologi besar dalam pemikiran Islam: muktazilah dan asy'ariyyah. 

Maka, Muhammad Imaroh pun menjadi ahli filsafat dan ahli ilmu kalam.

Allah Ta'ala masih punya rencana padanya. Dia Yang Maha Lembut mengenalkkan Muhammad Imaroh dengan gerakan Islam. Imaroh berkenalan dengan pemikiran reformasi (ishlah) Ikhwanul Muslimin. 

Pada fase itu kental sekali karakter ishlah dalam buku-bukunya. Pembelaannya pada Islam, syariat dan gerakan Islam kuat sekali.

Dia mengkritik Hasan Hanafi. Dan kritikannya oleh Hasan Hanafi dipandang sebagai kritikan yang muncul dari orang yang paham tentang hakikatnya. 

Dia mengkritik Nawal As-Sa'dawi. Bahkan pernah berdebat langsung dalam sebuah forum diskusi. 

Dalam diskusi tentang posisi wanita dalam Islam dia berhasil membungkam biangnya femenisme di Dunia Arab itu. 

Ketika menjelaskan tentang warisan, Muhammad Imaroh menegaskan bahwa Islam dalam membagi warisan antara laki-laki dan perempuan tidak pernah memandang dari sisi gender. Tetapi Islam memandangnya dari sisi derajat kedekatan (qorobah).

Muhammad Imaroh menjelaskan betapa Islam sangat memuliakan perempuan. Dalam masalah warisan ada empat puluh kondisi perempuan dapat bagian lebih banyak dari laki-laki dan atau sama bagiannya dengan laki-laki dan atau perempuan dapat warisan sementara laki-laki tak mendapatkannya.

Nawal As-Sa'dawi terbungkam. Ia terkejut dengan penjelasan Imaroh. Hujjahnya begitu kuat. Dan ia tak tahu harus menjawab apa.

Tapi perkenalan Muhammad Imaroh dengan pemikiran Islam tak berhenti pada muktazilah dan asy'ariyyah. Imaroh terus melangkah mempelajari dan mengkaji pemikiran lain yang mengkritik secara fundamental filsafat dan kalam (teologi Islam). Pemikiran itu tak lain adalah pemikiran atsari/salafi. 

Imaroh menelaah dan mengkaji secara serius turots Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Di sini ia takjub dengan pemikiran imam besar yang telah membuat sibuk para ulama sepanjang tujuh abad tersebut. 

Pandangan reformisnya makin kental dan tajam setelah membaca turots Ibnu Taimiyyah. Imaroh memandang Ibnu Taimiyyah bukan sekadar faqih dan filsuf. Tetapi lebih dari itu ia adalah mujaddid. 

Imaroh memandang orang-orang yang memusuhi Ibnu Taimiyyah karena kebodohan mereka pada kalam imam tersebut. Mu`ahhalat 'Ilmiyyah mereka kurang mendukung buat mengerti filsafat, kalam mutakallimin dan kalam atsari/salafi. Ia mengutip ungkapan bijak Arab: Manusia selalu memusuhi sesuatu yang mereka bodoh tentangnya.

Pada Jumat (28/2/2020), Prof. Dr. Muhammad Imaroh yang tercatat sebagai anggota Dewan Ulama Senior Mesir ini wafat dalam usia 89 tahun. 
(Hafidin Achmad Luthfie)