KOLABORASI, Inspirasi dari Zulkarnain

KOLABORASI, Inspirasi dari Zulkarnain 

Kemudian sampailah Zulkarnain dengan bala tentaranya di sebuah lembah yang diapit dua gunung. Masyarakat di situ sedang dilanda ketakutan serangan Ya'juj dan Ma'juj.

Kepada Zulkarnain, warga minta bantuan dibuatkan dinding benteng yang memisahkan antara mereka dengan gerombolan Ya'juj dan Ma'juj. Mereka sanggup membayar dan menawarkannya pada Zulkarnain. 

Namun Zulkarnain dengan rasa hormat menolak bayaran. Bagi Zulkarnain, apa yang telah dianugerahkan Allah jauh lebih baik dari semua bentuk pembayaran. 

Ia mengajak warga berkolaborasi dan menjadikan pembangunan dinding sebagai proyek bersama. Berbagi tugas dan peran. Dari masyarakat ia minta  potongan besi yang akan disusun layaknya "batu bata". 

Setelah potongan besi tersusun rapi setinggi gunung, Zulkarnain menyuruh bakar untuk memanaskannya. Sudah itu ia minta warga menuangkan cairan tembaga panas di antara susunan besi. Dinding pun terciptalah. Kokoh dan kuat. Tak dapat dipanjat tak bisa dilobangi gerombolan Ya'juj dan Ma'juj. 

Begitulah. Kalau mau, Zulkarnain bisa saja mengerahkan bala tentaranya untuk bekerja cepat, sigap, dan tuntas membangun dinding dalam semua prosesnya. Tapi tidak. Zulkarnain memilih kolaborasi. Ia ingin warga berpartisipasi.

Pelajaran yang indah. Bahwa penguasa perlu mengajak serta rakyat berkolaborasi dalam proses pembangunan. Kolaborasi adalah partisipasi sosial, kerja bareng sesuai kemampuan dan bidang keahlian. 

Sebuah dinamika kekuasaan yang menjanjikan harmoni di tengah masyarakat. Kompak dan bersatu. Tak dipecah belah untuk dijajah.

Kolaborasi cara Zulkarnain mengisyaratkan pembangunan bebas korupsi, bebas pungli, bebas gratifikasi, tanpa ada pihak yang dizalimi. Penguasa memandu dalam kerja bareng bersama rakyat dengan optimisme dan kegembiraan. Kerja keras, kerja cerdas, ikhlas, jelas, tuntas. 

Kolaborasi pemerintah dan rakyat akan menghubungkan pertalian batin yang kokoh. Ada proses saling mengenal lebih dalam lagi. Akan tercipta suasana saling memahami. Selanjutnya saling membela dan melindungi. 

Sudah barang tentu kolaborasi akan memunculkan rasa memiliki yang kuat di kalangan rakyat. Sebab rakyat ikut berkeringat, ikut terlibat dalam dinamikanya, ikut berdoa, merasakan manfaatnya. Dengan begitu rakyat akan ikut serta merawat, menjaga, mengamankan. Rakyat akan peduli. 

Begitulah karakter kepemimpinan Zulkarnain yang dikisahkan Qur'an. Pelajaran dan inspirasi bagi pemimpin dan calon pemimpin di semua level kepemimpinan. 

Semangat kolaborasi mencerminkan pemerintahan yang mengayomi, bukan menzalimi. Spirit kolaborasi meniadakan upeti dan gratifikasi, apalagi korupsi. Tak perlu pencitraan. Bagi pemerintah, bekerja untuk rakyat adalah amanat. 

Saya teringat seorang gubernur yang acap menggaungkan kolaborasi dalam dinamika pembangunan kota. Setiapkali menerima award, ia selalu menyatakan award itu hasil kolaborasi. Bukan untuk dirinya, tapi  untuk semua. 

Ia terinspirasi Zulkarnain? Barangkali saja. Seorang dengan kecerdasan seperti dirinya, yang sekaligus cerdas akal dan hatinya, mudah menangkap permata hikmah dari sejarah. 

Akal cerdas, wawasan luas, hati yang peduli, akan membimbing seorang pemimpin untuk memperoleh ilham kebaikan dalam kepemimpinan. 

Selebihnya, kolaborasi menjadi penanda bahwa cinta masih ada. Cinta menjadi penanda bahwa nurani tetap bekerja. Nurani menjadi penanda bahwa cahaya akan mengenyahkan gulita. 

Salam
Banda Bening

** Inspirasi QS Al-Kahfi 92-98