JALAN PEDANG ANIES BASWEDAN

JALAN PEDANG ANIES BASWEDAN

(By Setiawan Budi)

Setelah Nasdem dan Golkar menarik diri dari usulan revisi UU pemilu yang meminta pilkada 2022 diadakan, fokus langsung tertuju pada sosok Anies Baswedan. 

"Jika pilkada 2022 ditiadakan, apa jalan Anies selanjutnya untuk menjaga elektabilitas menuju Capres 2024?"

Tinggal 2 partai yang ngotot meminta pilkada 2022 diadakan, Demokrat dan PKS. Dan kecil kemungkinan revisi akan mengubah waktu pelaksanaan pikada tersebut. Tetap mengacu pada UU No.10 tahun 2016, bahwa pilkada 2022 diundur sampai tahun 2024, serentak tahunnya dengan pelaksanaan pemilu raya. 

Berakhir jabatan gubernur tahun 2022 (tepatnya Oktober 2022), maka usai sudah panggung politik Anies. Semuanya akan kembali pada diri Anies, apakah ia akan menerima panggungnya selesai? Atau ia akan menciptakan panggung sendiri sebagai Jalan Pedang menuju pencapresan 2024. 

Hasil lembaga survey terkait nama-nama calon presiden yang potensial, selalu memuat nama Anies masuk dalam 3 besar. Kemunculan nama Anies ini erat dengan pemberitaan yang ikut menaikkan namanya. Sebagai Gubernur DKI, segala kritik, pujian dan juga berbagai penghargaan adalah modal elektabilitas Anies terjaga. 

Saat Anies tidak lagi menjabat, besar kemungkinan nama Anies akan tenggelam seiring kosongnya pemberitaan pada dirinya. Dan ini bahaya bagi pendukung yang berharap Anies bisa menjadi next RI-1. 

Anies harus berani keluar dari zona nyaman ketika panggung politiknya telah usai di jabatan Gubernur. Zona nyaman yang selalu menerima serangan dan membalas dengan serangan balik yang membuat pihak lawan kalang kabut. 

Ibarat bermain sepak bola, taktik bertahan tidak bisa lagi Anies praktekkan. Ia harus berani menyerang dan menjadi pusat perhatian, agar namanya selalu muncul dalam pemberitaan. 

Setelah usai masa jabatan Gubernur DKI, Anies harus segera memutuskan masuk salah satu partai yang memungkinkan namanya untuk dicalonkan. Dengan bergabung bersama partai, Anies bisa mengatrol nama partai tersebut sekaligus menjaga namanya tetap ada di posisi 3 besar sebagai calon capres potensial 2024. 

Karena lawan-lawan yang mungkin Anies hadapi esok, adalah orang-orang yang masih memiliki panggung politik untuk terus menaikkan namanya. 

Ganjar masih sebagai Gubernur Jateng (sampai September 2023). Ridwan Kamil pun masih menjabat Gubernur Jabar (sampai September 2023), AHY sebagai ketua partai, tetap menjaga peluangnya untuk selalu mendapat pemberitaan. Sosok Prabowo malah lebih ngeri, selain masih diandalkan sebagai kandidat kuat capres 2024, jabatan Menhan yang beliau pegang adalah panggung yang selalu memunculkan namanya dalam pemberitaan (masa jabatan Menhan hingga 2024). 

Jika Anies tidak bergabung ke partai politik, nasib Anies akan seperti Rizal Ramli, Said Didu, dan tokoh-tokoh diluar partai yang hanya meramaikan obrolan politik melalui sosmed. 

Peluang Anies gabung ke partai sangat besar. Tapi di partai mana ia bergabung, itu perlu dianalisa. 

Kecil kemungkinan Anies bergabung ke PKS dan Demokrat. Dengan jumlah kursi dibawah 10%, sangat sulit bagi Demokrat dan PKS untuk menyodorkan calon sebagai pengisi posisi Calon Presiden. Yang mungkin mereka lakukan adalah mengisi posisi wakil presiden.

