Diserang Buzzer Karena Kritik Utang era Jokowi, Tere Liye Akhirnya Ungkap Jejak Digital Megawati

[PORTAL-ISLAM.ID] Penulis Novel ternama, Tere Liye melalui akun facebooknya menulis dan mengkritisi tentang kondisi jumlah UTANG negara di era Jokowi yang makin meroket. Akibat tulisan itu, para buzzer menyerang Tere Liye, dengan khas kosa kata makian mereka 'provokator lah' 'pembenci lah' dll. 

Begitulah kerjaan para buzzer, siapa saja yang mengkritisi pemerintah Jokowi akan mereka hajar. Bahkan sekelas Kwik Kian Gie saja mereka bully dan maki-maki.

Menanggapi serangan para buzzer, akhirnya Tere Liye membalas dengan membongkar nyinyirian Megawati dulu pada Presiden SBY terkait soal utang.

Berikut tulisan jawaban Tere Liye kepada para buzzer....

***
 
Jejak digital itu ada dimana2. Kalian mancing2, maki2 Tere Liye provokator, pembenci, baiklah, khusus buat buzzer, netizen yg setiap saat marah ketika utang negara dibahas. Sy kasih kalian postingan ini.

Saya itu hanya meniru teladan dari Ibunda Negarawan Tercinta, tahun 2009. Nih, kamu baca nggak? Saya itu penulis buku, jadi sy suka mencatat, mengingat, semua hal. Sy bukan buzzer yg kemarin ngomong apa, eh hari ini berubah. Tahun 2009 Ibunda Tercinta ini boleh mengkritik utang. Kenapa tahun 2021 saya, Tere Liye, penulis yg buku2nya tidak laku, mendadak tidak boleh? Dia bilang pemerintah mabok. Itu kalau sy pakai istilahnya sekarang, dijamin yg ngamuk banyak. Jaman itu utang cuma nambah ratusan trilyun setahun. Sekarang itu, 1.000.000.000.000.000 setahun. Tuh lihat nolnya, kayak ulet bulu.

Berikut saya kasih screenshot lantas sy ketikkan ulang berita tahun 2009, habis Pilpres jaman itu. Ini beritanya: 

Detiknews, 6 Agustus 2009

Mega: Pemerintahan SBY Masih Mabuk Utang

Nota keuangan dan RAPBN 2010 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih bertumpu pada utang luar negeri. Pemerintah terlalu takut untuk melepas utang sebagai sumber pendapatan APBN.

Demikian disampaikan Capres dari PDIP dan Gerindra, Megawati Soekarnoputri dalam diskusi membedah RAPBN 2010 di Megawati Institute, Jl Proklamasi, Jakpus, Kamis (6/8/2009).

"Pada saat saya memerintah, saya coba menghentikan hutang. Saya pikir kok nggak kiamat ya waktu itu. Coba tahanlah (utang), kalau butuh betul barulah. Tapi sekarang kayanya kok mabok ya," kata Mega.

Menurut Mega, masih banyak sektor-sektor yang sebenarnya potensial sebagai sumber pendapatan negara ketimbang bertumpu pada utang luar negeri. Seperti sektor kelautan dan perikanan.

"Sekarang ini saatnya kita melihat diri, bukan meneropong ke luar, tetapi meneropong ke dalam," ujar Mega.

Meski demikian, Mega enggan menarik kesimpulan apakah yang RAPBN 2010 pro rakyat atau tidak. "Dibilang pro rakyat atau tidak, silakan jawab sendiri," tukasnya.

Direktur Eksekutif Megawati Institute Arif Budimantan mencontohkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri sebagai salah satu pos anggaran yang seluruhnya bertumpu pada utang luar negeri.

"8,35 triliun PNPM yang merupakan komitmen MDGs (Millenium Development Goals) semuanya dibiayai utang luar negeri," pungkasnya.

Arif juga mempertanyakan minimnya anggaran belanja untuk pembangunan infrastruktur pedesaan yang hanya berjumlah 0,93 triliun dari total keseluruhan 1000,9 triliun dari total RAPBN 2010.


*

Sudah baca beritanya? Bagus. Jadi berhentilah tidak terima saat utang negara dikritik. Saya itu niru Ibunda Tercinta saja. Meneladani dia dulu. Kamu itu yg tidak meneladani dia.

(By Tere Liye)

Jejak digital itu ada dimana2. Kalian mancing2, maki2 Tere Liye provokator, pembenci, baiklah, khusus buat buzzer,...

Dikirim oleh Tere Liye pada Rabu, 17 Februari 2021

*Utang, utang dan utang Ketika Kompas merilis berita tentang utang LN Indonesia, itu bagus sekali. Satu, sebagai...

Dikirim oleh Tere Liye pada Rabu, 17 Februari 2021