Toleran itu Bukan Mati-matian Membela Minoritas, Lalu Gampang Mencela Mayoritas

TOLERANSI

Toleran itu bukan mati-matian membela minoritas, lalu gampang mencela mayoritas. Toleran itu saling menghargai, menghormati hak masing-masing, tidak campur aduk, sesuai tempat dan posisi.

Kalau mau membela, sama aja mau mayoritas atau minoritas. Bela semua. Kalau ga setuju juga pakai alasan.

Semisal, saya sampai sekarang masih menolak LGBT. Saya punya alasan. Karena menurut saya, sampai detik ini, itu perilaku yang bertentangan dengan sistem alam, gak natural. Kecuali kita mendukung bahwa manusia secara alami bisa membelah diri.

Mereka sebagai manusia, ya tetap manusia. Tapi bukan berarti saya bisa membenarkan perilaku yang sebeng begitu.

Sama, toleransi juga begitu. Bagi saya mencela agama sendiri atau mengubah aturan sesuka hati biar sesuai maunya diri, itu bukan beragama ataupun toleransi. Itu egoisme yang tujuannya cuma cari pembenaran.

Toleransi beragama, itu adalah saat ketika kamu bebas menjalankan ajaran agama masing-masing, nyaman, tenang, tak dipaksa campur aduk, lalu setelahnya kita bisa ngopi bareng, ketawa, becanda, ngobrol soal mana lebih kece suaranya Erie Susan atau Adele, debat soal mana yang lebih bikin pusing Tenet atau Sphere, dan lainnya.

Negeri ini terlalu berharga untuk dipecah belah gara-gara seleb sosmed.

(By: Sayid Fadhil Asqar)

Toleran itu bukan mati-matian membela minoritas, lalu gampang mencela mayoritas. Toleran itu saling menghargai,...

Dikirim oleh Sayid Fadhil Asqar pada Senin, 01 Februari 2021