Di Demokrat ada AHY yang sudah diproyeksikan menjadi salah satu pengisi pasangan capres-cawapres. Jika Anies masuk Demokrat, maka gak akan bisa ada 2 matahari di satu partai. Terlebih kursi demokrat hanya 7%, dimana mereka butuh koalisi untuk mencukupkan 20%. Mereka hanya bisa sodorkan satu nama sebagai opsinya. 

Hal yang sama dengan PKS. Jika Anies bergabung dengan PKS, maka kendala utamanya adalah masalah dana. Masalah ini yang kerap menempatkan PKS hanya menjadi pengekor saat berkoalisi dengan partai lain. Mereka punya potensi, mereka punya militansi, tapi mereka gak punya materi yang mumpuni. Yang seharusnya mereka bisa sodorkan nama, karena kosekuensi sodorkan nama adalah kesiapan dana, alhasil yang mereka lakukan adalah menempel dan menjadi penggembira sambil mencari "keuntungan" disana. 

Namun jika ada penyandang dana untuk Anies, maka PKS akan sangat senang. Seperti biasa, jika ada uang maka persoalan utama mereka akan selesai. 

Opsi lain..

Anies harus bergabung ke partai yang memiliki jumlah kursi diatas 10%. Karena partai yang memiliki kursi diatas 10% adalah partai besar mempunyai banyak fasilitas.

Untuk memenuhi kuota Presidential Treshold 20%, koalisi partai besar dan kecil, bisa memuluskan langkah Anies menjadi capres. 

Kemungkinan terbesar, Anies bergabung bersama Golkar. Karena disana ada sang mentor Jusuf Kalla, yang diisukan menjadi orang dibelakang layar atas keberhasilan Anies saat ini. Jusuf Kalla yang menyarankan pada Gerindra untuk mencalonkan nama Anies sebagai kandidat cagub DKI 2017. 

Anies pun bisa bergabung pada Partai Nasdem yang menjadi partai pertama yang menyatakan dukung Anies sebagai kandidat capres 2024. Perolehan kursi Nasdem diatas 10%, sama halnya dengan Golkar.

Nasdem dan Golkar memang jadi opsi yang tepat. Tapi melihat penarikan dukungan mereka untuk revisi UU pemilu kemarin, jadi bertanya lagi. Kok partai yang seharusnya mendukung anies karena history perjalanan saat ini, malah menarik dukungan revisi? 

🤔

Inilah politik itu. Menarik dukungan (pada revisi UU Pemilu) bukan berarti mereka akan menampik Anies untuk pilpres 2024. Bisa jadi penarikan dukungan ini sebagai pukulan pada Anies, bahwa Anies harus memilih satu partai untuk dapat diperjuangkan. Jika Anies masih slow dan memilih jalan ninja dengan dukungan saat ini, alhasil langkah Anies di 2024 akan suram. 

Jalan Pedang Anies adalah memilih satu partai dan berjuang dijalur itu untuk terus menjaga elektabilitas namanya. 

Dengan kosekuensi, Anies harus berani keluar dari zona nyamannya. Memulai serangan, tidak lagi bertahan untuk melancarkan serangan balik. 

KEUNTUNGAN

Bergabung ke Nasdem atau Golkar, akan menempatkan nama Anies sebagai calon yang diunggulkan. Mengingat baik Nasdem maupun Golkar belum memiliki calon potensial. 

KERUGIAN

Bergabung di Nasdem dan Golkar, akan menempatkan Anies menjadi kader dari partai Koalisi pemerintahan. Melihat sejarah koalisi Nasdem dan Golkar, kecil kemungkinan ada kader yang bisa kritis pada pemerintah. 

Kesimpulannya, semua pilihan mempunyai baik dan buruk. 

Ada satu opsi yang mungkin saja terjadi, yaitu Anies bergabung ke Gerindra. Karena disana, kader dibebaskan untuk bersuara kritis pada penguasa. Walau ada nama PS yang digadangkan sebagai capres unggulan, bisa saja terjadi pergeseran. Karena politik itu jalannya selalu berliku. 

Akan jadi dilema, namun jalan harus ditentukan karena panggung Anies akan usai di 2022. Terlambat untuk memutuskan, maka itu akan jadi sebuah hukuman yang bisa jadi penyesalan. 

Bener kan Pak Anies..?

"Paten..!", kata Anies..

😄