NGELAWAKNYA KETERLALUAN!

Ngelawaknya keterlaluan! 

Begini ya bapack-bapack yang kami hormati, bagi JAD alias ngisiser (ISIS) itu, seluruh organisasi Islam di Indonesia yang pro aksi-demonstrasi, baik itu Aksi 411 atau 212 sudah dianggap murtad.

Secara madzhab akidah, FPI adalah Asy'ariyyah yang dianggap Ahli Bid'ah oleh JAD ngisiser. Jadi, pahami baik-baik peta kelompok-kelompok Islam tersebut supaya tidak asal gebyah-uyah.

Kelompok berlabel "Salafy" saja sudah banyak variannya. Ada yang berafiliasi pada Rodja, ada yang berafiliasi pada RII, ada yang berafiliasi pada Ust Zul, Ust Abu Turob, dll. Dan penting untuk diketahui bahwa di antara mereka saling menganggap kelompok lainnya bukan salafy, bahkan saling menganggap satu dengan lainnya adalah Ahli Bid'ah, jadi tidak bisa di-gebyah-uyah.

Ada lagi kelompok-kelompok yang bercorak Salafy, dalam artian mengambil pendapat Ibn Taymiyyah, Ibn Al-Qayyim dan ulama-ulama Saudi, namun lebih lunak dalam berinteraksi terhadap sesama muslim, dan bahkan mendirikan organisasi resmi, dimana organisasi seperti ini dinilai sebuah bid'ah oleh kelompok-kelompok salafy yang disebut pada paragraf sebelumnya. Sebut saja misalnya Hasmi, Wahdah, dll. Namun, karena itu pula kelompok-kelompok ini sudah tidak lagi dianggap Salafy oleh kelompok-kelompok Salafy yang disebut di paragraf sebelumnya. 

Kemudian ada juga PKS yang banyak mengambil pemikiran Ikhwanul Muslimin di Mesir. Mereka ini sudah tidak bisa digolongkan ke dalam varian salafy. Karena walaupun pemikiran Ibn Taymiyyah dan Ibn Al-Qayyim menjadi sebagian rujukannya, namun mereka tidak membatasi diri dengan kedua tokoh tersebut, bahkan pemikiran tokoh lainnya yang dinilai sedikit bertolak belakang juga diambil, seperti misalnya Al-Ghazali. Karenanya tidak heran dalam sebagian masalah, mereka cukup bertolak belakang dengan salafy, misalnya dalam masalah pendefinisian Bid'ah. PKS mengambil pemikiran Hasan Al-Banna yang menilai bahwa bid'ah pada perkara-perkara yang dalilnya mutlak, tidak dinilai sesat, baik itu berupa bid'ah idhâfiyyah, bid'ah tarkiyyah, atau bid'ah iltizâm. Hasan Al-Banna juga termasuk tokoh yang menilai bahwa tawassul dalam berdoa bukanlah perkara akidah, berbeda dengan keumuman Salafy. 

Oleh karena itu, tidak heran bila kemudian saat wafatnya eks Ketua Majelis Syura PKS, Ust Hilmi Aminuddin, di kantor DPP PKS diadakan tahlilan, yang jelas-jelas dianggap bid'ah-mungkar oleh kelompok Salafy. 

Kemudian dalam masalah politik praktis, salafy cenderung tidak ingin ikut campur dalam politik praktis. Kemumuman mereka memgharamkan pendirian partai politik, mengharamkan aksi demonstrasi, mengharamkan kritik terhadap pemerintah, dan mengharamkan sikap oposisi. Jelas semua itu bertolak belakang dengan PKS.

Berikutnya adalah HTI, yang walaupun secara organisasi telah dibubarkan, namun kita tidak bisa memungkiri bahwa pemikiran mereka masih terus berkembang. HTI sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Salafy, bahkan HT termasuk kelompok yang sangat bertolak belakang Salafy. Hal ini disebabkan, HT menilai bahwa gerakan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab (MBAW), yang merupakan tokoh sentral Salafy, saat menentang Turki Utsmani sebagai pemberontak, sehingga gerakan MBAW ini bukanlah gerakan syar'i, mereka adalah penentang Kekhalifahan yang sah.

Di sisi lain, Salafy menilai bahwa gerakan MBAW adalah gerakan pembaruan dan pemurnian ajaran Islam, bahkan di mata sebagian aktivis Salafy, gerakan penentangan terhadap Turki Utsmani dinilai sebagai sebuah gerakan tauhid melawan kemusyrikan.

Bagaimana hubungan HTI dengan PKS? Tidak selalu harmonis, mengapa? Karena HTI menilai demokrasi adalah produk kufur yang seorang muslim haram hukumnya masuk berkecimpung di dalamnya, sedangkan PKS justru "menikmati demokrasi" dengan aktivitas kepartaiannya. Dua hal yang sangat bertolak belakang.

