Gak Percaya Isra Miraj, Tapi Percaya Esemka, Liberal Kampungan 😂

Ada yang menarik menurut saya terkait peringatan peristiwa Isra' Mi'raj tahun ini, yaitu makin menggemanya suara-suara yang meragukan kebenaran cerita isra' mi'raj dan melihatnya dari sudut pandang nalar tok, bukan kuasa Tuhan. 

Dan entah seberapa banyak generasi muda kita di universitas-universitas yang tidak lagi percaya dengan hal-hal ghaib, baik itu mereka umumkan ataupun menjadi keyakinan pribadi yang mereka sembunyikan tanpa berani mereka ungkapkan dengan alasan kultur dsb. 

Apa yang salah? Apakah ada yang salah dengan akidah kita (na'udzubillah)? Atau yang salah dan tak lagi sesuai adalah manhaj pembelajaran akidah kita? 

Rata-rata warisan kitab-kitab akidah yang ditulis sejak abad ke 3 Hijriyah dengan semua kecenderungannya adalah RESPON terhadap munculnya aliran akidah yang mereka anggap menyimpang, baik itu Mu'tazilah, Qodariah, Jahmiyah, Syiah, Mujassimah, Khawarij dll. Karenanya, pembahasannya kebanyakan lebih banyak dan fokus pada jawaban terhadap syubhat-syubhat yang terkenal di zaman itu. 

Dan sejak renaisans Eropa yang berdiri atas prinsip materialisme, seharusnya manhaj pembelajaran akidah sudah direkonstruksi untuk menjawab berbagai syubhat dan kebutuhan zaman kita yang cenderung menuju atheisme, khususunya generasi muda. 

Ada fokus yang harus dirubah, yaitu bagaimana menjawab syubhat-syubhat pemikiran materialisme dan atheisme. 

Atau jangan-jangan kita masih menikmati dan larut dalam perdebatan masa lalu untuk kemudian terkejut ketika angka-angka ketidakpercayaan generasi kita kepada hal-hal yang ghaib dan Tuhan dibeberkan? 

Wallahu A'lam.

(Taufik M Yusuf Njong)