USIR MEREKA !!!

USIR MEREKA !!!

Sudah jadi rahasia umum di Bali, jika kelakuan turis2 bule ini semakin mengesalkan. Apalagi saat pandemi begini. Contoh gambar ini misalnya (dari abc.net.au). Dua turis ini melanggar dua peraturan sekaligus: 1. dia berkeliaran tanpa masker. 2. dia tidak pakai helm pulak.  Dan saat mereka diberikan peringatan, sebagian besar dari mereka melawan, balas ngoceh, sebagian lagi cuma tertawa2, menyepelekan.

Kenapa begitu?

Karena kita itu memang mudah dibegitukan sih. Kita 'butuh banget' turis, jadilah begitu. Apapun kelakuan mereka, kita welcome.

Coba tiru Singapura. 
1. Merokok di sembarang tempat, denda maksimum 1000 dollar Singapura
2. Tidak menyiram toilet, denda 500 dollar
3. Mengunyah permen karet, denda 100.000 dollar
4. Berjalan telanjang dalam gedung, denda 2000
5. Membuat keributan di atas jam 10 malam, denda 2000
6. Bernyanyi dengan suara keras/berisik, penjara 3 bulan
7. Buang sampah, denda 2.000 dollar
8. Dstnya.... dstnya....

Lihatlah, turis paling nyolot sekalipun, saat dia mendarat di Singapura, wuiih, mendadak tertib sekali. Perokok paling nyolot di Indonesia, saat dia ke sana, wuiih, sopaaan sekali, selalu lihat tanda boleh merokok atau tidak, dll, dsbgnya.

Nah, sekarang dikembalikan ke warga Bali. Kalian mau tidak turis2 ini tertib dan menghormati peraturan, dan juga budaya setempat. Atau dibiarkan saja belagu, semaunya saja. Ayolah, saat Bali hanya didatangi turis2 model begini, duuh, di masa depan, yang dirugikan Bali sendiri. Karena turis2 ini hanya level rendah. Spending mereka rendah, lah, mereka itu cuma golongan menengah bawah di negerinya, malah bisa masuk kategori penerima bansos. Dapat bansos 600 dollar per bulan di negaranya (misalnya), saat mereka datang ke Bali, mereka mendadak merasa tajir (karena kurs uang kita begitulah).

Maka tentu saja kelakuannya begitu. Karena memang mereka rendah edukasi soal menghormati rumah orang lain, di negara asalnya saja mereka ini boleh jadi sumber masalah. 

Dan saat turis2 model begini memenuhi kawasan wisata, mengganggu, dll, dampaknya bisa kemana2. Turis level tinggi mikir berkali2 sebelum datang ke tempat kita. Apalagi turis2 level tinggi family (yg jelas spending mereka akan berkali2 lipat lebih banyak), mereka membutuhkan kenyamanan, keamanan keluarganya. Lah, jika soal masker saja turis2 lain seolah terserah, bebas mau pakai atau tidak, bikin kerumunan juga terserah, ngimpi saja turis level tinggi begini mau datang.

Rasa2nya, cukup sudahlah kita 'ramah' sekali dgn turis2 ini. Mulailah serius menegakkan peraturan bagi mereka. Terutama peraturan soal pandemi. Saat mereka nyolot soal masker, simpel, usir mereka dari negeri kita. Tenang, itu bukan soal rasialis, apalagi benci. Itu soal peraturan. Pandemi kok seenaknya saja. Pandemi kok malah merasa Bali adalah surga bebas mau ngapain.

Atau kalian, penduduk Bali mau dibegitukan? Jika kalian mau turis2 bule ini dibiarkan melanggar peraturan, bahkan menyepelekan tradisi dan budaya setempat, 'mengotori' kawasan wisata, monggo, silahkan lanjutkan. Dan besok2, bahkan turis domestik akan mikir berkali2 ke Bali, mereka melipir ke Lombok, dll.

Sebagai catatan, Singapura, kota sekecil itu, tanpa wisata alam apapun, dengan peraturan super ketat begitu, mendatangkan 18 juta turis per tahun. Dan sebagian turis yg kesana, level sugih, spendingnya gila2an, belanja. Lah kita? Total seluruh Indonesia saja masih di bawah Singapura. Paham tidak data statistik?   

Nah, jika kalian mau mengotot bilang, alaaa, penduduk lokal juga ngeyel2 soal prokes. Ehem, mungkin maksudnya, kamu termasuk yg penduduk lokal yg ngeyel? Karena kalau kamu benar2 mau memperbaiki situasi, kamu berdiri paling depan mengingatkan hal ini. Mau lokal, mau bule, semua patuh. Tidak ada perbedaan, diskriminasi. Itu poin tulisan ini. Kamu mau nggak Bali itu jadi kawasan wisata top? 

BY Tere Liye, penulis novel 'Sunset Bersama Rosie', di novel ini, sy menulis juga ttg Bali.

(Sumber: fb)