Lalu bagaimana dengan FPI dan JAD?

FPI merupakan organisasi lokal yang secara corak keagamaan sangat mirip dengan NU, kalau tidak mau dikatakan sama. Bedanya, FPI memilih jalan nahi mungkar sebagai salah satu jalan utama mereka. Berbeda dengan NU yang lebih memilih pendekatan kultural dalam berdakwah. Serupa tapi tak sama juga adalah Jamaah Tabligh. Secara akidah, NU-FP1-Tabligh sama-sama penganut Asy'ariyyah, demikian pula secara amaliyah fiqih yang secara umum menganut Syâfi'iyyah, kecuali sebagian Tabligh yang memilih Hanafiyyah karena banyak bersentuhan dengan guru-guru mereka di BIP (Bangladesh, India, dan Pakistan).

Oleh karena itu, dapat kita lihat NU-FPI-Tabligh itu sama-sama Tahlilan, Yasinan, Qunutan, Tawassulan, Shalawatan. Makanya, para tokoh dan Kiyainya pun hampir tidak kelihatan bedanya. Sama-sama pakai jubah putih, pakai imamah, dan pakai sorban. 

Corak keagamaan yang sedikit berbeda justru tampak dari Muhammadiyah dan Persis, walaupun keduanya sama-sama gerakan lokal, sama seperti NU dan yang lain, namun corak gerakan Muhammadiyah dan Persis tidak benar-benar sama dengan NU.

Secara dasar-dasar akidah mungkin sama, karena ketiganya mempelajari sifat 20 yang menjadi ciri khas Asy'ariyyah. Namun, di Persis khususnya, kajian-kajian akidah yang bercorak Salafy pun dilahapnya. Namun, apakah dengan hal tersebut, Persis dan juga Muhammadiyah dapat disebut sebagai bagian dari salafy?

Jawabannya tentu saja tidak, karena corak Muhammadiyah dan Persis cukup banyak perbedaan apabila dibandingkan dengan Salafy. Sebut saja misalnya rujukan mereka yang sudah berbeda. Keumuman Salafy menjadi Ibn Taymiyyah, Ibn Al-Qayyim, dan Syaikh MBAW sebagai rujukan sentral mereka, baik dalam masalah akidah ataupun fikih. Sedangkan bagi Persis dan Muhammadiyah, walaupun pemikiran mereka dikaji dalam diskursus ilmiah, namun tidak pernah menjadikan mereka sebagai rujukan sentral. Karenanya kita akan temukan banyak sekali fatwa-fatwa Muhammadiyah dan Persis yang tidak sejalan dengan Salafy.

Sebagai contoh adalah masalah musik, bagi Muhammadiyah dan Persis, musik tidak haram secara mutlak, sedangkan bagi Salafy musik dinilai haram. Kemudian permasalahan isbal, bagi Muhammadiyah dan Persis, isbal tidaklah haram, sedangkan bagi Salafy, isbal dihukumi haram.

Kemudian bersikap oposisi dan mengkritik pemerintah, serta aksi demonstrasi, Muhammadiyah dan Persis tidak menghukumi haram secara mutlak aktivitas-aktivitas tersebut. Sedangkan bagi Salafy, seluruh aktivitas tersebut adalah haram, karena bagi mereka pemerintah adalah ulil amri yang sah dan tidak boleh dikritik di depan umum.

Cara menentukan awal bulan Ramadhan pun berbeda, Muhammadiyah dan Persis menganut hisab, dengan sedikit perbedaan antara wujûdul hilal dan imkânur ru'yah, sedangkan Salafy sama dengan NU yang menganut ru'yatul hilal. Demikian pula amalan shalat tarawih yang antara Muhammadiyah, Persis, Salafy, dan NU akan tampak perbedaannya.

Persis melaksanakan shalat tarawih 4 rakaat 4 rakaat 11 rakaat, secara umum mirip dengan Muhammadiyah, namun sebagian Muhammadiyah menggunakan tahiyat awal. Adapun keumuman Salafy di Indonesia melaksanakannya 2 rakaat 2 rakaat 11 rakaat, sedangkan NU melaksanakannya 2 rakaat 2 rakaat 23 rakaat. 

Adapun JAD yang merupakan pendukung fanatik ISIS, memiliki corak dasar yang mirip dengan Salafy, mereka banyak mengambil pemikiran Ibn Taymiyyah dan MBAW, bahkan kitab Ad-Durar As-Saniyyah yang disusun oleh para ulama Nejd (generasi kedua dan ketiga dari estafet gerakan MBAW), dinilai menjadi rujukan sentral mereka. Makanya, tidak heran apabila salah satu tokoh ISIS di Indonesia, Aman Abdurrahman, dalam buku-bukunya penuh sekali dengan kutipan dari kitab Ad-Durar.

