Aceh Miskin?

Aceh Miskin?

Oleh: Ida Ayu Komang*

Sebagai pendatang yang sudah 10 tahun tinggal di Serambi Mekkah ini, aku tertawa membaca berita yang merilis Aceh ada di angka 6 dari daerah termiskin di Indonesia. 

Entah apa barometer pengukuran penetapan itu. 

Tanya saja ke propinsi tetangganya, Sumut. Setiap aku pulang kampung dan belanja ke Medan, begitu tahu aku dari Aceh, mereka akan buat harga tinggi. Sebab, kami orang Sumut tahu betul orang Aceh itu kaya-kaya. 

Ma'af. Uang 500 nggak laku di Aceh. Cari 1000 aja susah di sini. Mulai laku setelah ada Indo*aret dan Alfam*rt. Apalagi di bawahnya. Saat aku pulang kampung, aku masih bisa beli pecel harga 5000. Di Aceh, 10.000. 

Semiskin-miskinnya orang Aceh, masih pakai emas di tubuh. Aku termasuk rakyat menengah ke bawah. Jadi, yang aku lihat adalah rakyat kebanyakan bukan rakyat 'The Have' alias kaya raya. 

Jalan? Ke kebun pun jalanan di Aceh itu beraspal. Minimal disemen. Aku jarang menemukan jalan berlobang di Aceh. 

Sudah pernah naik bus Aceh? Di sini, jelek dikit aja, bus itu nggak punya penumpang. Langsung diganti baru. Orang Aceh punya standar tinggi dan selera bagus. 

Mau tau berapa gaji pelayan atau penjaga toko di sini? 50.000/hari. Sebulan, Rp.1.500.000,-
Dan, itu gaji baru bekerja. Itu pun toko kecil, ya. Jadi, itu gaji penjaga toko terkecil. 

Yang lucu lagi, ada orang-orang yang tempurung kepalanya sebesar bola kaki tetapi isinya hanya sebesar biji sawi berkomentar sok tahu padahal tak pernah sekalipun ke Aceh. 

Negara maju sekalipun pasti terdapat rakyat miskin. Anehnya, dibawa-bawa pula ke agama. Nampak sekali komentar hanya berdasarkan kebencian. 

Aceh akan dengan senang hati lepas dari Indonesia. Hanya saja, Indonesia yang tak ingin melepaskan Aceh. 

Aku yang bukan asli orang Aceh dengan tegas menyatakan AKU BANGGA TINGGAL DI ACEH.

Miskin katamu?

Hmmm ... ketika aku keluar dari Aceh, orang-orang di luar Aceh justru menghargaiku karena mereka tahu betapa kayanya Aceh.

Satu lagi. Jama'ah haji terbanyak itu dari Aceh. Mau tau berapa lama kami harus antri untuk berangkat? 20-30 tahun!

Itu menunjukkan orang Aceh banyak duit. Berlomba naik haji. 

Yang paling bahagia dengan dirilisnya berita itu adalah kelompok dan pengikut Abu Jahannam dan Deni Kerak Jahannam yang sangat membenci Aceh. 

___
*Sumber: fb penulis