Bahan Khutbah Jum’at: Mencari Kawan di Alam Kubur

[Bahan Khutbah Jum’at]
Mencari Kawan di Alam Kubur

Oleh: Muh. Nursalim

Ketika nyawa sudah keluar dari raga dan jenazah sedang dimandikan, seorang laki-laki tampan nan wangi berada di kepala. Di saat dikafani laki-laki itu berada di antara kain kafan dan tubuh mayit. Di saat malaikat penjaga kubur akan menanyai, laki-laki tampan itu menungguinya, hingga malaikat agak gimana gitu dan berkata,

“Kamu jangan di sini aku akan menanyai dia”.

Laki-laki tampan itupun tak kalah ketus, “Silahkan saja kamu melaksanakan tugasmu aku akan menemani kekasihku ini sampai dia masuk surga”.

Malaikat penjaga kubur sudah selesai menanyai orang tersebut. Kemudian laki-laki tampan itu bertanya kepada si fulan,

“Kamu kenal tidak siapa aku?”.

Si fulan menjawab, “aku tidak mengenalmu”.

“Aku adalah Al Qur’an yang setiap hari kamu baca. Maka bergembiralah, setelah pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir kamu tidak akan mengalami duka dan kegundahan,” jawab laki-laki ganteng tersebut.

Begitu kisah sebuah hadis mauquf dari Ubadah bin Shamit dalam Musnad Al Harits. Hadisnya panjang, berikut ini saya potongkan yang terkait dengan kisah di atas.

مسند الحارث - زوائد الهيثمي - (ج 2 / ص 736)
قال عبادة بن الصامت
فَإِذَا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ جَاءَ الْقُرْآنُ فَوَقَفَ عِنْدَ رَأْسِهِ وَهُمْ يُغَسِّلُونَهُ، فَإِذَا غَسَّلُوهُ وَكَفَّنُوهُ جَاءَ الْقُرْآنُ فَدَخَل حَتَّى صَارَ بَيْنَ صَدْرِهِ وَكَفَنِهِ، فَإِذَا دُفِنَ وَجَاءَ مُنْكَرٌ وَنَكِيرٌ خَرَجَ حَتَّى صَارَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمَا فَيَقُولانِ إِلَيْكَ عَنَّا فَإِنَّا نُرِيدُ أَنْ نَسْأَلَهُ، فَيَقُولُ: وَاللَّهِ مَا أَنَا بِمُفَارِقِهِ أَبَدًا حَتَّى أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، فَإِنْ كُنْتُمَا أمرتما فِيهِ بشئ فَشَأْنُكُمَا. قَالَ: ثُمَّ يَنْظُرُ إِلَيْهِ فَيَقُولُ هَلْ تَعْرِفُنِي؟ فَيَقُولُ: مَا أَعْرِفُكَ فَيَقُولُ: أَنَا الْقُرْآنُ الَّذِي كنت أسهر ليلك وأظمى نَهَارَكَ وَأَمْنَعُكَ شَهْوَتَكَ وَسَمْعَكَ وَبَصَرَكَ فأبشر فَمَا عَلَيْك بعد مَسْأَلَة مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ مِنْ هَمٍّ وَلا حَزَنٍ

Ibnu Jauzi mengatakan hadis itu maudhu karena ada perawi yang bernama Al Kudaimi. Tetapi Imam Suyuti menyebut Al Kudaimi terlepas dari hadis ini karena banyak hadis serupa yang tidak melalui jalur Al Kudaimi. 

Dengan kata lain, banyak hadis pendukung yang menguatkan hadis di atas. Karena itu Tengku Alizar menyebut hadis yang menceritakan persahabatan Al Qur’an dengan pembacanya itu kualitasnya hasan lighairihi.

Hadis dengan makna tersebut juga sering dibacakan oleh kawan-kawan Jamaah Tabligh saat taklim di masjid. Karena memang juga dimuat dalam kitab Fadhailul ‘Amal (keutamaan amal).

Syeh Ali Jaber di kala hayatnya sering menceramahkan kisah yang ada dalam hadis tersebut. Bahkan dengan penjelasan yang lebih panjang dan gamblang. Pendengar yang ikhlas pasti termotivasi dengan kisah seperti itu.

Bagi yang belum bisa membaca Al Qur'an akan berusaha sekuat tenaga belajar membaca, bagi yang sudah mampu membaca akan membacanya setiap hari dan bagi yang sudah menghafal akan menambah hafalannya hingga khatam.

Bergembiralah para penghafal Al Qur’an, karena mereka pasti mengaji setiap hari untuk menjaga hafalannya. Murajaah (mengulangi hafalan) menjadi kegiatan rutin yang tidak pernah alpa dilakukan dalam hidupnya.

Di alam kubur yang identik dengan sepi dan sunyi ternyata ada cara untuk mendapatkan kawan sepanjang masa. Dialah Al Qur’an yang dibaca oleh manusia mukmin di kala hidupnya. Dibaca dengan cara dihafal maupun dengan membaca mushaf Al Qur’an.

Seandainya Syeikh Ali Jaber dapat kembali bercerita, tentu semua orang akan semakin mantab dengan kabar gembira ini. Kabar dari kubur yang luar biasa. Sebuah kenikmatan bagi para pengkhidmat Al Qur’an.

Karena Syeikh dari Madinah itu juga memberi penjelasan. Bukan hanya orang-orang yang secara formal menghafal dan membaca Al Qur’an yang akan mendapatkan syafaat Al Qur’an, tetapi juga para aghniya (dermawan) yang membantu menyediakan fasilitas untuk belajar Al Qur’an. Para pengurus yang mewakafkan dirinya untuk mengurusi majelis Al Qur’an dan siapa saja yang terlibat dalam memuliakan Al Qur’an.

Syafaat Al Qur’an begitu nyata, di mata orang yang beriman. Karena itu mumpung masih diberi kesempatan hidup, alangkah indahnya jika hari-hari dari sisa hidup ini diisi dengan memperbanyak membaca Al Qur’an. Sehingga di kala kesunyian menimpa pada umumnya orang yang ada di kubur, para pembaca Al Qur’an dalam kesenangan, karena ditemani oleh Al Qur’an. 

Wallahua’lam.