Apabila kita menarik garis di awal kemunculannya, maka gerakan semisal pernah muncul di beberapa negara. Misalnya di Mesir, beberapa orang eks Ikhwanul Muslimin yang bersentuhan dengan pemikiran Salafy, seolah-olah menggabungkan pemikiran Sayyid Quthb dan MBAW dalam sebuah amal yang mereka nilai adalah amal yang tepat. Mereka kemudian membentuk organisasi yang oleh orang-orang dikenal dengan Jamaah Takfir wal Hijrah.

Pemikiran Sayyid Quthb yang revolusioner, ditambah dengan kepingan-kepingan fatwa MBAW, dan terutama Ad-Durar, dilahap oleh para aktivis, yang kebanyakan di antara mereka bergerak dan beraktivitas tanpa bimbingan ulama. Selain itu, mereka juga berhadapan dengan rezim yang non koperatif, sehingga apa yang mereka kaji di kitab seakan-akan bertemu langsung dengan kenyataan bahwa mereka layaknya Musa yang bertemu Fir'aun, akhirnya pemikiran itupun melesat dengan cepat dan berkembang di kalangan para aktivis, terutama di medan-medan jihad. 

Akhirnya, sejak meletus jihad Irak kemudian Suriah, mereka terpolarisasi pada satu kutub yang terkumpul dalam Daulah Islam Irak dan Syam yang pada kondisi terakhir mengubah menjadi Daulah Islam saja (tanpa tambahan Irak dan Syam).

Bagaimana pemikiran mereka?

Mereka memiliki corak pemikiran revolusioner khas Sayyid Quhtb, dan bersamaan dengan itu memiliki keyakinan dan akidah yang tergambar dalam Ad-Durar. Mereka menilai bahwa kebanyakan manusia hari ini adalah manusia jahiliyyah. Mereka menilai bahwa pimpinan-pimpinan negara hari ini adalah para thaghut yang serupa dengan Fir'aun, karena tidak melaksanakan hukum-hukum Allâh. Bahkan, mereka tidak mengecualikan pimpinan-pimpinan negeri kaum muslimin, seperti Saudi Arabia, Brunei, dan lain sebagainya, bagi mereka seluruh pimpinan tersebut telah kafir. Orang yang membantu mereka dari kalangan menteri, kepolisian, dan aparat pemerintah pun telah dinilai kafir.

Mereka menilai organisasi ataupun partai politik yang terlibat dalam proses demokrasi telah kafir. Mereka menilai orang-orang yang berjalan mengikuti alur demokrasi telah kafir.

Mereka menganggap bahwa Salafy yang telah disebutkan sebelumnya sebagai murjiah-jahmiyyah, bahkan sebagian tokoh Salafy telah dianggap murtad.

Mereka menganggap bahwa NU telah terjerumus dalam kemusyrikan karena menghalalkan tawassul dan istighatsah.

Mereka menganggap bahwa para petinggi PKS telah murtad karena mengikuti aktivitas demokrasi. Bahkan, mereka menganggap aktivis 411, 2I2, itu semuanya keluar dari Islam karena mengikuti alur demokrasi. Artinya, FP1, Muhamamdiyah, Persis, dan organisasi-organisasi lainnya telah dinilai keluar dari Islam. 

Mereka juga menganggap bahwa HTI merupakan aliran sesat dan menyimpang karena dinilai sebagai mu'tazilah. 

Demikianlah pandangan mereka para fanatikus ngISIS. Maka, bagaimana mungkin mereka akan disamakan dengan kelompok-kelompok Islam yang lain?

Tidak ada yang bebas dari vonis takfir dan tabdi mereka. Kami sendiri tidak terlalu heran apabila aktivitas-aktivitas mereka tampak di luar nalar, dan tentu saja menyambung-nyambungkan aktivitas mereka dengan kelompok-kelompok Islam yang telah disebutkan sebelumnya adalah komedi yang sangat tidak lucu, saudara.

- Laili Al-Fadhli - 

NB:
- Postingan ini bukan bermaksud memperuncing perbedaan di antara kelompok, namun lebih kepada pemetaan setiap kelompok agar lebih jelas.
- Perbedaan-perbedaan yang ada pada setiap kelompok hendaknya tidak menimbulkan permusuhan, karena perbedaan adalah keniscayaan, yang terpenting selalu disikapi dengan kedewasaan.
- Bersatunya umat Islam tidak mesti dengan menyamakan seluruh persepsi dan pemikiran, namun senantiasa diredam dengan toleransi dan kedewasaan.
- Boleh berbeda, tidak boleh berpecah. Bârakallâhu Fîkum.

(Sumber: fb penulis)

Ngelawaknya keterlaluan! Begini ya bapack-bapack yang kami hormati, bagi J4D alias ngisiser itu, seluruh organisasi...

Dikirim oleh Muhammad Al-Fadhli pada Selasa, 30 Maret 2021